Sabtu, 29 Oktober 2011

KIAMAT DALAM SAINS & ISLAM (Bagian 2)

--MATAHARI TERBIT DARI BARAT--

“Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu TIDAKLAH BERMANFAAT LAGI IMAN seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.” (QS. Al-An’aam: 158)

Beberapa hadits shahih menunjukkan bahwasanya yang dimaksudkan dengan ‘sebagian tanda-tanda’ yang disebutkan dalam ayat di atas adalah terbitnya matahari dari arah barat. Hal itu merupakan perkataan kebanyakan mufassiriin (ahli tafsir). Sehingga setelah terbitnya matahari dari arah barat, tidak akan diterima taubat orang kafir yang beriman dan taubat orang beriman yang sebelumnya tidak mengusahakan kebaikan.

“Tidaklah tegak hari kiamat hingga matahari terbit dari arah barat. Apabila ia telah terbit (dari arah barat) dan manusia melihatnya, maka berimanlah mereka semua. Pada hari itu tidaklah bermanfaat keimanan seseorang yang tidak beriman sebelum hari itu atau belum mengusahakan kebaikan di masa imannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Kita mendengar hadits Rasululah saw. bahwa matahari suatu saat muncul dari barat sebagai tanda hari kiamat. Ini pasti terjadi. Dan secara ilmiah dari para ilmuwan; bahwa matahari rotasinya menurun, begitu juga bumi rotasinya akan menurun, sebagaimana hasil penyelidikan para sarjana Amerika dalam kelompok Britisch. Mereka tidak mengatakan tanda kiamat, tapi mengatakan bahwa rotasi bumi suatu saat akan berbalik.

Ketahuilah, bahwa bumi sekarang berputar seperti arah jarum jam, sehingga matahari terlihat muncul dari timur. Kalau rotasi bumi arahnya sudah terbalik, maka matahari akan nampak muncul dari barat. Wallahua’lam.

Coba amati benda yang berputar dari poros yang engkau buat. Benda itu akan terus berputar sesuai dengan engkau arahkan; kalau benda itu berhenti, maka ada sedikit tarikan ke belakang ½ centi atau 1 centi atau bisa lebih sesuai keadaan poros. Demikian keadaaan bumi dengan porosnya; kalau berhenti, dia akan kembali sebentar dan baru benar-benar berhenti.

Dengan kembalinya arah perputaran bumi, maka matahari akan terbit dari barat. Saat ini taubat sudah tertutup tidak diterima lagi.

Dan setelah tanda itu muncul, akan disusul dengan kehancuran alam semesta yang diikuti dengan kebangkitan manusia untuk menuju “KENGERIAN TERAMAT SANGAT HARI KIAMAT!”

“Bersegeralah melakukan amal-amal ketaatan sebelum datangnya enam perkara: ..., terbitnya matahari dari arah barat, (Shahih Muslim)


Tulisan sebelumnya: KIAMAT DALAM SAINS & ISLAM (Bagian 1)

Senin, 19 September 2011

MAKNA HIDUP ‘SEIMBANG’ YANG SESUNGGUHNYA!

-banyak terjadi salah pengertian akan makna hidup seimbang diantara manusia, semoga dengan pembahasan ini kita bisa mendapatkan pandangan/konsep yang benar-

Allah berfirman:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi ….” (Q.S. Al-Qashash: 77)

Setelah merenungkan ayat mulia ini, didapati bahwa kata “ibtaghi” (carilah) disebutkan untuk MENGUKUHKAN perkara yang agung. Perkara beribadah kepada Allah dengan ikhlas dan mempergunakan nikmat-nikmat yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya untuk menaati-Nya.

Ketika merenungkan lafal, “Janganlah kamu melupakan”, didapati bahwa peringatan di sini disebutkan lantaran beberapa faktor, di antaranya:

v Pengukuhan bahwa DUNIA IALAH SARANA DAN BUKAN TUJUAN atau target. Sebab, tidak pernah ada bahwa sarana itu lebih penting daripada tujuan.
v Kemungkinan kata “lupa” di dalam firman-Nya, “Janganlah kamu melupakan”, menegaskan REMEHNYA urusan dunia.
v Perhatian terhadap urusan yang besar dan menyibukkan diri dengannya bisa melupakan urusan-urusan sekunder lain, seperti dunia dan kebutuhan individu di dalamnya. Dengan demikian, ada baiknya seorang hamba di sini diperingatkan agar tidak sibuk beribadah hingga membuatnya LUPA dari dunia dan kebutuhannya.

Lantaran larut dalam ibadah kepada Allah, para penuntut akhirat melalaikan urusan dunia dan kebutuhan mereka di dalamnya, lebih-lebih pada perhiasan-perhiasannya. Sehingga, peringatan tersebut sesuai dengan kondisi mereka.

Abu Hurairah, seorang shahabat yang selalu menyertai Rasulullah saw. untuk mengadopsi ilmu beliau. Hal itu membuatnya lupa dengan dunianya. Lalu ia berkata kepada para shahabatnya. “Kalian sibuk dengan dunia, sedangkan aku sibuk menemani Rasulullah saw.”

DUNIA MACAM APA yang menyibukkan para shahabat Rasulullah saw.? APA YANG AKAN DIKATAKAN Abu Hurairah ra. seandainya ia melihat kita??

Inilah dia Haritsah ra. yang pernah ditanya oleh Rasulullah saw.,  “Bagaimanakah keadaanmu pada pagi hari, wahai Haritsah?” Dia menjawab, “Pada pagi hari aku dalam keadaan mukmin sejati.” Nabi bertanya lagi, “Aku ingin melihat apa yang engkau ucapkan, sebab setiap ucapan itu memiliki hakikat. Lalu, bagaimanakah hakikat keimananmu?” Dia menjawab. “Aku telah MENJAUHKAN DIRIKU DARI DUNIA, lalu aku gunakan malam untuk bergadang (shalat dan dzikir malam) dan siang hari untuk berhaus-haus (puasa). Selain itu, seakan-akan aku melihat ‘Arsy Rabb-ku Nampak jelas, dan seakan-akan aku melihat penduduk surga saling berkunjung di dalamnya, serta seakan-akan aku melihat penduduk neraka sedang berdesak-desakan di dalamnya”. Nabi berkata. “Wahai Haritsah, engkau telah mengetahui maka tetapilah (komitmenlah)!”

Inilah Ahmad bin Hambal, seorang ulama besar yang melaksanakan shalat sebanyak tiga ratus rakaat sehari semalam dan mengkhatamkan Al-Quranul Karim sekali dalam setiap pekan. Ia adalah sosok yang banyak berdoa, berdzikir, serta ditambah lagi dengan kesibukannya menuntut ilmu dan mengajarkannya. Ahmad bin Hambal pernah berdoa, “Ya Allah, janganlah Engaku menyibukkan hati kami dengan hal-hal yang Engkau bebankan kepada kami.”

Dari Anas ra., bahwa ada tiga orang yang bahkan menganggap sedikit amal ibadah Nabi Muhammad saw.!, Seorang dari mereka itu berkata: "Adapun saya ini, maka saya bersembahyang semalam suntuk selama-lamanya." Yang lainnya berkata: "Adapun saya, maka saya berpuasa sepanjang tahun dan tidak pernah saya berbuka." Yang seorang lagi berkata: "Adapun saya, maka saya menjauhi para wanita, maka sayapun tidak akan kawin selama-lamanya." (kandungan hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim)

Ketika Salman menanyakan pada istri Abuddarda yang hanya mengenakan pakaian yang serba kusut – yakni tidak berhias sama sekali. Lalu istrinya menjawab, “Abuddarda' itu sudah tidak ada hajatnya lagi pada keduniaan - maksudnya: sudah meninggalkan keduniaan, baik terhadap wanita atau lain-lain."

Banyak pula riwayat shahih mengenai Abdullah bin Al-'Ash, seorang yang berpuasa
setahun penuh dan mengkhatamkan bacaan Al-Quran sekali setiap malam, sampai istrinya berkata, “ia tidak pernah menginjak hamparan kita dan tidak pernah memeriksa tabir kita - maksudnya tidak pernah berkumpul untuk menyetubuhi isterinya.”

Hingga mereka ditegur, “Tuhanmu itu ada hak atas dirimu, untuk dirimu sendiri juga ada hak atasmu, untuk keluargamupun ada hak atasmu. Maka berikanlah kepada setiap yang berhak itu akan haknya masing-masing." Dalam suatu riwayat, ditegaskan bahwa sekeras apapun kita beribadah, amal itu TETAP berpahala, Allah tetap senang menerima, dan Allah tidak pernah bosan. Hingga justru kitalah yang akan bosan dan lelah, maka Rasulullah menekankan bahwa yang dicintai Allah adalah istiqomahnya, maka lakukanlah yang mana engkau sanggup istiqomah, meskipun sedikit, dimana semakin banyaknya akan menunjukkan ketinggian derajat seseorang.

*Gambaran sosok seperti merekalah yang pantas mendapatkan teguran sebagaimana dimaksud dalam Al-Qashash 77, dan bukan orang seperti kita...

Karena sibuk beribadah, sebagian manusia ada yang lalai dari mengurusi keluarga dan menyayangi mereka, sampai-sampai ada penekanan terhadap mereka bahwa keluarga itu memiliki hak. SEMENTARA BAGI KITA, kita perlu orang yang mengingatkan akan tujuan luhur penciptaan kita serta orang yang bisa menyadarkan dengan keras agar kita mengingat akhirat.

(ditulis dari Buku Rumus Masuk Surga – Cara Cerdas Memilih Amal Untuk Hasil Optimal hlm. 92-94 & 149 serta Hadits-Hadits dari Riyadhus Shalihin, sebagai renungan mendalam bagi kita semua)


RESUME:

Firman "janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi” setidaknya menunjukkan: [1] remehnya kehidupan dunia, sampai ada kemungkinan dilupakan, [2] bahwa makna seimbang dunia akhirat tetap lebih menitikberatkan dan lebih condong kepada akhirat, dan [3] dunia hanya sarana bukan tujuan.

Ilustrasi: Seorang ibu ingin pergi ke pasar membeli sembako, kemudian si ayah nitip untuk membelikannya sesuatu. Sudah barang tentu sesuatu tersebut dapat terlupakan, namun hanya orang yang kurang berakal yang malah lupa tujuan awalnya untuk membeli sembako.

Hidup seimbang yang haqq bukan berarti dunia:akhirat adalah 50:50. Tidak demikian, hidup seimbang adalah memberikan masing-masing sesuai haknya, dimana hak Allah juga telah sedikit kami uraikan sebelumnya dalam tulisan MAKSUD ’50 SHALAT’. Sehingga kita sedar bahwa ternyata kita masih belum mencapai hidup yang seimbang, oleh karenanya perjalanan waktu dan pelayaran hidup kita ini hendaknya semakin menuju titik seimbang hingga sampai akhir hayatnya. Aamiin.

“Generasi sahabat sibuk beribadah sampai terlupa dunia (tujuan sampingan), SEMENTARA BAGI KITA, kita perlu orang untuk mengingatkan dan menyadarkan dengan keras akan tujuan utama penciptaan kita (akhirat).”

Astaghfirullaah wa atuubuilaihi... 100x

Senin, 22 Agustus 2011

HIDUP ADALAH SEBUAH PERJALANAN

Dulu, ada seorang raja yang mengatakan pada seorang penunggang kuda, bahwa jika dia bisa menjelajahi daerah seluas apapun, maka raja akan memberikan kepadanya daerah seluas yang sanggup dijelajahinya itu. Kontan si penunggang kuda itu melompat ke punggung kudanya dan melesat secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin. 

Dia melaju dan terus melaju, melecuti kudanya untuk lari secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin. Ketika lapar dan letih, dia tidak berhenti untuk makan dan minum karena dia
ingin memiliki tanah yang maha luas.

Akhirnya tibalah ia pada suatu tempat setelah berhasil menjelajahi daerah cukup luas, tetapi ia sudah sangat lelah dan hampir mati. Lalu dia berkata terhadap dirinya sendiri, "Mengapa aku paksa diri begitu keras untuk menguasai tanah y
ang seluas ini? Kini aku sudah sekarat dan hampir mati, dan aku ‘hanya’ butuh tanah seluas 2 METER untuk menguburkan diriku sendiri.

Cerita ini mirip dengan perjalanan hidup kita. Kita cenderung memaksa diri sangat keras tiap hari untuk mencari uang, kekuasaan, dan keyakinan diri. Kita cenderung mengabaikan kesehatan kita, waktu bersama keluarga, dan kesempatan mengagumi keindahan di sekeliling kita, hal-hal y
ang ingin kita lakukan. 

Kita cenderung mengabaikan kehidupan rohani kita. Kita cenderung tidak memikirkan dengan serius hidup kita sesudah mati. Anda percaya ada kehidupan sesudah mati? Suatu hari ketika kita menoleh ke belakang, “kita akan melihat betapa kita tidak membutuhkan sebanyak itu, tapi kita tidak mampu memutar mundur waktu atas semua hal y
ang tidak sempat dilakukan”.

(sumber: http://jackprise.blogspot.co.id/2010/07/61-hidup-hanya-sebuah-perjalanan.html)


“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Q.S. Al-Ankabuut: 64)

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (Q.S. Al-An’aam: 32)

“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (Q.S. Al-Baqarah: 281)


Maka dengan tulus dari kesadaran diri masing-masing, luangkanlah waktu memikirkan sejenak mengenai “Perjalanan Hidup Sesudah Mati”. Karena kehidupan setelah kematian adalah kehidupan yang ‘sesungguhnya’ (Q.S. Al-Ankabuut: 64), bukankah kehidupan di bumi ini memiliki relativitas waktu sangat mendekati (nyaris) NOL jika dibandingkan dengan waktu akhirat? (‘SEKEJAP’ SAJA!). Lagi pula kesenangan dunia hanyalah tipuan yang memperdaya (DUNIA = KESENANGAN SEMU YANG AMAT PAYAH), dan cuma sekadar senda gurau & main-main saja (Q.S. Al-An’aam: 32).

Dan ketika permulaan Hari Kiamat telah datang (KIAMAT DALAM SAINS & ISLAM (Bagian 1)KIAMAT DALAM SAINS & ISLAM (Bagian 2)), maka ‘Hari Penyesalan’ tiba. “Semua manusia diliputi rasa gelisah dan penderitaan yang tidak terperi dan tak kuasa menahannya” (penggalan H.R. Bukhari Muslim). Kengerian yang amat menusuk (KENGERIAN TERAMAT SANGAT HARI KIAMAT!). Perhitungan dan pembalasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakan (Q.S. Al-Baqarah: 281), sangat sempurna dan kekal (TAK 'KAN TERBAYANG LAMANYA WAKTU AKHIRAT!), ~~~

*Mari kita renungkan kembali isi dari setiap judul tulisan di atas.

Dan semoga kita tidak termasuk orang-orang yang melalaikan peringatan:

“Maka tatkala mereka ‘melupakan peringatan yang telah diberikan’ kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, KAMI SIKSA MEREKA DENGAN SEKONYONG-KONYONG, MAKA SEKETIKA ITU MEREKA TERDIAM BERPUTUS ASA.“ (Q.S. Al-An’aam: 44)

Akhir kata,
“Ilmu pasti bukanlah 1+1=2, tetapi sebenar-benar ilmu pasti adalah kematian dan Hari Kiamat”.