Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang.
Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung.
Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan. Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut.
Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yangmelihatnya.
Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya.
Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampung mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut.
Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.
************ ********* **
Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap ba’da dzuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga!
Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga. Luqman pun lalu menegurnya. Cuma,ya itu tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar.
"Bismillah..." ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya.
Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini.
Kalau memang bocah itu "bocah beneran" pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu.
Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya.
"Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?" tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman.
"Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa," jawab Luqman dengan halus,"apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu."
Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi.
"Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya...?! Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar bulan puasa?
Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis?
Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal...?!
Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika adzan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian...!?"
Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela. Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar "sangat" menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba.
"Ketahuilah Tuan..., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja.
Dan ketahuilah juga, juatru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri?
Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri?
Tuan..., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula. Tuan..., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan Ramadhan ini. Apa yang telah saya
lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami...!
Tuan..., sadarkah Tuan akan ketidakabadian harta? Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih?
Tuan..., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat? Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat... Tahukah Tuan akan
adanya azab Tuhan yang akan menimpa?
Tuan..., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan..., jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan 'tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak...."
************ ********* *
Wuahh..., entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya!
Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan.
Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang
dibuatnya terbengong-bengong. Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi.
Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu.
Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman!
Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang!
Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud, dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak.
Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.
Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar.
Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya. Sekarang yang ada dipikirannya sekarang, entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang.
Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati.
Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya.
Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.
*Cerita ini diambil dari: http://jackprise.blogspot.com/2010/05/32-sebuah-kisah-di-bulan-ramadhan.html
Renungan:
1. Renungan ini bukanlah renungan Ramadhan, renungan ini berlaku untuk 12 bulan.
2. Orang yang berpuasa sejatinya masih belum bisa dikatakan ‘lapar’, bahkan berpuasa tanpa sahur pun belum, Mungkin hanya mereka para pekerja berat/fisik yang berpuasalah yang baru bisa mengerti laparnya ‘mereka’. Atau orang-orang penderita sakit lambung yang tetap berpuasa. Atau kita dapat merasakan ‘sebentar’ haus dan laparnya ‘mereka’ dengan berolahraga keras sore hari sebelum berbuka puasa.
At-Taubah, 9:35. “Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu."
Ar-Ruum, 30:38. “Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung.”
Adz-Dzaariyaat, 51:19. “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian (tidak meminta-minta).”
Al-Ma’aarij, 70:24-27. “Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.”
Al-Fajr, 89:16-18. “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku". Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin.”
----------------------
”Tidak akan berkurang harta yang dikeluarkan untuk bershadaqah.” (H.R. Muslim)
Saba’, 34:39. “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.”
Al-Anfaal, 8:3-4. “(yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.”
Blog yang berisi pilihan ilmu-ilmu terbaik yang sangat penting dan mendasar NAMUN jarang diketahui umum, sehingga diharapkan dapat merevolusi kita sebagai umat muslim. Dirangkaikan dalam program: [1] Revolusi pandangan (iman), [2] Revolusi amal, (serta revolusi kebahagiaan nantinya). Harap baca 'Pengantar' dan selamat mengikuti...^^
Minggu, 05 Agustus 2012
Sabtu, 28 Juli 2012
18 KESALAHFAHAMAN UMUM SEBAGIAN MUSLIM TERKAIT PUASA & CARA MENYIKAPINYA
Bismillah...
Setidaknya, ada 18 kesalahfahaman yang akan diuraikan dalam pembahasan kali ini, baik mengenai hadits dha’if yang perlu atau tidak perlu dipermasalahkan, maupun beberapa pemahaman yang tidak sesuai dengan dalil/nash. InsyaAllah dengan penjelasan yang mudah dimengerti:
1. Berpuasalah, maka kalian akan sehat
2. Tidurnya orang puasa adalah ibadah
3. Pembagian Ramadhan: 10 hari pertama rahmat, 10 hari kedua ampunan, 10 hari ketiga pembebasan dari api neraka
4. Amalan Ramadhan: ibdadah sunnah diganjar ibadah wajib, ibadah wajib diganjar 70 kali lipat
5. Perselisihan mengenai doa berbuka puasa
6. Meninggalkan satu hari puasa Ramadhan tanpa udzur tidak akan bisa diganti selama-lamanya
7. Penafsiran syetan dibelengu di bulan Ramadhan
8. Terburu-buru mendatangai shalat Tarawih
9. Berbuka puasa dengan yang manis
10. Adanya anggapan apabila imsak sudah tidak boleh makan/minum lagi
11. Perselisihan mengenai cara shalat lail (tarawih)
12. Perselisihan mengenai jumlah shalat tarawih 11 vs 23 rakaat
13. Tidak mendengarkan ceramah tarawih bagi ‘aliran’ tertentu
14. Meninggalkan jamaah tarawih setelah mendapat 8 rakaat
15. Anggapan bahwa shalat witir dan/atau tarawih hanya ada di bulan Ramadhan
16. Anggapan bahwa setelah shalat witir tidak boleh shalat malam lagi
17. Kekeliruan penggunaah istilah “zakat fitrah”
18. Kekeliruan pemahaman bahwa orang miskin tidak perlu zakat fithri
Selanjutnya mari kita simak seluruh penjelasan berikut dan kemudian kita sampaikan kembali kepada sesama muslim demi terciptanya pemahaman komprehensif Islam dan bersatunya umat Islam:
Pertama-tama, perlu kita pahami 3 poin penting dalam setiap pemakaian hadits:
1. Sanad (jalur periwayatan oleh para perawi hadits), sehingga dapat diketahui shahih, hasan, dha’if, atau maudhu’.
2. Matan (isi kandungan hadits):
a) Meskipun sanadnya shahih apabila ada pertentangan dengan hukum yang lebih kuat maka derajat haditsnya turun.
b) Apabila ada keterkaitan dengan hadits lain, derajat “matan” haditsnya menjadi naik (misal dari derajat “dha’if” dapat naik ke derajat “hasan lighairihi”), untuk hadits maudhu’ tidak dapat naik derajatnya.
1. Hadits tentang “Berpuasalah, maka kalian akan sehat.”
Sanad hadits ini dha’if (lemah), tetapi kebenaran perkataan ini telah jelas dan telah dibuktikan dalam dunia kedokteran. Oleh karena itu, pernyataan ini dapat kita pakai namun perkataan ini jangan kita yakini seutuhnya adalah perkataan Nabi Muhammad saw. Begitu pula dalam ceramah seharusnya tidak dinyatakan bahwa ini adalah sabda Rasulullah saw.
2. Hadits tentang “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah”
Sanad hadits ini dha’if, ditambah dengan kandungan haditsnya yang SANGAT ANEH. Sungguh ini hanyalah alasan bagi pemalas. Bagaimana mungkin tidur adalah ibadah sementara pena diangkat (malaikat berhenti mencatat) ketika manusia itu tidur?
Hadits prinsip: “Diangkat pena dari tiga golongan; dari orang yang TIDUR hingga dia bangun, dari anak KECIL hingga dia baligh, dan dari orang GILA hingga dia berakal sehat.” (H.R. Abu Dawud)
*Maksud diangkat pena adalah tidak dihishab atau dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.
**Dan andaikan ada ibadah maka bukan tidurnya, tetapi dzikirnya sebelum tidur.
***Terakhir, ingatlah bahwa Indonesia merdeka ketika bulan puasa. Fatahillah merebut kembali Sunda Kelapa ketika bulan puasa. Nabi Muhammad saw. memenangkan perang Badar ketika bulan puasa, perebutan kembali Makkah, perang Khandaq, Perang Tabuk, penyebaran Islam ke Yaman, penghancuran berhala al-‘uzza, pembebasan Andalusia (Spanyol), penaklukan tentara Mongol, dan masih banyak perang lainnya. Artinya, puasa bukan untuk bermalas-malasan, tetapi untuk perjuangan, produktivitas, kinerja, belajar, dan ibadah yang optimal.
3. Hadits tentang “Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan), dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”
Sanad hadits ini dhaif, ditambah kandungan isinya yang tidak benar. Adapun yang benar adalah seluruh bulan Ramadhan itu terdapat rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka, bahkan di bulan lain pun apabila manusia bertaubat ia akan mendapatkannya pula. Contoh satu hadits saja yang menguatkan hal tersebut:
“Pada awal malam bulan Ramadhan, syetan-syetan dan jin-jin jahat dibelenggu, pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Pintu surga dibuka, tidak ada satu pintu pun yang ditutup. Kemudian Allah menyeru: ‘wahai penggemar kebaikan, rauplah sebanyak mungkin, wahai penggemar keburukan, tahanlah dirimu’. Allah pun memberikan pembebasan dari neraka bagi hamba-Nya. DAN ITU TERJADI SETIAP MALAM” (H.R. Tirmidzi, shahih)
4. Hadits tentang “Amalan sunnah di bulan Ramadhan diganjar pahala sebagaimana amalan wajib, dan amalan wajib diganjar dengan 70 kali lipat pahala ibadah wajib diluar bulan Ramadhan”
Sanad hadits ini dhaif, ditambah dengan kandungan isi yang kurang tepat.
Hadits prinsip: "Setiap amal perbuatan anak Adam - yakni manusia itu, yang berupa kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya dengan 10 KALI sehingga 700 KALI lipatnya."Allah Ta'ala berfirman: melainkan puasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku akan memberikan balasannya.” (H.R. Muslim)
Bahkan dalam Al-Quran Q.S. 2:261 dinyatakan “Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.”
5. Hadits tentang “Doa berbuka puasa”
Doa “Dzahabazhzhoma-u...” (sanad hadits ini hasan, tidak sampai shahih karena ada perawi yang tsiqah tetapi memiliki kelemahan)
Doa “Allahumma laka shumtu...” (sanad hadits ini dha’if, tetapi kandungan isinya baik dan tidak ada pertentangan sama sekali dengan kaidah/dalil Islam)
‘Risi’ kita mendengar seseorang saling menyalahkan satu sama lain hanya karena dia sebatas tahu sanad hadits yang dha’if tersebut. Dalam hal ini ada beberapa PRINSIP:
1. Terkait doa, memakai bahasa Indonesia bahkan bahasa Jawa pun boleh, tidak harus bahasa Arab.
2. Doa “Allaahumma lakashumtu...” memang dha’if, tetapi bukan masalah dha’if atau tidaknya. Yang namanya doa itu lebih kepada matan/kandungannya. Selama itu baik, dapat diambil. Tidak boleh disalahkan mentah-mentah apabila berkaitan dengan doa.
3. Doa “Allaahumma lakashumtu...” hampir mirip dengan doa “Allaahumma baariklanaa...”, yaitu pada lafaz: "razaqtanaa" mirip dengan "rizqika afthortu"; yang satu "rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami" dan yang satu "atas rezeki-Mu aku berbuka". Dalam konsep syukur, prinsip merasa segala sesuatu adalah "pemberian langsung (kebersamaan dengan Allah)" merupakan konsep syukur paling dasar dan penting. Penerapan ketika kita makan/minum, maka sedikit atau banyak kita akan sangat berterima kasih dengan Yang Memberi, karena kita menganggap itu “pemberian”. Jika kita diberi, apabila sedikit kita tetap senang dan berterima kasih meskipun lebih banyak tentu lebih senang. Hehehe.
4. Doa “Dzahabazhzhoma-u...” berdasarkan artinya (Telah hilang dahaga, telah basah tenggorokan dst...) seharusnya dibaca "setelah berbuka", bukan sebelum. Doa ini pun baik. Adapun doa "Allaahumma lakashumtu..." dapat dibaca sebelum atau setelah meskipun lebih pas "sebelum berbuka".
5. Kita jangan terjebak dalam persoalan "fiqh super cabang" seperti ini, asalkan hal itu tidak bertentangan dengan prinsip dan kaidah Islam.
6. Permasalahan shahih/tidak, dha’if/tidak, paling "diketatkan" dalam hal hukum ushul fiqh halal haram, mubah, makruh, sunnah. Berkaitan dengan yang lain, para ulama tidak ketat dalam sanad hadits. Bahkan mengamalkan hadits dha’if yang terkait "fadhilah amal" pun boleh dengan beberapa catatan. Yang penting tidak berkaitan dengan status hukum Islam.
7. Simpulan: kedua jenis doa berbuka puasa tersebut dapat diamalkan.
6. Hadits tentang “Orang yang sengaja tidak berpuasa pada suatu hari di bulan Ramadhan, padahal ia bukan orang yang diberi keringanan, ia tidak akan dapat mengganti puasanya meski berpuasa terus menerus.”
Sanad hadits ini dha’if dan isinya kurang sesuai. Allah Maha Pengampun dan menyukai orang-orang yang bertaubat dengan sebenar-benar taubat. Fatawa Lajnah Daimah Komisi Fatwa Saudi Arabia menyatakan bahwa “Seseorang yang sengaja tidak berpuasa tanpa udzur syar’i, ia harus bertaubat kepada Allah dan mengganti puasa yang telah ditinggalkannya.”
7. Hadits tentang “Apabila telah masuk bulan Ramadhan, syetan-syetan pun dibelenggu.”
Hadits ini shahih bahkan sangat shahih karena diriwiyatkan baik oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim juga terdapat matan yang sama dalam hadits lain. Namun, banyak yang menafsirkan tidak sesuai dengan haditsnya, padahal lafaz hadits tersebut cukup jelas. Hal ini karena pertanyaan mengapa kejahatan masih terjadi pada bulan Ramadhan? Mereka menyalahkan syetan (Lah, syetan disalah-salahin hehehe), padahal hal ini sebenarnya telah dijelaskan dalam Al-Quran:
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu fujuur dan taqwa.” (Q.S. Asy-Syams: 8)
Di dalam setiap diri manusia terdapat jiwa fujuur dan taqwa, jiwa buruk dan jiwa baik. Adapun pengaruh dari luar diri manusia adalah syetan. Sehingga di luar bulan Ramadhan pun apabila jiwa fujuur lebih kecil daripada jiwa taqwa (jiwa taqwa lebih besar) namun resultan dari jiwa fujuur+bujukan syetan lebih besar dari jiwa taqwa, maka yang timbul adalah tetap kejahatan. Adapun pada bulan Ramadhan, apabila seseorang masih melakukan kejahatan berarti memang jiwa fujuur sudah lebih besar daripada jiwa taqwa. Jadi jangan lagi menyalahkan syetan, OK? :D
8. Kesalahan berupa berjalan terburu-buru (bahkan lari) mendatangi shalat tarawih (shalat apapun)
Sudah deh, capek jalan tergesa-gesa. Mengganggu shalat orang lain (karena suara berisik) dan merugikan diri sendiri (karena nafas jadi tidak teratur, capek, panas, kurang khusyu’). Catatan: meskipun kita tertinggal seluruh rakaat, namun kita masih bisa duduk tasyahud akhir bersama imam; pahala jamaah tetaplah kita dapatkan. Perhatikan hadits berikut:
“Apabila kalian mendengar IQOMAH maka pergilah untuk sholat (kemasjid) dengan tenang dan tidak terburu-buru, apa yang kalian dapatkan dari rakaat sholat ikutilah dan yang tertinggal sempurnakanlah.” (H.R. Bukhari).
Abu Hurairah ra. berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Apabila SHALAT TELAH DIDIRIKAN, JANGANLAH kamu mendatanginya dengan TERGESA-GESA. Datangilah dengan berjalan yang TENANG, tunaikanlah shalat bersama mereka dan sempurnakanlah rakaat yang tertinggal.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat Muslim ada tambahan, “... Sebab sesungguhnya, bila seorang di antara kamu sudah menuju shalat, berarti ia sudah shalat.”
9. Anggapan keliru yang meyakini adanya hadits untuk berbuka dengan yang manis
Tidak ada hadits yang menyatakan bahwa berbukalah dengan yang manis. Itu bukanlah hadits namun hanyalah sebuah isu/gosip. Adapun sunnahnya adalah berbuka dengan kurma. Mentang-mentang buah kurma itu manis, kemudian menganggap sunnah berbuka dengan yang manis, tentu sifat kurma berbeda.
Fakta: beberapa orang apabila berbuka dengan buah manis selain kurma malah sakit perut/lambung, berbuka dengan yang manis tubuh cepat lemas+cepat lapar+mengantuk, dan apabila kebanyakan manisan kalori menumpuk => alhasil puasa malah tambah gemuk hehehe.
Penelitian: dalam keadaaan perut kosong kemudian makan makanan manis-manis yang penuh dengan gula (karbohidrat sederhana) justru merusak kesehatan. Sedangkan kurma adalah karbohidrat kompleks, bukan “gula” (karbohidrat sederhana). Dan hanya dengan beberapa butir kurma kalorinya sama dengan sepiring nasi. Tinjauan ilmiah penelitian ini dapat Anda cari di google “berbuka dengan yang manis merusak kesehatan”.
“Jika seorang dari kalian berbuka puasa, maka berbukalah dengan kurma. Jika tidak ada kurma, maka berbukalah dengan air, karena sesungguhnya air itu dapat memebrsihkan (mensucikan).” (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi. Ia berkata, “hadits ini hasan shahih”)
Anas bin Malik berkata: “Adalah Nabi berbuka dengan ruthab (kurma matang berair) sebelum shalat (Maghrib), bila tidak ada ruthab maka dengan tamar (kurma matang kering), bila tidak ada maka dengan beberapa teguk air.” (H.R. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ad-Daruquthni, dengan sanad shahih).
Jadi, apabila berbuka dengan banyak yang manis-manis: bersiaplah!, berbuka dengan manis sekedarnya: boleh-boleh, berbuka sesuai hadits Nabi: selamat-selamat! (:salaman)
10. Anggapan sebagian orang bahwa setelah imsak tidak boleh makan/minum lagi
Tidak pernah disebutkan bahwa puasa adalah menahan makan/minum dari imsak s.d. terbenam matahari. Yang benar adalah sejak masuk waktu fajar (ditandai dengan adzan shubuh), bahkan dalam beberapa hadits “shahih” apabila adzan sudah berkumandang tetapi kita sedang minum air dalam sebuah gelas yang sedang kita minum maka tetap boleh melanjutkan minum tersebut, meskipun hal ini juga menjadi perbedaan pendapat lagi karena di zaman dulu kan tidak ada ilmu hisab untuk menentukan jadwal tepat shalat lima waktu, tidak ada jam yang seperti sekarang ini, dan tidak ada alarm tidur.
“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar” (Q.S. Al-Baqarah: 187)
Adapun tidak tepat pula apabila imsak dianggap “bid’ah tercela” hanya karena hal ini tidak terdapat di zaman Rasulullah saw. Imsak menurut para ulama diperbolehkan karena hanya bersifat kehati-hatian dan tidak menyalahi prinsip hukum Islam.
11. Perselisihan mengenai cara shalat lail (tarawih)
Nabi Muhammad saw. sendiri melakukan shalat malam dengan berbagai macam CARA dan berbagai macam JUMLAH rakaat, baik dengan didahului shalat IFTITAH 2 rakaat ringan atau tidak, baik shalat lagi setelah shalat WITIR atau tidak, baik shalat dua rakaat salam, 4 rakaat salam, 8 rakaat salam, witir 1 rakaat, 3 rakaat, 5 rakaat, dst. Jadi misalnya apabila seseorang biasa tarawih 4-4-3 maka tidak masalah apabila dalam suatu masjid ternyata ia mengikuti tarawih dengan 2-2-2-2-3, dst.
12. Perdebatan/perselisihan mengenai jumlah shalat tarawih 11 vs 23 rakaat
Jangankan 23 rakaat, generasi terdahulu saja ada yang sampai 39 bahkan 49 rakaat.
Prinsip 1: Jangan meributkan hal-hal yang hukumnya sunnah. Apabila ditanya, “Mana yang salah, 11 atau 23 rakaat?” jawab, “Gak tarawih aja gak salah”. Apabila ditanya, “Mana yang lebih utama, pakai qunut atau tidak?” jawab, “Yang lebih utama yang lebih khusyu’ shalatnya”. “Jadi bagus mana 11 atau 23 rakaat?” jawab, “Sudah dibilang tergantung khusyu’nya, kan ada riwayat atsar ‘Dua orang melakukan shalat yang sama, tetapi perbedaan keutamaan antara keduanya bisa SEJAUH LANGIT DAN BUMI ...’”
Prinsip 2: Pada hakikatnya shalat malam itu jumlahnya tidak terbatas, “semampunya”, adapun jumlah 11 dan lainnya merupakan jumlah yang disukai Nabi, bukan berarti tidak boleh lebih dari itu.
Filosofi yang terabaikan: Dari banyak riwayat Rasulullah memang sering shalat malam 11 rakaat. Kemudian ketika masa khalifah Umar, bulan Ramadhan orang-orang libur bekerja dan hanya fokus beribadah sehingga masjid penuh. Oleh karena itu karena pada semangat beribadah maka mulai pada masa Umar bin Khatthab mulai dikenal 23 rakaat (sebenarnya pada masa Umar ada riwayat 11, ada pula 23, artinya pada suatu waktu 11 dan pada suatu waktu 23 rakaat). Dan 23 rakaat ini DILAKUKAN PULA oleh khalifah Utsman, Ali, sampai masa Bani Umayyah. Kemudian pada masa keemasan Umar Bin Abdul ‘Aziz ketika masyarakat sudah sangat maju dan makmur, bahkan ketika harta baitul maal dibagi-bagikan tidak mau diambil, sehingga hasrat mencari dunia sudah terpenuhi, oleh karena itu mulai masa ini shalat menjadi 36+3=39 rakaat. Begitu perkembangan seterusnya hingga ada pula riwayat 41, 47, sampai 49 rakaat. Sedangkan MAZHAB YANG EMPAT: Imam Hanafi, Imam Ahmad, dan Imam Syafi’i adalah 23 RAKAAT, sedangkan mazhab Imam Maliki 39 rakaat (riwayat yang lain 49 rakaat). Dan dulu masjid Madinah shalatnya 39 RAKAAT (16 [4x4] rakaat yang ditambahkan dari 20 rakaat adalah untuk berusaha menyamai pahala orang Makkah yang dalam 4x istirahat tarawihnya melakukan 4x thawaf). Dan perlu diketahui pula bahwa SEKARANG Masjid Al-Haram Makkah dan Masjid An-Nabawi Madinah shalat tarawih 20 rakaat dan 3 rakaat witir. Jadi pengikut 11 jangan sekali-kali menyalahkan atau membid’ahkan pengikut 23! Satu sama lain tidak boleh saling menyalahkan, karena masih dalam satu ‘koridor’ yang sama.
Pertanyaan: Bid’ahkan itu semua yang menyelisihi Nabi? Shalat 23 rakaat yang dipelopori Umar Bin Khatthab termasuk bid’ah hasanah. Umar ra. sendiri yang menyatakan bahwa “inilah sebaik-baik bid’ah”. Ada yang membantah bahwa shalat tarawih berjamaah bukan bid’ah karena Nabi Muhammad saw. pernah melakukannya. Yap benar sekali, tetapi menjadikan shalat tarawih setelah shalat isya’ selalu berjamaah sebulan penuh itulah bid’ah! Sekali lagi, bid’ah hasanah.
Tinjauan fiqh: Selama ini ramai umat muslim terjebak dalam potongan hadits “semua bid’ah adalah sesat dan semua yang sesat tempatnya adalah di neraka” sehingga mereka tidak mengakui adanya bid’ah hasanah bahkan seringkali memicu perselisihan. Hei kawan, tolong jangan tergesa-gesa dulu, Anda harus mempelajari SEMUA hadits yang terkait dengan bid’ah disertai pembahasan dari sisi ushul fiqhnya. Sekali lagi, suatu perbuatan yang baru harus diserahkan kepada pakar ushul fiqh (tidak bisa hanya kepada ustadz biasa), apakah termasuk bid’ah yang baik atau buruk.
Oleh karena itulah, pencetus ilmu ushul fiqh pertama, Imam Syafi’i dan kitab ushul fiqh-nya “Ar-Risalah” yang menjadi rujukan utama sampai saat ini berkata demikian:
“Bid’ah itu ada dua, bid’ah mahmudah (yang terpuji) dan bid’ah madzmumah (yang tercela). Bid’ah yang sesuai dengan Sunnah adalah bid’ah yang terpuji. Sedangkan yang bertentangan dengan Sunnah adalah bid’ah yang tercela.” [Imam Syafi’i]
13. Tidak mendengarkan ceramah tarawih bagi ‘aliran’ tertentu
Ketika penulis pernah menanyakan kepada orang yang tidak mau mendengarkan ceramah tarawih (sambil sibuk membaca Al-Quran di tengah-tengah jamaah), ia menjawab tegas yang intinya “yang wajib hanya mendengarkan khutbah jumat, dan ceramah tarawih ini tidak ada dalam sunnah Nabi”. Astaghfirullah. Sungguh telah teracuni pemikiran yang amat fanatik! Ini berkaitan dengan kesalahfahaman sebelumnya, yaitu mengenai bid’ah. Bahwa TIDAK SETIAP YANG TIDAK ADA DI ZAMAN NABI ITU SESAT, TETAPI HARUS DIKAJI DARI SISI FIQH. Maka baca, baca, dan terus belajar (karena ilmu itu tak terbatas).
14. Meninggalkan jamaah tarawih setelah mendapat 8 rakaat
Pemandangan ini sudah cukup banyak terjadi, baik pada masjid yang 11 apalagi 23 rakaat. Jelas merugi bagi yang melakukannya.
“Orang yang shalat tarawih mengikuti imam SAMPAI SELESAI, ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk.” (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)
Dalam lafaz yang lain “Ditulis baginya pahala shalat di sisa malamnya” (HR. Ahmad)
Berkaitan dengan hal ini, agar seseorang tetap dapat mendapatkan pahala utuh tersebut, apabila ia tidak terbiasa shalat 23 rakaat, seharusnya ia mencari masjid lain yang 11 rakaat, dan bukan berjamaah di masjid yang 23 rakaat tetapi meninggalkan masjid setelah 8 rakaat.
15. Anggapan bahwa shalat witir dan/atau tarawih hanya ada di bulan Ramadhan
Sama saja di bulan Ramadhan atau tidak, shalat malam itu “biasa” dilakukan 11 rakaat. Meskipun Nabi saw. pun tidak selalu 11 rakaat melakukannya, kadang kurang kadang lebih.
“Dari Aisyah ra., katanya: "Rasulullah saw. tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat - sunnah, BAIK DALAM BULAN RAMADHAN ATAUPUN SELAIN RAMADHAN. Beliau saw. bersembahyang 4 rakaat, maka janganlah engkau bertanya betapa indah dan panjangnya, kemudian bersembahyang lagi 4 rakaat, maka jangan pula engkau bertanya betapa indah dan panjangnya, kemudian bersembahyang 3 rakaat.” (Muttafaq ‘alaih, shahih)
*CATATAN: mengenai cara dan jumlah rakaat terdapat banyak hadits yang menerangkannya. Bahkan sama-sama dari Aisyah dalam hadits shahih yang lain disebutkan bahwa Nabi shalat setiap 2 rakaat salam. Bukan berarti bahwa ini bertentangan (Pepatah “Jika kamu melihat ada sesuatu yang salah, MUNGKIN kesalahannya bukan pada apa yang kamu lihat, tapi bagaimana caramu melihat”). Sehingga ini dapat dipahami bahwa pada suatu waktu Rasulullah selalu shalat malam 4-4-3, dan pada suatu periode lain ternyata Rasulullah saw. shalat dengan 2 rakaat salam, dan Aisyah mengatakan sesuai kondisi yang ia lihat pada waktu itu.
16. Anggapan bahwa setelah shalat witir tidak boleh shalat malam lagi
Pendapat yang seperti ini lemah. Namun, mayoritas ulama sepakat bahwa shalat witir bukanlah penutup shalat malam, tetapi pengganjil shalat malam. Ada banyak alasan yang menguatkan hal ini:
a. Karena Allah itu witir (ganjil) dan menyukai yang ganjil. “Sesungguhnya, Allah itu witir (ganjil) dan menyukai pada yang ganjil, maka shalat witirlah kalian, wahai ahli Quran.” (H.R. Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i, Al-Hakim, dan Ahmad)
b. Karena dalam beberapa hadits shahih bahwa Rasulullah saw. pun melakukan shalat sunnah dua rakaat setelah shalat witir.
c. Kalau kita melihat hadist shahih yang mereka gunakan yaitu “Aj’aluu aakhira shalaatikum billaili witran.” Lihatlah “ruh” dari kandungan hadits ini adalah shalat witir untuk mengganjili shalat malam. Dan ini didukung dengan hadits shahih muttafaq ‘alaihi “Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Jika engkau khawatir akan datangnya fajar maka shalatlah 1 rakaat AGAR JUMLAH RAKAATNYA GANJIL”. Ya, karena Allah menyukai yang ganjil terkait hal apa saja sebagaimana berbuka dengan 3 kurma, mencuci 3x, istighfar 3x, dzikir 33x, sa’i 7x, thawaf 7x, melontar jumrah masing-masing 7x di 3 tempat, 7 lapis, dst...
d. Karena dibalik hadits shahih “Tidak ada dua witir dalam satu malam” mengandung makna tersirat bisa shalat malam dua kali namun hanya boleh shalat witir satu kali.
e. Karena shalat witir di akhir (penutup) malam itu menunjukkan keutamaan dan bukan merupakan keharusan sebagaimana hadits shahih Muslim “Maka hendaklah berwitir di akhir malam, karena sesungguhnya shalat akhir malam itu disaksikan oleh para malaikat dan yang sedemikian itulah yang LEBIH UTAMA." Dan didukung dengan H.R. Abu Dawud ketika Umar biasa melakukan shalat witir di akhir malam maka Rasulullah saw. menjawab “Engkau Umar, berpegang pada KEUNGGULAN”.
f. Karena Rasulullah saw pun dalam hadits shahihnya (karena sunnah muakkadnya shalat witir) pernah menyuruh sahabatnya untuk “tidak tidur sebelum menunaikan shalat witir”, dan ini sama sekali tidak berarti bahwa Nabi melarang shalat malam lagi apabila bangun di tengah malam.
g. Karena dalam hadits shahih Bukhari Muslim juga Rasulullah saw. pernah mengerjakan shalat witir pada permulaan malam, pernah pada tengah malam, dan pernah pada akhir malam.
h. Karena dalam H.R. Abu Dawud ketika Abu Bakar ditanya tentang kapan biasanya melakukan shalat witir maka ia menajwab "Saya biasa melakukannya pada awal malam selepas isya'," jawab Abu Bakar.
i. Karena kandungan H.R. Tirmidzi, Abu Dawud, Nasai, Ahmad disebutkan bahwa Thalq bin Ali pernah berpergian kemudian shalat malam dan witir. Setelah kembali ke kampungnya, ia menjadi imam shalat malam lagi setelah selesai berpergian, namun ketika sudah mau shalat witir ia menyuruh orang lain menjadi imam karena ia sudah shalat witir. Dst...
*Dengan demikian, sungguh beruntung bagi siapa saja yang shalat tarawih bersama imam sampai selesai kemudian melakukan shalat tahajjud semampunya sebelum makan sahur.
17. Kekeliruan penggunaah istilah “zakat fitrah”
Zakat yang diwajibkan pada akhir bulan puasa yang benar adalah “zakat fithri”. Filosofi kewajiban zakat ini timbul karena mencapai ‘Idul Fithri, bukan ‘Idul Fitrah. Kata “fithri” yang bermakna kembali berbuka (kembali tidak berpuasa) sangat berbeda dengan fitrah yang bermakna suci seperti bayi. Karena dengan zakat tersebut tidak menyebabkan seseorang bisa suci seperti bayi baru lahir, tidak, ia hanya membersihkan dosa-dosa kecil, untuk dosa-dosa besar harus dilakukan dengan taubat.
18. Kekeliruan pemahaman bahwa orang miskin tidak perlu zakat fithri
Kewajiban zakat fithri timbul karena kita memiliki kelebihan makanan atau hartanya dari keperluan tanggungannya pada malam dan pagi hari raya ‘Idul Fithri. Perhatikan kembali syarat zakat tersebut, pengertian mampu di sini ialah yang memiliki “kelebihan makanan”. Sehingga sebenarnya untuk mensucikan dosa-dosa kecilnya, para fakir miskin pun apabila memiliki kelebihan makanan tetap wajb mengeluarkan zakat fithri, MESKIPUN pada akhirnya mereka juga lah yang akan menerima zakat fithri dari orang lain. Tetapi yang penting, kewajiban telah ditunaikan. Karena pada prinsipnya kewajiban zakat fithri adalah untuk semua muslim tanpa membedakan laki-laki-perempuan, bayi-anak-dewasa, kaya-miskin. Berbeda dengan kewajian zakat maal/harta/pemghasilan yang hanya diwajibkan untuk orang yang kaya (nishab terpenuhi).
“Dan Allah Tuhan Yang Maha Mengetahui.”
*GKPI: Gerakan Komprehensif Pemahaman Islam
Setidaknya, ada 18 kesalahfahaman yang akan diuraikan dalam pembahasan kali ini, baik mengenai hadits dha’if yang perlu atau tidak perlu dipermasalahkan, maupun beberapa pemahaman yang tidak sesuai dengan dalil/nash. InsyaAllah dengan penjelasan yang mudah dimengerti:
1. Berpuasalah, maka kalian akan sehat
2. Tidurnya orang puasa adalah ibadah
3. Pembagian Ramadhan: 10 hari pertama rahmat, 10 hari kedua ampunan, 10 hari ketiga pembebasan dari api neraka
4. Amalan Ramadhan: ibdadah sunnah diganjar ibadah wajib, ibadah wajib diganjar 70 kali lipat
5. Perselisihan mengenai doa berbuka puasa
6. Meninggalkan satu hari puasa Ramadhan tanpa udzur tidak akan bisa diganti selama-lamanya
7. Penafsiran syetan dibelengu di bulan Ramadhan
8. Terburu-buru mendatangai shalat Tarawih
9. Berbuka puasa dengan yang manis
10. Adanya anggapan apabila imsak sudah tidak boleh makan/minum lagi
11. Perselisihan mengenai cara shalat lail (tarawih)
12. Perselisihan mengenai jumlah shalat tarawih 11 vs 23 rakaat
13. Tidak mendengarkan ceramah tarawih bagi ‘aliran’ tertentu
14. Meninggalkan jamaah tarawih setelah mendapat 8 rakaat
15. Anggapan bahwa shalat witir dan/atau tarawih hanya ada di bulan Ramadhan
16. Anggapan bahwa setelah shalat witir tidak boleh shalat malam lagi
17. Kekeliruan penggunaah istilah “zakat fitrah”
18. Kekeliruan pemahaman bahwa orang miskin tidak perlu zakat fithri
Selanjutnya mari kita simak seluruh penjelasan berikut dan kemudian kita sampaikan kembali kepada sesama muslim demi terciptanya pemahaman komprehensif Islam dan bersatunya umat Islam:
Pertama-tama, perlu kita pahami 3 poin penting dalam setiap pemakaian hadits:
1. Sanad (jalur periwayatan oleh para perawi hadits), sehingga dapat diketahui shahih, hasan, dha’if, atau maudhu’.
2. Matan (isi kandungan hadits):
a) Meskipun sanadnya shahih apabila ada pertentangan dengan hukum yang lebih kuat maka derajat haditsnya turun.
b) Apabila ada keterkaitan dengan hadits lain, derajat “matan” haditsnya menjadi naik (misal dari derajat “dha’if” dapat naik ke derajat “hasan lighairihi”), untuk hadits maudhu’ tidak dapat naik derajatnya.
1. Hadits tentang “Berpuasalah, maka kalian akan sehat.”
Sanad hadits ini dha’if (lemah), tetapi kebenaran perkataan ini telah jelas dan telah dibuktikan dalam dunia kedokteran. Oleh karena itu, pernyataan ini dapat kita pakai namun perkataan ini jangan kita yakini seutuhnya adalah perkataan Nabi Muhammad saw. Begitu pula dalam ceramah seharusnya tidak dinyatakan bahwa ini adalah sabda Rasulullah saw.
2. Hadits tentang “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah”
Sanad hadits ini dha’if, ditambah dengan kandungan haditsnya yang SANGAT ANEH. Sungguh ini hanyalah alasan bagi pemalas. Bagaimana mungkin tidur adalah ibadah sementara pena diangkat (malaikat berhenti mencatat) ketika manusia itu tidur?
Hadits prinsip: “Diangkat pena dari tiga golongan; dari orang yang TIDUR hingga dia bangun, dari anak KECIL hingga dia baligh, dan dari orang GILA hingga dia berakal sehat.” (H.R. Abu Dawud)
*Maksud diangkat pena adalah tidak dihishab atau dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.
**Dan andaikan ada ibadah maka bukan tidurnya, tetapi dzikirnya sebelum tidur.
***Terakhir, ingatlah bahwa Indonesia merdeka ketika bulan puasa. Fatahillah merebut kembali Sunda Kelapa ketika bulan puasa. Nabi Muhammad saw. memenangkan perang Badar ketika bulan puasa, perebutan kembali Makkah, perang Khandaq, Perang Tabuk, penyebaran Islam ke Yaman, penghancuran berhala al-‘uzza, pembebasan Andalusia (Spanyol), penaklukan tentara Mongol, dan masih banyak perang lainnya. Artinya, puasa bukan untuk bermalas-malasan, tetapi untuk perjuangan, produktivitas, kinerja, belajar, dan ibadah yang optimal.
3. Hadits tentang “Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan), dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”
Sanad hadits ini dhaif, ditambah kandungan isinya yang tidak benar. Adapun yang benar adalah seluruh bulan Ramadhan itu terdapat rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka, bahkan di bulan lain pun apabila manusia bertaubat ia akan mendapatkannya pula. Contoh satu hadits saja yang menguatkan hal tersebut:
“Pada awal malam bulan Ramadhan, syetan-syetan dan jin-jin jahat dibelenggu, pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Pintu surga dibuka, tidak ada satu pintu pun yang ditutup. Kemudian Allah menyeru: ‘wahai penggemar kebaikan, rauplah sebanyak mungkin, wahai penggemar keburukan, tahanlah dirimu’. Allah pun memberikan pembebasan dari neraka bagi hamba-Nya. DAN ITU TERJADI SETIAP MALAM” (H.R. Tirmidzi, shahih)
4. Hadits tentang “Amalan sunnah di bulan Ramadhan diganjar pahala sebagaimana amalan wajib, dan amalan wajib diganjar dengan 70 kali lipat pahala ibadah wajib diluar bulan Ramadhan”
Sanad hadits ini dhaif, ditambah dengan kandungan isi yang kurang tepat.
Hadits prinsip: "Setiap amal perbuatan anak Adam - yakni manusia itu, yang berupa kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya dengan 10 KALI sehingga 700 KALI lipatnya."Allah Ta'ala berfirman: melainkan puasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku akan memberikan balasannya.” (H.R. Muslim)
Bahkan dalam Al-Quran Q.S. 2:261 dinyatakan “Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.”
5. Hadits tentang “Doa berbuka puasa”
Doa “Dzahabazhzhoma-u...” (sanad hadits ini hasan, tidak sampai shahih karena ada perawi yang tsiqah tetapi memiliki kelemahan)
Doa “Allahumma laka shumtu...” (sanad hadits ini dha’if, tetapi kandungan isinya baik dan tidak ada pertentangan sama sekali dengan kaidah/dalil Islam)
‘Risi’ kita mendengar seseorang saling menyalahkan satu sama lain hanya karena dia sebatas tahu sanad hadits yang dha’if tersebut. Dalam hal ini ada beberapa PRINSIP:
1. Terkait doa, memakai bahasa Indonesia bahkan bahasa Jawa pun boleh, tidak harus bahasa Arab.
2. Doa “Allaahumma lakashumtu...” memang dha’if, tetapi bukan masalah dha’if atau tidaknya. Yang namanya doa itu lebih kepada matan/kandungannya. Selama itu baik, dapat diambil. Tidak boleh disalahkan mentah-mentah apabila berkaitan dengan doa.
3. Doa “Allaahumma lakashumtu...” hampir mirip dengan doa “Allaahumma baariklanaa...”, yaitu pada lafaz: "razaqtanaa" mirip dengan "rizqika afthortu"; yang satu "rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami" dan yang satu "atas rezeki-Mu aku berbuka". Dalam konsep syukur, prinsip merasa segala sesuatu adalah "pemberian langsung (kebersamaan dengan Allah)" merupakan konsep syukur paling dasar dan penting. Penerapan ketika kita makan/minum, maka sedikit atau banyak kita akan sangat berterima kasih dengan Yang Memberi, karena kita menganggap itu “pemberian”. Jika kita diberi, apabila sedikit kita tetap senang dan berterima kasih meskipun lebih banyak tentu lebih senang. Hehehe.
4. Doa “Dzahabazhzhoma-u...” berdasarkan artinya (Telah hilang dahaga, telah basah tenggorokan dst...) seharusnya dibaca "setelah berbuka", bukan sebelum. Doa ini pun baik. Adapun doa "Allaahumma lakashumtu..." dapat dibaca sebelum atau setelah meskipun lebih pas "sebelum berbuka".
5. Kita jangan terjebak dalam persoalan "fiqh super cabang" seperti ini, asalkan hal itu tidak bertentangan dengan prinsip dan kaidah Islam.
6. Permasalahan shahih/tidak, dha’if/tidak, paling "diketatkan" dalam hal hukum ushul fiqh halal haram, mubah, makruh, sunnah. Berkaitan dengan yang lain, para ulama tidak ketat dalam sanad hadits. Bahkan mengamalkan hadits dha’if yang terkait "fadhilah amal" pun boleh dengan beberapa catatan. Yang penting tidak berkaitan dengan status hukum Islam.
7. Simpulan: kedua jenis doa berbuka puasa tersebut dapat diamalkan.
6. Hadits tentang “Orang yang sengaja tidak berpuasa pada suatu hari di bulan Ramadhan, padahal ia bukan orang yang diberi keringanan, ia tidak akan dapat mengganti puasanya meski berpuasa terus menerus.”
Sanad hadits ini dha’if dan isinya kurang sesuai. Allah Maha Pengampun dan menyukai orang-orang yang bertaubat dengan sebenar-benar taubat. Fatawa Lajnah Daimah Komisi Fatwa Saudi Arabia menyatakan bahwa “Seseorang yang sengaja tidak berpuasa tanpa udzur syar’i, ia harus bertaubat kepada Allah dan mengganti puasa yang telah ditinggalkannya.”
7. Hadits tentang “Apabila telah masuk bulan Ramadhan, syetan-syetan pun dibelenggu.”
Hadits ini shahih bahkan sangat shahih karena diriwiyatkan baik oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim juga terdapat matan yang sama dalam hadits lain. Namun, banyak yang menafsirkan tidak sesuai dengan haditsnya, padahal lafaz hadits tersebut cukup jelas. Hal ini karena pertanyaan mengapa kejahatan masih terjadi pada bulan Ramadhan? Mereka menyalahkan syetan (Lah, syetan disalah-salahin hehehe), padahal hal ini sebenarnya telah dijelaskan dalam Al-Quran:
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu fujuur dan taqwa.” (Q.S. Asy-Syams: 8)
Di dalam setiap diri manusia terdapat jiwa fujuur dan taqwa, jiwa buruk dan jiwa baik. Adapun pengaruh dari luar diri manusia adalah syetan. Sehingga di luar bulan Ramadhan pun apabila jiwa fujuur lebih kecil daripada jiwa taqwa (jiwa taqwa lebih besar) namun resultan dari jiwa fujuur+bujukan syetan lebih besar dari jiwa taqwa, maka yang timbul adalah tetap kejahatan. Adapun pada bulan Ramadhan, apabila seseorang masih melakukan kejahatan berarti memang jiwa fujuur sudah lebih besar daripada jiwa taqwa. Jadi jangan lagi menyalahkan syetan, OK? :D
8. Kesalahan berupa berjalan terburu-buru (bahkan lari) mendatangi shalat tarawih (shalat apapun)
Sudah deh, capek jalan tergesa-gesa. Mengganggu shalat orang lain (karena suara berisik) dan merugikan diri sendiri (karena nafas jadi tidak teratur, capek, panas, kurang khusyu’). Catatan: meskipun kita tertinggal seluruh rakaat, namun kita masih bisa duduk tasyahud akhir bersama imam; pahala jamaah tetaplah kita dapatkan. Perhatikan hadits berikut:
“Apabila kalian mendengar IQOMAH maka pergilah untuk sholat (kemasjid) dengan tenang dan tidak terburu-buru, apa yang kalian dapatkan dari rakaat sholat ikutilah dan yang tertinggal sempurnakanlah.” (H.R. Bukhari).
Abu Hurairah ra. berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Apabila SHALAT TELAH DIDIRIKAN, JANGANLAH kamu mendatanginya dengan TERGESA-GESA. Datangilah dengan berjalan yang TENANG, tunaikanlah shalat bersama mereka dan sempurnakanlah rakaat yang tertinggal.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat Muslim ada tambahan, “... Sebab sesungguhnya, bila seorang di antara kamu sudah menuju shalat, berarti ia sudah shalat.”
9. Anggapan keliru yang meyakini adanya hadits untuk berbuka dengan yang manis
Tidak ada hadits yang menyatakan bahwa berbukalah dengan yang manis. Itu bukanlah hadits namun hanyalah sebuah isu/gosip. Adapun sunnahnya adalah berbuka dengan kurma. Mentang-mentang buah kurma itu manis, kemudian menganggap sunnah berbuka dengan yang manis, tentu sifat kurma berbeda.
Fakta: beberapa orang apabila berbuka dengan buah manis selain kurma malah sakit perut/lambung, berbuka dengan yang manis tubuh cepat lemas+cepat lapar+mengantuk, dan apabila kebanyakan manisan kalori menumpuk => alhasil puasa malah tambah gemuk hehehe.
Penelitian: dalam keadaaan perut kosong kemudian makan makanan manis-manis yang penuh dengan gula (karbohidrat sederhana) justru merusak kesehatan. Sedangkan kurma adalah karbohidrat kompleks, bukan “gula” (karbohidrat sederhana). Dan hanya dengan beberapa butir kurma kalorinya sama dengan sepiring nasi. Tinjauan ilmiah penelitian ini dapat Anda cari di google “berbuka dengan yang manis merusak kesehatan”.
“Jika seorang dari kalian berbuka puasa, maka berbukalah dengan kurma. Jika tidak ada kurma, maka berbukalah dengan air, karena sesungguhnya air itu dapat memebrsihkan (mensucikan).” (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi. Ia berkata, “hadits ini hasan shahih”)
Anas bin Malik berkata: “Adalah Nabi berbuka dengan ruthab (kurma matang berair) sebelum shalat (Maghrib), bila tidak ada ruthab maka dengan tamar (kurma matang kering), bila tidak ada maka dengan beberapa teguk air.” (H.R. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ad-Daruquthni, dengan sanad shahih).
Jadi, apabila berbuka dengan banyak yang manis-manis: bersiaplah!, berbuka dengan manis sekedarnya: boleh-boleh, berbuka sesuai hadits Nabi: selamat-selamat! (:salaman)
10. Anggapan sebagian orang bahwa setelah imsak tidak boleh makan/minum lagi
Tidak pernah disebutkan bahwa puasa adalah menahan makan/minum dari imsak s.d. terbenam matahari. Yang benar adalah sejak masuk waktu fajar (ditandai dengan adzan shubuh), bahkan dalam beberapa hadits “shahih” apabila adzan sudah berkumandang tetapi kita sedang minum air dalam sebuah gelas yang sedang kita minum maka tetap boleh melanjutkan minum tersebut, meskipun hal ini juga menjadi perbedaan pendapat lagi karena di zaman dulu kan tidak ada ilmu hisab untuk menentukan jadwal tepat shalat lima waktu, tidak ada jam yang seperti sekarang ini, dan tidak ada alarm tidur.
“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar” (Q.S. Al-Baqarah: 187)
Adapun tidak tepat pula apabila imsak dianggap “bid’ah tercela” hanya karena hal ini tidak terdapat di zaman Rasulullah saw. Imsak menurut para ulama diperbolehkan karena hanya bersifat kehati-hatian dan tidak menyalahi prinsip hukum Islam.
11. Perselisihan mengenai cara shalat lail (tarawih)
Nabi Muhammad saw. sendiri melakukan shalat malam dengan berbagai macam CARA dan berbagai macam JUMLAH rakaat, baik dengan didahului shalat IFTITAH 2 rakaat ringan atau tidak, baik shalat lagi setelah shalat WITIR atau tidak, baik shalat dua rakaat salam, 4 rakaat salam, 8 rakaat salam, witir 1 rakaat, 3 rakaat, 5 rakaat, dst. Jadi misalnya apabila seseorang biasa tarawih 4-4-3 maka tidak masalah apabila dalam suatu masjid ternyata ia mengikuti tarawih dengan 2-2-2-2-3, dst.
12. Perdebatan/perselisihan mengenai jumlah shalat tarawih 11 vs 23 rakaat
Jangankan 23 rakaat, generasi terdahulu saja ada yang sampai 39 bahkan 49 rakaat.
Prinsip 1: Jangan meributkan hal-hal yang hukumnya sunnah. Apabila ditanya, “Mana yang salah, 11 atau 23 rakaat?” jawab, “Gak tarawih aja gak salah”. Apabila ditanya, “Mana yang lebih utama, pakai qunut atau tidak?” jawab, “Yang lebih utama yang lebih khusyu’ shalatnya”. “Jadi bagus mana 11 atau 23 rakaat?” jawab, “Sudah dibilang tergantung khusyu’nya, kan ada riwayat atsar ‘Dua orang melakukan shalat yang sama, tetapi perbedaan keutamaan antara keduanya bisa SEJAUH LANGIT DAN BUMI ...’”
Prinsip 2: Pada hakikatnya shalat malam itu jumlahnya tidak terbatas, “semampunya”, adapun jumlah 11 dan lainnya merupakan jumlah yang disukai Nabi, bukan berarti tidak boleh lebih dari itu.
Filosofi yang terabaikan: Dari banyak riwayat Rasulullah memang sering shalat malam 11 rakaat. Kemudian ketika masa khalifah Umar, bulan Ramadhan orang-orang libur bekerja dan hanya fokus beribadah sehingga masjid penuh. Oleh karena itu karena pada semangat beribadah maka mulai pada masa Umar bin Khatthab mulai dikenal 23 rakaat (sebenarnya pada masa Umar ada riwayat 11, ada pula 23, artinya pada suatu waktu 11 dan pada suatu waktu 23 rakaat). Dan 23 rakaat ini DILAKUKAN PULA oleh khalifah Utsman, Ali, sampai masa Bani Umayyah. Kemudian pada masa keemasan Umar Bin Abdul ‘Aziz ketika masyarakat sudah sangat maju dan makmur, bahkan ketika harta baitul maal dibagi-bagikan tidak mau diambil, sehingga hasrat mencari dunia sudah terpenuhi, oleh karena itu mulai masa ini shalat menjadi 36+3=39 rakaat. Begitu perkembangan seterusnya hingga ada pula riwayat 41, 47, sampai 49 rakaat. Sedangkan MAZHAB YANG EMPAT: Imam Hanafi, Imam Ahmad, dan Imam Syafi’i adalah 23 RAKAAT, sedangkan mazhab Imam Maliki 39 rakaat (riwayat yang lain 49 rakaat). Dan dulu masjid Madinah shalatnya 39 RAKAAT (16 [4x4] rakaat yang ditambahkan dari 20 rakaat adalah untuk berusaha menyamai pahala orang Makkah yang dalam 4x istirahat tarawihnya melakukan 4x thawaf). Dan perlu diketahui pula bahwa SEKARANG Masjid Al-Haram Makkah dan Masjid An-Nabawi Madinah shalat tarawih 20 rakaat dan 3 rakaat witir. Jadi pengikut 11 jangan sekali-kali menyalahkan atau membid’ahkan pengikut 23! Satu sama lain tidak boleh saling menyalahkan, karena masih dalam satu ‘koridor’ yang sama.
Pertanyaan: Bid’ahkan itu semua yang menyelisihi Nabi? Shalat 23 rakaat yang dipelopori Umar Bin Khatthab termasuk bid’ah hasanah. Umar ra. sendiri yang menyatakan bahwa “inilah sebaik-baik bid’ah”. Ada yang membantah bahwa shalat tarawih berjamaah bukan bid’ah karena Nabi Muhammad saw. pernah melakukannya. Yap benar sekali, tetapi menjadikan shalat tarawih setelah shalat isya’ selalu berjamaah sebulan penuh itulah bid’ah! Sekali lagi, bid’ah hasanah.
Tinjauan fiqh: Selama ini ramai umat muslim terjebak dalam potongan hadits “semua bid’ah adalah sesat dan semua yang sesat tempatnya adalah di neraka” sehingga mereka tidak mengakui adanya bid’ah hasanah bahkan seringkali memicu perselisihan. Hei kawan, tolong jangan tergesa-gesa dulu, Anda harus mempelajari SEMUA hadits yang terkait dengan bid’ah disertai pembahasan dari sisi ushul fiqhnya. Sekali lagi, suatu perbuatan yang baru harus diserahkan kepada pakar ushul fiqh (tidak bisa hanya kepada ustadz biasa), apakah termasuk bid’ah yang baik atau buruk.
Oleh karena itulah, pencetus ilmu ushul fiqh pertama, Imam Syafi’i dan kitab ushul fiqh-nya “Ar-Risalah” yang menjadi rujukan utama sampai saat ini berkata demikian:
“Bid’ah itu ada dua, bid’ah mahmudah (yang terpuji) dan bid’ah madzmumah (yang tercela). Bid’ah yang sesuai dengan Sunnah adalah bid’ah yang terpuji. Sedangkan yang bertentangan dengan Sunnah adalah bid’ah yang tercela.” [Imam Syafi’i]
13. Tidak mendengarkan ceramah tarawih bagi ‘aliran’ tertentu
Ketika penulis pernah menanyakan kepada orang yang tidak mau mendengarkan ceramah tarawih (sambil sibuk membaca Al-Quran di tengah-tengah jamaah), ia menjawab tegas yang intinya “yang wajib hanya mendengarkan khutbah jumat, dan ceramah tarawih ini tidak ada dalam sunnah Nabi”. Astaghfirullah. Sungguh telah teracuni pemikiran yang amat fanatik! Ini berkaitan dengan kesalahfahaman sebelumnya, yaitu mengenai bid’ah. Bahwa TIDAK SETIAP YANG TIDAK ADA DI ZAMAN NABI ITU SESAT, TETAPI HARUS DIKAJI DARI SISI FIQH. Maka baca, baca, dan terus belajar (karena ilmu itu tak terbatas).
14. Meninggalkan jamaah tarawih setelah mendapat 8 rakaat
Pemandangan ini sudah cukup banyak terjadi, baik pada masjid yang 11 apalagi 23 rakaat. Jelas merugi bagi yang melakukannya.
“Orang yang shalat tarawih mengikuti imam SAMPAI SELESAI, ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk.” (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)
Dalam lafaz yang lain “Ditulis baginya pahala shalat di sisa malamnya” (HR. Ahmad)
Berkaitan dengan hal ini, agar seseorang tetap dapat mendapatkan pahala utuh tersebut, apabila ia tidak terbiasa shalat 23 rakaat, seharusnya ia mencari masjid lain yang 11 rakaat, dan bukan berjamaah di masjid yang 23 rakaat tetapi meninggalkan masjid setelah 8 rakaat.
15. Anggapan bahwa shalat witir dan/atau tarawih hanya ada di bulan Ramadhan
Sama saja di bulan Ramadhan atau tidak, shalat malam itu “biasa” dilakukan 11 rakaat. Meskipun Nabi saw. pun tidak selalu 11 rakaat melakukannya, kadang kurang kadang lebih.
“Dari Aisyah ra., katanya: "Rasulullah saw. tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat - sunnah, BAIK DALAM BULAN RAMADHAN ATAUPUN SELAIN RAMADHAN. Beliau saw. bersembahyang 4 rakaat, maka janganlah engkau bertanya betapa indah dan panjangnya, kemudian bersembahyang lagi 4 rakaat, maka jangan pula engkau bertanya betapa indah dan panjangnya, kemudian bersembahyang 3 rakaat.” (Muttafaq ‘alaih, shahih)
*CATATAN: mengenai cara dan jumlah rakaat terdapat banyak hadits yang menerangkannya. Bahkan sama-sama dari Aisyah dalam hadits shahih yang lain disebutkan bahwa Nabi shalat setiap 2 rakaat salam. Bukan berarti bahwa ini bertentangan (Pepatah “Jika kamu melihat ada sesuatu yang salah, MUNGKIN kesalahannya bukan pada apa yang kamu lihat, tapi bagaimana caramu melihat”). Sehingga ini dapat dipahami bahwa pada suatu waktu Rasulullah selalu shalat malam 4-4-3, dan pada suatu periode lain ternyata Rasulullah saw. shalat dengan 2 rakaat salam, dan Aisyah mengatakan sesuai kondisi yang ia lihat pada waktu itu.
16. Anggapan bahwa setelah shalat witir tidak boleh shalat malam lagi
Pendapat yang seperti ini lemah. Namun, mayoritas ulama sepakat bahwa shalat witir bukanlah penutup shalat malam, tetapi pengganjil shalat malam. Ada banyak alasan yang menguatkan hal ini:
a. Karena Allah itu witir (ganjil) dan menyukai yang ganjil. “Sesungguhnya, Allah itu witir (ganjil) dan menyukai pada yang ganjil, maka shalat witirlah kalian, wahai ahli Quran.” (H.R. Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i, Al-Hakim, dan Ahmad)
b. Karena dalam beberapa hadits shahih bahwa Rasulullah saw. pun melakukan shalat sunnah dua rakaat setelah shalat witir.
c. Kalau kita melihat hadist shahih yang mereka gunakan yaitu “Aj’aluu aakhira shalaatikum billaili witran.” Lihatlah “ruh” dari kandungan hadits ini adalah shalat witir untuk mengganjili shalat malam. Dan ini didukung dengan hadits shahih muttafaq ‘alaihi “Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Jika engkau khawatir akan datangnya fajar maka shalatlah 1 rakaat AGAR JUMLAH RAKAATNYA GANJIL”. Ya, karena Allah menyukai yang ganjil terkait hal apa saja sebagaimana berbuka dengan 3 kurma, mencuci 3x, istighfar 3x, dzikir 33x, sa’i 7x, thawaf 7x, melontar jumrah masing-masing 7x di 3 tempat, 7 lapis, dst...
d. Karena dibalik hadits shahih “Tidak ada dua witir dalam satu malam” mengandung makna tersirat bisa shalat malam dua kali namun hanya boleh shalat witir satu kali.
e. Karena shalat witir di akhir (penutup) malam itu menunjukkan keutamaan dan bukan merupakan keharusan sebagaimana hadits shahih Muslim “Maka hendaklah berwitir di akhir malam, karena sesungguhnya shalat akhir malam itu disaksikan oleh para malaikat dan yang sedemikian itulah yang LEBIH UTAMA." Dan didukung dengan H.R. Abu Dawud ketika Umar biasa melakukan shalat witir di akhir malam maka Rasulullah saw. menjawab “Engkau Umar, berpegang pada KEUNGGULAN”.
f. Karena Rasulullah saw pun dalam hadits shahihnya (karena sunnah muakkadnya shalat witir) pernah menyuruh sahabatnya untuk “tidak tidur sebelum menunaikan shalat witir”, dan ini sama sekali tidak berarti bahwa Nabi melarang shalat malam lagi apabila bangun di tengah malam.
g. Karena dalam hadits shahih Bukhari Muslim juga Rasulullah saw. pernah mengerjakan shalat witir pada permulaan malam, pernah pada tengah malam, dan pernah pada akhir malam.
h. Karena dalam H.R. Abu Dawud ketika Abu Bakar ditanya tentang kapan biasanya melakukan shalat witir maka ia menajwab "Saya biasa melakukannya pada awal malam selepas isya'," jawab Abu Bakar.
i. Karena kandungan H.R. Tirmidzi, Abu Dawud, Nasai, Ahmad disebutkan bahwa Thalq bin Ali pernah berpergian kemudian shalat malam dan witir. Setelah kembali ke kampungnya, ia menjadi imam shalat malam lagi setelah selesai berpergian, namun ketika sudah mau shalat witir ia menyuruh orang lain menjadi imam karena ia sudah shalat witir. Dst...
*Dengan demikian, sungguh beruntung bagi siapa saja yang shalat tarawih bersama imam sampai selesai kemudian melakukan shalat tahajjud semampunya sebelum makan sahur.
17. Kekeliruan penggunaah istilah “zakat fitrah”
Zakat yang diwajibkan pada akhir bulan puasa yang benar adalah “zakat fithri”. Filosofi kewajiban zakat ini timbul karena mencapai ‘Idul Fithri, bukan ‘Idul Fitrah. Kata “fithri” yang bermakna kembali berbuka (kembali tidak berpuasa) sangat berbeda dengan fitrah yang bermakna suci seperti bayi. Karena dengan zakat tersebut tidak menyebabkan seseorang bisa suci seperti bayi baru lahir, tidak, ia hanya membersihkan dosa-dosa kecil, untuk dosa-dosa besar harus dilakukan dengan taubat.
18. Kekeliruan pemahaman bahwa orang miskin tidak perlu zakat fithri
Kewajiban zakat fithri timbul karena kita memiliki kelebihan makanan atau hartanya dari keperluan tanggungannya pada malam dan pagi hari raya ‘Idul Fithri. Perhatikan kembali syarat zakat tersebut, pengertian mampu di sini ialah yang memiliki “kelebihan makanan”. Sehingga sebenarnya untuk mensucikan dosa-dosa kecilnya, para fakir miskin pun apabila memiliki kelebihan makanan tetap wajb mengeluarkan zakat fithri, MESKIPUN pada akhirnya mereka juga lah yang akan menerima zakat fithri dari orang lain. Tetapi yang penting, kewajiban telah ditunaikan. Karena pada prinsipnya kewajiban zakat fithri adalah untuk semua muslim tanpa membedakan laki-laki-perempuan, bayi-anak-dewasa, kaya-miskin. Berbeda dengan kewajian zakat maal/harta/pemghasilan yang hanya diwajibkan untuk orang yang kaya (nishab terpenuhi).
“Dan Allah Tuhan Yang Maha Mengetahui.”
*GKPI: Gerakan Komprehensif Pemahaman Islam
Senin, 23 Juli 2012
RAHASIA BESAR SURAH PERTAMA AL-QURAN (AL-FAATIHAH)
Untuk memahami ini, terlebih dahulu minimal harus menguasai tulisan yang telah disampaikan: “AL-JUMAL” dan “MENGAPA 19?”. Bahwa Al-Quran didesain berdasarkan bilangan 19, adanya kodetifikasi bilangan prima dalam Al-Quran, dan mengapa ada ungkapan dari ilmuwan terkemuka: “Matematika adalah bahasa yang digunakan Tuhan dalam menuliskan alam semesta ini”. Sebagai pembukaan, mari kita simak dahulu secara umum dari Al-Quran:
# 114 surah
a. 114=6x19
b. 114 adalah angka ajaib, karena bilangan prima ke-114 adl 619
c. 619 adl bil prima kembar* dengan pasangan 617.
* yaitu pasangan bilangan prima istimewa dimana dengan bilangan prima yang terdekat lainnya selisihnya hanya 1 angka. Contoh: 3&5, 11&13, 17&19, 29&31, 41&43, dst.
d. 1+2+3+4+4+...+113+114=6.555 (345x19)
# 30 juz
Angka 30 adalah bilangan komposit* yang ke-19, yaitu: 4, 6, 8, 9,10,12,14, 15, 16, 18, 20, 21, 22, 24, 25, 26, 27, 28, 30.
* bilangan komposit yakni sisa dari bilangan prima, , kecuali angka 1, yaitu 4, 6, 8, 9,10,12,14,15, .... dan seterusnya. Dengan kata lain, bilangan komposit adalah bilangan yang terdiri dari minimal dua faktor prima.
# Jumlah ayat 6.236 dan jumlah nomor surat 6.555
a. digitnya dijumlahkan berarti 6+2+3+6+6+5+5+5 =38 atau (19x 2).
b. Al-Quran dengan 114 surat terbagi dua susunannya:
1) 57 surat yang homogen, nomor surat = jumlah ayat yang dikandungnya, yaitu genap-genap atau ganjil-ganjil. Contoh: Surat Al-Faatihah dengan nomor surat 1, jumlah ayat yang dikandungnya juga ganjil, yaitu 7 ayat. Surat homogen ini, jumlah nomor surat dan jumlah ayatnya adalah 6.236, atau SAMA banyaknya dengan JUMLAH AYAT Al-Quran seluruhnya!
2) 57 surat yang heterogen, nomor surat ≠ jumlah ayatnya, yaitu genap-ganjil atau ganjil¬genap. Misalnya, Surat Ali 'Imran, nomor surat 3 atau ganjil, jumlah ayat 200 atau genap. Surat heterogen ini, jumlah nomor surat dan jumlah ayatnya adalah 6.555 atau SAMA dengan JUMLAH NOMOR SURAT dari 1 sampai dengan 114 (1+2+3+4+....+114).
c. Bila kedua kelompok surat ini dijumlahkan, akan meng¬hasilkan bilangan prima: 6.236+6.555=12.791=bilangan prima ke-1.525. Struktur ini merupakan enkripsi antara jumlah nomor surat dengan jumlah ayat Al-Quran.
KALIMAT BASMALAH (AYAT PERTAMA SURAH AL-FAATIHAH & AYAT PEMBUKA Al-QURAN)
# Sebagai ayat pembuka pada QS 1:1 yang terdiri dari 19 huruf Arab!
# Kalimat Basmalah dalam Al-Quran berjumlah 114 (19×6). Meskipun pada Surah 9 (At-Taubah) tidak ada Basmalah pada ‘permulaan’ surah sehingga jumlah Basmalah kalau dilihat pada awal surah kelihatan hanya 113, tetapi pada Surah 27 ayat 30 terdapat tambahan kalimat Basmalah di tengah ayat (27+30=57, atau 19x3). Dengan demikian jumlah Basmalah tetap 114.
# Jika dihitung jumlah surah yang tidak memiliki Basmallah (surah ke-9, At Taubah) sampai dengan Surah yang memuat 2 Basmalah yaitu surah ke-27, ditemukan 19 surah. Dan total jumlah nomor surah dari Surah 9 sampai Surah 27 diperoleh (9+10+11+…+26+27=342) atau 19×18. Total jumlah ini (342) “SAMA DENGAN” jumlah kata antara dua kalimat basmalah dalam Surat 27!
AL-FAATIHAH
adalah surah pertama (nomor 1) dalam Al-Quran, dan terdiri dari 7 ayat, sebagai surah pembuka (kunci) bagi kita dalam berhubungan dengan Allah dalam SHALAT. Jika kita tuliskan secara berurutan nomor surah (No.1) diikuti dengan nomor setiap ayat dalam surah tersebut, kita dapatkan bilangan: 11234567. Bilangan ini merupakan kelipatan 19 (591293x19). Hal ini menunjukkan bahwa kita membaca Al Faatihah adalah dalam rangka menyembah dan meng-Esakan Allah.
Selanjutnya, jika kita tuliskan sebuah bilangan yang dibentuk dari nomor surah (1) diikuti dengan bilangan-bilangan yang menunjukkan jumlah huruf pada setiap ayat (lihat Tabel 1), diperoleh bilangan : 119171211191843 yang juga merupakan kelipatan 19.
Tabel 1. Jumlah huruf pada setiap ayat dalam Surah Al Faatihah
Ketika kita membaca Surah Al-Faatihah (dalam bahasa arab), maka bibir atas dan bawah akan saling bersentuhan TEPAT 19 KALI. Kedua bibir kita akan bersentuhan ketika mengucapkan kata yang mengandung huruf “B atau Ba’” dan huruf “M atau Mim”. Ada 4 huruf Ba’ dan 15 huruf Mim. Nilai numerik dari 4 huruf Ba’ adalah 4×2=8, dan nilai numerik dari 15 huruf Mim adalah 15×40=600. Total nilai numerik dari 4 huruf Ba’ dan 15 huruf Mim adalah 608=19×32 (lihat Tabel 2).
Tabel 2. Kata-kata dalam Surah Al-Faatihah yang mengandung huruf Ba’ dan Mim beserta nilai numeriknya
Catatan:
Untuk memverifikasi “keajaiban matematis” dari Al-Quran kita perlu menggunakan Al-Quran yang dicetak menurut versi cetak Arab Saudi atau Timur Tengah pada umumnya. Mengapa? Hasil penelitian mengungkapkan terdapat beberapa perbedaan antara Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya dan Qur’an versi cetak Arab Saudi, meskipun perbedaan tersebut TIDAK berpengaruh pada makna/arti. Perbedaan tersebut hanya pada cara menuliskan beberapa kata. Meskipun demikian, jika mengacu pada “Keajaiban Matematis” dari Al-Quran, Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya (yang disusun oleh orang Indonesia) menyalahi aturan yang aslinya sehingga keajaiban matematis tidak muncul.
Diberikan 2 contoh kata saja dari sekian kata yang berbeda penulisannya yaitu kata “shirootho” dan “insaana”. Menurut versi cetak Arab Saudi, tidak ada huruf “ALIF” antara huruf “RO’” dan “THO” pada kata “SHIROOTHO” (lihat di Surat Al Faatihah) dan antara huruf “SIN” dan “NUN”pada kata “INSAANA”, tetapi menurut versi cetak Indonesia pada umumnya terdapat huruf ALIF pada kedua kata tersebut. Pada versi cetak Arab Saudi, untuk menunjukkan bacaan panjang pada bunyi ROO dan SAA pada kata SHIROOTHO dan INSAANA, digunakan tanda “fathah tegak”. Selain itu, penulis pernah menjumpai dalam versi cetak dengan versi e-book (sama-sama B.Indonesia), ternyata huruf alif dengan fathah tegak pada versi cetak diganti dengan huruf hamzah dengan tambahan alif pada versi e-book (memang cara membacanya pun sama).
Bisa difahami, maksud orang menambahkan ALIF pada kedua kata tersebut agar lebih memudahkan bagi pembacanya, tetapi ternyata menyimpang dari aslinya. Maka dari itu Anda akan menemukan jumlah huruf yang lebih banyak pada Surat Al Fatihah ayat 6 dan 7 dari yang dituliskan. Sebagai tambahan, salah satu ciri Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya adalah Surat Al Faatihah terletak pada HALAMAN 2, sementara versi cetak Arab Saudi, Faatihah berada pada HALAMAN 1.
Mengenai jumlah kata, kata harus didefinisikan sebagai susunan dari beberapa huruf (2 huruf atau lebih), sehingga kita harus memperlakukan “WA atau WAU” sebagai huruf meskipun bisa diartikan dengan kata “DAN” dalam bahasa Indonesia. Perlakuan “WA” (misalnya pada kata “WATAWAA”) sebenarnya bisa disamakan dengan “BI” (pada kata BISMI), karena kebetulan BI bisa gandeng dengan kata berikutnya, sementara WA tidak bisa ditulis gandeng dengan kata yang mengikutinya. Jadi jangan hitung “WA” sebagai kata, tetapi sebagai huruf.
-untuk ‘memperbaiki shalat’ dan ‘menguatkan keyakinan’-
[tulisan yang sederhana ini hanyalah gerbang menuju kejaiban Al-Quran, itu pun baru di depan pintu, belum masuk belum pula diketuk! karena keajaiban dari segi Matematis masih sangat banyak, rumit, dan kompleks bertingkat, kadang kita tidak paham dan hanya ahli matematika paham dan karenanya ia masuk Islam. Itu pun belum ditinjau keajaiban Al-Quran dari segi Fisika, Kimia, Biologi, Astronomi, Geologi, atau pun Nahwu, Shorof, Balaghoh, dll. Percayalah semuanya telah dihitung, diukur, dan ditetapkan Allah secara detail dan satu per satu!
“Dia menghitung segala sesuatu satu persatu [secara detail].” (Q.S. Al-Jin: 28)
Agar kita 100% YAKIN akan kebenaran firman Allah]
# 114 surah
a. 114=6x19
b. 114 adalah angka ajaib, karena bilangan prima ke-114 adl 619
c. 619 adl bil prima kembar* dengan pasangan 617.
* yaitu pasangan bilangan prima istimewa dimana dengan bilangan prima yang terdekat lainnya selisihnya hanya 1 angka. Contoh: 3&5, 11&13, 17&19, 29&31, 41&43, dst.
d. 1+2+3+4+4+...+113+114=6.555 (345x19)
# 30 juz
Angka 30 adalah bilangan komposit* yang ke-19, yaitu: 4, 6, 8, 9,10,12,14, 15, 16, 18, 20, 21, 22, 24, 25, 26, 27, 28, 30.
* bilangan komposit yakni sisa dari bilangan prima, , kecuali angka 1, yaitu 4, 6, 8, 9,10,12,14,15, .... dan seterusnya. Dengan kata lain, bilangan komposit adalah bilangan yang terdiri dari minimal dua faktor prima.
# Jumlah ayat 6.236 dan jumlah nomor surat 6.555
a. digitnya dijumlahkan berarti 6+2+3+6+6+5+5+5 =38 atau (19x 2).
b. Al-Quran dengan 114 surat terbagi dua susunannya:
1) 57 surat yang homogen, nomor surat = jumlah ayat yang dikandungnya, yaitu genap-genap atau ganjil-ganjil. Contoh: Surat Al-Faatihah dengan nomor surat 1, jumlah ayat yang dikandungnya juga ganjil, yaitu 7 ayat. Surat homogen ini, jumlah nomor surat dan jumlah ayatnya adalah 6.236, atau SAMA banyaknya dengan JUMLAH AYAT Al-Quran seluruhnya!
2) 57 surat yang heterogen, nomor surat ≠ jumlah ayatnya, yaitu genap-ganjil atau ganjil¬genap. Misalnya, Surat Ali 'Imran, nomor surat 3 atau ganjil, jumlah ayat 200 atau genap. Surat heterogen ini, jumlah nomor surat dan jumlah ayatnya adalah 6.555 atau SAMA dengan JUMLAH NOMOR SURAT dari 1 sampai dengan 114 (1+2+3+4+....+114).
c. Bila kedua kelompok surat ini dijumlahkan, akan meng¬hasilkan bilangan prima: 6.236+6.555=12.791=bilangan prima ke-1.525. Struktur ini merupakan enkripsi antara jumlah nomor surat dengan jumlah ayat Al-Quran.
KALIMAT BASMALAH (AYAT PERTAMA SURAH AL-FAATIHAH & AYAT PEMBUKA Al-QURAN)
# Sebagai ayat pembuka pada QS 1:1 yang terdiri dari 19 huruf Arab!
# Kalimat Basmalah dalam Al-Quran berjumlah 114 (19×6). Meskipun pada Surah 9 (At-Taubah) tidak ada Basmalah pada ‘permulaan’ surah sehingga jumlah Basmalah kalau dilihat pada awal surah kelihatan hanya 113, tetapi pada Surah 27 ayat 30 terdapat tambahan kalimat Basmalah di tengah ayat (27+30=57, atau 19x3). Dengan demikian jumlah Basmalah tetap 114.
# Jika dihitung jumlah surah yang tidak memiliki Basmallah (surah ke-9, At Taubah) sampai dengan Surah yang memuat 2 Basmalah yaitu surah ke-27, ditemukan 19 surah. Dan total jumlah nomor surah dari Surah 9 sampai Surah 27 diperoleh (9+10+11+…+26+27=342) atau 19×18. Total jumlah ini (342) “SAMA DENGAN” jumlah kata antara dua kalimat basmalah dalam Surat 27!
AL-FAATIHAH
adalah surah pertama (nomor 1) dalam Al-Quran, dan terdiri dari 7 ayat, sebagai surah pembuka (kunci) bagi kita dalam berhubungan dengan Allah dalam SHALAT. Jika kita tuliskan secara berurutan nomor surah (No.1) diikuti dengan nomor setiap ayat dalam surah tersebut, kita dapatkan bilangan: 11234567. Bilangan ini merupakan kelipatan 19 (591293x19). Hal ini menunjukkan bahwa kita membaca Al Faatihah adalah dalam rangka menyembah dan meng-Esakan Allah.
Selanjutnya, jika kita tuliskan sebuah bilangan yang dibentuk dari nomor surah (1) diikuti dengan bilangan-bilangan yang menunjukkan jumlah huruf pada setiap ayat (lihat Tabel 1), diperoleh bilangan : 119171211191843 yang juga merupakan kelipatan 19.
Tabel 1. Jumlah huruf pada setiap ayat dalam Surah Al Faatihah
Ketika kita membaca Surah Al-Faatihah (dalam bahasa arab), maka bibir atas dan bawah akan saling bersentuhan TEPAT 19 KALI. Kedua bibir kita akan bersentuhan ketika mengucapkan kata yang mengandung huruf “B atau Ba’” dan huruf “M atau Mim”. Ada 4 huruf Ba’ dan 15 huruf Mim. Nilai numerik dari 4 huruf Ba’ adalah 4×2=8, dan nilai numerik dari 15 huruf Mim adalah 15×40=600. Total nilai numerik dari 4 huruf Ba’ dan 15 huruf Mim adalah 608=19×32 (lihat Tabel 2).
Tabel 2. Kata-kata dalam Surah Al-Faatihah yang mengandung huruf Ba’ dan Mim beserta nilai numeriknya
Catatan:
Untuk memverifikasi “keajaiban matematis” dari Al-Quran kita perlu menggunakan Al-Quran yang dicetak menurut versi cetak Arab Saudi atau Timur Tengah pada umumnya. Mengapa? Hasil penelitian mengungkapkan terdapat beberapa perbedaan antara Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya dan Qur’an versi cetak Arab Saudi, meskipun perbedaan tersebut TIDAK berpengaruh pada makna/arti. Perbedaan tersebut hanya pada cara menuliskan beberapa kata. Meskipun demikian, jika mengacu pada “Keajaiban Matematis” dari Al-Quran, Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya (yang disusun oleh orang Indonesia) menyalahi aturan yang aslinya sehingga keajaiban matematis tidak muncul.
Diberikan 2 contoh kata saja dari sekian kata yang berbeda penulisannya yaitu kata “shirootho” dan “insaana”. Menurut versi cetak Arab Saudi, tidak ada huruf “ALIF” antara huruf “RO’” dan “THO” pada kata “SHIROOTHO” (lihat di Surat Al Faatihah) dan antara huruf “SIN” dan “NUN”pada kata “INSAANA”, tetapi menurut versi cetak Indonesia pada umumnya terdapat huruf ALIF pada kedua kata tersebut. Pada versi cetak Arab Saudi, untuk menunjukkan bacaan panjang pada bunyi ROO dan SAA pada kata SHIROOTHO dan INSAANA, digunakan tanda “fathah tegak”. Selain itu, penulis pernah menjumpai dalam versi cetak dengan versi e-book (sama-sama B.Indonesia), ternyata huruf alif dengan fathah tegak pada versi cetak diganti dengan huruf hamzah dengan tambahan alif pada versi e-book (memang cara membacanya pun sama).
Bisa difahami, maksud orang menambahkan ALIF pada kedua kata tersebut agar lebih memudahkan bagi pembacanya, tetapi ternyata menyimpang dari aslinya. Maka dari itu Anda akan menemukan jumlah huruf yang lebih banyak pada Surat Al Fatihah ayat 6 dan 7 dari yang dituliskan. Sebagai tambahan, salah satu ciri Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya adalah Surat Al Faatihah terletak pada HALAMAN 2, sementara versi cetak Arab Saudi, Faatihah berada pada HALAMAN 1.
Mengenai jumlah kata, kata harus didefinisikan sebagai susunan dari beberapa huruf (2 huruf atau lebih), sehingga kita harus memperlakukan “WA atau WAU” sebagai huruf meskipun bisa diartikan dengan kata “DAN” dalam bahasa Indonesia. Perlakuan “WA” (misalnya pada kata “WATAWAA”) sebenarnya bisa disamakan dengan “BI” (pada kata BISMI), karena kebetulan BI bisa gandeng dengan kata berikutnya, sementara WA tidak bisa ditulis gandeng dengan kata yang mengikutinya. Jadi jangan hitung “WA” sebagai kata, tetapi sebagai huruf.
-untuk ‘memperbaiki shalat’ dan ‘menguatkan keyakinan’-
[tulisan yang sederhana ini hanyalah gerbang menuju kejaiban Al-Quran, itu pun baru di depan pintu, belum masuk belum pula diketuk! karena keajaiban dari segi Matematis masih sangat banyak, rumit, dan kompleks bertingkat, kadang kita tidak paham dan hanya ahli matematika paham dan karenanya ia masuk Islam. Itu pun belum ditinjau keajaiban Al-Quran dari segi Fisika, Kimia, Biologi, Astronomi, Geologi, atau pun Nahwu, Shorof, Balaghoh, dll. Percayalah semuanya telah dihitung, diukur, dan ditetapkan Allah secara detail dan satu per satu!
“Dia menghitung segala sesuatu satu persatu [secara detail].” (Q.S. Al-Jin: 28)
Agar kita 100% YAKIN akan kebenaran firman Allah]
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)

