(Oleh: Ali Said)
Aplikasi kecil dan sederhana penerapan nilai gematrik huruf-huruf Arab:
Salah satu ayat dalam Al-Quran yaitu Q.S. 40:15 (Al-Mu’min ayat 15) menyatakan bahwa Allah adalah pemilik derajat tertinggi. Arti dari ayat tersebut adalah:
“(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai 'Arsy, Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (Hari Kiamat)” [QS 40:15]
Pemilik derajat tertinggi dalam ayat tersebut merupakan terjemahan dari kata “Rafii-‘u Ad-darajaat”. Kata “Rafii-‘u” menyatakan ketinggian.
Lihat kembali tulisan yang lalu tentang “nilai numerik huruf Arab”, dan hitung total nilai numerik dari kata “Rafii-‘u” (yang terdiri dari huruf-huruf: Ra, Fa’, Ya’, dan ‘Ain). Anda akan dapatkan total nilai numerik sebesar 360. Dalam matematika 360 merupakan derajat tertinggi. Nilai numerik dari masing-masing huruf dalam kata Rafii-‘u adalah:
Ra = 200
Fa = 80
Ya = 10
‘Ain = 70
______
Total = 360!
Tidak ada kata lain yang pantas kita ucapkan selain SUBHANALLAH...!
-sebagai langkah awal untuk mengungkap keajaiban Al-Quran dan memantapkan keimanan-
Blog yang berisi pilihan ilmu-ilmu terbaik yang sangat penting dan mendasar NAMUN jarang diketahui umum, sehingga diharapkan dapat merevolusi kita sebagai umat muslim. Dirangkaikan dalam program: [1] Revolusi pandangan (iman), [2] Revolusi amal, (serta revolusi kebahagiaan nantinya). Harap baca 'Pengantar' dan selamat mengikuti...^^
Sabtu, 30 Juni 2012
Rabu, 20 Juni 2012
NILAI NUMERIC (NILAI GEMATRIA) HURUF-HURUF ARAB
Sepertinya masih sangat kurang jikalau seorang muslim tidak mengerti Al-Jumal. Karena dengan mengerti Al-Jumal, keimanan seseorang dapat meningkat berkali lipat! Berikut kami kutipkan intisari dari 2 situs web (http://alquran.atmonadi.com & http://alisaid.wordpress.com):
Huruf dalam Bahasa Arab disebut Huruf Hijaiyah. Pada zaman Nabi Muhammad ‘belum’ dikenal bilangan/ angka 0,1,2,…,9. Mereka menggunakan huruf-huruf Arab untuk menuliskan bilangan. Nilai masing-masing huruf dinamakan nilai gematria, ini sudah umum digunakan.
Angka yang kita kenal sekarang yaitu (1, 2, 3, dst) sebenarnya dikenal belum lama oleh manusia. Sebelumnya untuk kepentingan perdagangan misalnya orang melakukan penghitungan berdasarkan simbol atau karakter yang merepresentasikan sebuah angka. Dalam sejarah dijumpai beberapa representasi yang berbeda untuk angka-angka atau bilangan dan untuk proses dasar penghitungan. Pada awalnya dijumpai angka-angka yang diucapkan dan angka-angka yang disimbolkan dengan jari tangan (diindikasikan oleh posisi tangan dan jari-jari). Selanjutnya untuk pencatatan secara permanen dan penghitungan diperlukan apa yang disebut sebagai “NUMERAL” yang merupakan sebuah simbol atau karakter yang digunakan untuk mewakili sebuah bilangan.
Kita pasti mengenal betul sistem bilangan Romawi yang masih sangat dikenal pada saat ini, seperti I=1, V=5, X=10, L=50, C=100, D=500 dan M=1000. Misalnya untuk menuliskan 164 disimbolkan dengan CLXIV. Seperti halnya pada sistem bilangan Romawi, sistem bilangan juga dikenal pada huruf-huruf Arab. Bilangan yang ditandai pada setiap huruf dikenal sebagai “nilai numerik (numerical value atau gematrical value)”.
Huruf abjad Arab mempunyai suatu kekhususan dan keunikan, demikian juga huruf-huruf dari kawasan Timur Tengah lainnya, karena selain bermakna sebagai kaidah penyusunan kata dan bahasa, ia dapat menjadi simbol-simbol yang bersifat seni, budaya, bilangan maupun akhirnya menyangkut simbol-simbol spiritual. Bahkan sejatinya, simbolisme huruf telah merupakan suatu hasil dari olah spiritual sebagai pengetahuan tertinggi yang mensintesiskan kaidah pengenalan geometri dan bentuk, bilangan dan akhirnya menjadi huruf, sampai manusia pun mengungkapkan berbagai cerita.
Karena dikembangkan dengan sintesis intuitif dan akal pikiran yang optimum, maka huruf-huruf Arab Hijaiah bukan sekedar huruf semata. Huruf Arab yang mempunyai ciri-ciri geometris dan simbolis dapat mempunyai makna sebagai huruf atau simbol geometris. Misalnya Alif adalah huruf Alif kemudian ia bisa jadi suatu garis atau suatu angka 1 sebagai kelahiran 2 titik menjadi bentuk yang dikenali yang mempunyai makna ganda karena mencakup makna geometris, nilai, dan ungkapan yang dibunyikan dengan suara menjadi “Alif”. Dengan susunan 3 huruf “Alif, Laam, Fa” ketika dihitung berdasarkan huruf dari lafaz pengucapan ia bernilai:
Alif=1, Laam=30, Fa=80 , 1+30+80=111
Tata cara menghitung nilai huruf dalam Bahasa Arab disebut Al-Jumal atau disebut juga Gematria. Al-Jumal huruf Arab, disusun dengan kaidah satuan (9), puluhan (9) , ratusan (9) dan ribuan (1). Susunannya merupakan susunan geometris dalam bujur sangkar 1,9,9,9 dimana kalau kita jumlahkan adalah :
1+9+9+9=28
Hampir setiap muslim telah hafal huruf-huruf Arab, tetapi mungkin hanya segelintir orang yang mengetahui urutan abjad yang sebenarnya. Kalau selama ini kita mengenal abjad Arab dari ALIF sampai YA, itu adalah abjad Arab yang disusun dan dikelompokkan menurut kemiripan bentuknya. Urutan huruf Arab yang sebenarnya adalah dari ALIF sampai GHAIN.
URUTAN ‘abjad Arab sekaligus nilai numeriknya', cukup mudah dihafalkan karena memiliki keunikan: 4-3-4-3 + 4-3-4-3 melalui sebuah syair berikut:
A-BA-JA-DUN HA-WA-ZUN
HA-THO-YA-KUN LA-MA-NUN
SA-NGA-FA-SHUN QO-RO-SYUN
TA-TSA-KHO-DZUN DHO-DHLO-GHUN
Dari syair tersebut diketahui urutannya adalah ALIF, BA. JIM, DAL, HA (untuk kata Arab Huwa), WAU, ZA, HA (untuk kata Arab Hayyun), THO, YA, KAF, LAM, MIM, NUN, SIN, ‘AIN, FA’, SHOD, QOF, RO’, SYIN, TA’, TSA’ (untuk kata Arab Tsa-laa-stah), KHO’, DZAL, DHOD, DHLO (untuk kata Arab Dhluhur), GHOIN. Kita mungkin tidak pernah berfikir bahwa kata abjad diambil dari 4 huruf Arab pertama.
Dengan menguasai Al-Jumal, Anda ke depan akan dapat memahami baik “mathematical miracle” maupun “numerical miracle” dalam Al-Quran.

Atau lebih ringkasnya dapat dihafal melalui tabel berikut:

A=1, BA=2, JA=3, DUN=4 -- HA=5, WA=6, ZUN=7
HA=8, THO=9, YA=10, KUN=20 -- LA=30, MA=40. NUN= 50
SA=60, NGA=70, FA=80, SHUN=90 -- QO=100, RO=200, SYUN= 300
TA=400, TSA=500, KHO=600, DZUN=700 -- DHO=800, DHLO=900, GHUN=1000
Catatan: Huruf Lam-Alif merupakan 1 huruf yang berasal dari 2 huruf yaitu Alif dan Lam sebagai suatu kesatuan. Nilai unifikasi 30+1.
=> Anda juga dapat bermain dengan nilai gematrik ini dengan mencoba menghitungnya pada nama Anda, nama teman, atau saudara Anda yang berasal dari Bahasa Arab.
Akhir kata, “Mathematics is the language in which God wrote the universe (Matematika adalah bahasa yang digunakan Tuhan dalam menuliskan alam semesta ini)” [Galileo (1564-1642 AD)]
-sebagai langkah awal untuk meyakini sekuat-kuatnya, mempedulikan, dan mengamalkannya (Al-Quran)-
Contoh penerapan nilai numerik huruf Arab:
1. DERAJAT TERTINGGI
2. MENGAPA 19?
3. RAHASIA BESAR SURAH PERTAMA AL-QURAN (AL-FAATIHAH)
4. RAHASIA BESAR BESI, SAINS, & Al-QURAN
Huruf dalam Bahasa Arab disebut Huruf Hijaiyah. Pada zaman Nabi Muhammad ‘belum’ dikenal bilangan/ angka 0,1,2,…,9. Mereka menggunakan huruf-huruf Arab untuk menuliskan bilangan. Nilai masing-masing huruf dinamakan nilai gematria, ini sudah umum digunakan.
Angka yang kita kenal sekarang yaitu (1, 2, 3, dst) sebenarnya dikenal belum lama oleh manusia. Sebelumnya untuk kepentingan perdagangan misalnya orang melakukan penghitungan berdasarkan simbol atau karakter yang merepresentasikan sebuah angka. Dalam sejarah dijumpai beberapa representasi yang berbeda untuk angka-angka atau bilangan dan untuk proses dasar penghitungan. Pada awalnya dijumpai angka-angka yang diucapkan dan angka-angka yang disimbolkan dengan jari tangan (diindikasikan oleh posisi tangan dan jari-jari). Selanjutnya untuk pencatatan secara permanen dan penghitungan diperlukan apa yang disebut sebagai “NUMERAL” yang merupakan sebuah simbol atau karakter yang digunakan untuk mewakili sebuah bilangan.
Kita pasti mengenal betul sistem bilangan Romawi yang masih sangat dikenal pada saat ini, seperti I=1, V=5, X=10, L=50, C=100, D=500 dan M=1000. Misalnya untuk menuliskan 164 disimbolkan dengan CLXIV. Seperti halnya pada sistem bilangan Romawi, sistem bilangan juga dikenal pada huruf-huruf Arab. Bilangan yang ditandai pada setiap huruf dikenal sebagai “nilai numerik (numerical value atau gematrical value)”.
Huruf abjad Arab mempunyai suatu kekhususan dan keunikan, demikian juga huruf-huruf dari kawasan Timur Tengah lainnya, karena selain bermakna sebagai kaidah penyusunan kata dan bahasa, ia dapat menjadi simbol-simbol yang bersifat seni, budaya, bilangan maupun akhirnya menyangkut simbol-simbol spiritual. Bahkan sejatinya, simbolisme huruf telah merupakan suatu hasil dari olah spiritual sebagai pengetahuan tertinggi yang mensintesiskan kaidah pengenalan geometri dan bentuk, bilangan dan akhirnya menjadi huruf, sampai manusia pun mengungkapkan berbagai cerita.
Karena dikembangkan dengan sintesis intuitif dan akal pikiran yang optimum, maka huruf-huruf Arab Hijaiah bukan sekedar huruf semata. Huruf Arab yang mempunyai ciri-ciri geometris dan simbolis dapat mempunyai makna sebagai huruf atau simbol geometris. Misalnya Alif adalah huruf Alif kemudian ia bisa jadi suatu garis atau suatu angka 1 sebagai kelahiran 2 titik menjadi bentuk yang dikenali yang mempunyai makna ganda karena mencakup makna geometris, nilai, dan ungkapan yang dibunyikan dengan suara menjadi “Alif”. Dengan susunan 3 huruf “Alif, Laam, Fa” ketika dihitung berdasarkan huruf dari lafaz pengucapan ia bernilai:
Alif=1, Laam=30, Fa=80 , 1+30+80=111
Tata cara menghitung nilai huruf dalam Bahasa Arab disebut Al-Jumal atau disebut juga Gematria. Al-Jumal huruf Arab, disusun dengan kaidah satuan (9), puluhan (9) , ratusan (9) dan ribuan (1). Susunannya merupakan susunan geometris dalam bujur sangkar 1,9,9,9 dimana kalau kita jumlahkan adalah :
1+9+9+9=28
Hampir setiap muslim telah hafal huruf-huruf Arab, tetapi mungkin hanya segelintir orang yang mengetahui urutan abjad yang sebenarnya. Kalau selama ini kita mengenal abjad Arab dari ALIF sampai YA, itu adalah abjad Arab yang disusun dan dikelompokkan menurut kemiripan bentuknya. Urutan huruf Arab yang sebenarnya adalah dari ALIF sampai GHAIN.
URUTAN ‘abjad Arab sekaligus nilai numeriknya', cukup mudah dihafalkan karena memiliki keunikan: 4-3-4-3 + 4-3-4-3 melalui sebuah syair berikut:
A-BA-JA-DUN HA-WA-ZUN
HA-THO-YA-KUN LA-MA-NUN
SA-NGA-FA-SHUN QO-RO-SYUN
TA-TSA-KHO-DZUN DHO-DHLO-GHUN
Dari syair tersebut diketahui urutannya adalah ALIF, BA. JIM, DAL, HA (untuk kata Arab Huwa), WAU, ZA, HA (untuk kata Arab Hayyun), THO, YA, KAF, LAM, MIM, NUN, SIN, ‘AIN, FA’, SHOD, QOF, RO’, SYIN, TA’, TSA’ (untuk kata Arab Tsa-laa-stah), KHO’, DZAL, DHOD, DHLO (untuk kata Arab Dhluhur), GHOIN. Kita mungkin tidak pernah berfikir bahwa kata abjad diambil dari 4 huruf Arab pertama.
Dengan menguasai Al-Jumal, Anda ke depan akan dapat memahami baik “mathematical miracle” maupun “numerical miracle” dalam Al-Quran.

Atau lebih ringkasnya dapat dihafal melalui tabel berikut:

A=1, BA=2, JA=3, DUN=4 -- HA=5, WA=6, ZUN=7
HA=8, THO=9, YA=10, KUN=20 -- LA=30, MA=40. NUN= 50
SA=60, NGA=70, FA=80, SHUN=90 -- QO=100, RO=200, SYUN= 300
TA=400, TSA=500, KHO=600, DZUN=700 -- DHO=800, DHLO=900, GHUN=1000
Catatan: Huruf Lam-Alif merupakan 1 huruf yang berasal dari 2 huruf yaitu Alif dan Lam sebagai suatu kesatuan. Nilai unifikasi 30+1.
=> Anda juga dapat bermain dengan nilai gematrik ini dengan mencoba menghitungnya pada nama Anda, nama teman, atau saudara Anda yang berasal dari Bahasa Arab.
Akhir kata, “Mathematics is the language in which God wrote the universe (Matematika adalah bahasa yang digunakan Tuhan dalam menuliskan alam semesta ini)” [Galileo (1564-1642 AD)]
-sebagai langkah awal untuk meyakini sekuat-kuatnya, mempedulikan, dan mengamalkannya (Al-Quran)-
Contoh penerapan nilai numerik huruf Arab:
1. DERAJAT TERTINGGI
2. MENGAPA 19?
3. RAHASIA BESAR SURAH PERTAMA AL-QURAN (AL-FAATIHAH)
4. RAHASIA BESAR BESI, SAINS, & Al-QURAN
Selasa, 22 Mei 2012
QODRAT MANUSIA vs HUKUM ALAM!
Pengetahuan berikut harus dapat kita pahami dengan baik...
Burung; hakikatnya adalah terbang bebas di alam, qodratnya adalah mengepakkan sayapnya. Sehingga jika ada burung yang dikurung (dipelihara) dimasukkan kandang kecil/dirantai kakinya, MESKIPUN sebanyak apapun persediaan makanan yang diberikan, seenak apapun makanan itu, termasuk diberi pasangan lawan jenis di dekatnya, dan disayangi oleh pemiliknya, burung itu tidak akan bahagia! PASTI! Kebahagiaan burung itu hanyalah semu, maya, terbalik, dan terpaksa. Yang pasti, ia tidak akan bahagia sepenuhnya.
Manusia: hakikatnya adalah makhluk ciptaan, qodratnya ialah beribadah kepada Sang Pencipta. Sudah dijelaskan Allah di Q.S. Adz-Dzaariyaat: 56. Banyak dari kita hafal luar kepala ayat ini, tetapi ‘sekadar hafal’ saja tanpa mengerti, tanpa paham, dan tanpa menghayati.
Fakta: sehingga banyak manusia tidak merasa bahagia. Dan dari yang merasa bahagia pun sebagian besar dari mereka hanyalah “kebahagiaan semu”; kesenangan semu yang amat payah! Ia selalu tertawa, selalu ceria, hidup sangat berkecukupan, keinginan terpenuhi, namun “HATI” mereka BERANTAKAN. Ya, karena mereka tidak memahami qodrat manusia. Di saat bersama teman-teman ia terlihat bahagia, namun di saat sendirian pikirannya sering hancur, hatinya remuk, jiwanya diliputi sebuah kegelisahan dan ketakutan yang amat besar (payahnya mereka sering ‘menyangkal’ hal ini, sehingga melupakan hal ini, malah melupakan adanya siksa akhirat, ia tahu akhirat ada, namun tidak mencari tahu gambaran akhirat, tidak tahu seperti apa siksa akhirat itu, seberapa keras siksa-NYA, sehingga akhirat pun akan hilang dari pandangannya, lalu hari-harinya pun berlalu menjadi seolah mumi berjalan
Laksana makan buah melon. Mereka hanya makan bagian 1 cm dari kulit luarnya saja. Ya, rasanya memang sudah cukup manis, meski keras. Tapi yang jauh lebih manis, empuk, dan lezat tentu bagian tengah mendekati biji. Inilah ibarat orang yang mengerti & memahami qodrat manusia. Ia merasakan manis yang sejati (kebahagiaan sejati).
Fakta: masih banyak kaum muslim yang hatinya was-was, khawatir, seperti ada rasa takut dan gelisah. Hatinya tidak tenang dan tenteram (apalagi orang kafir?). Pandangannya sempit, sehingga hatinya pun sempit. Kita tidak bisa menyangkal lagi kenyataan miris ini, dimana manusia telah banyak berorientasi kepada dunia, dimana zaman telah mendekati kehancuran. Sungguh beruntung orang yang tetap dalam visi besar kepada akhirat. Maka satu-satunya jalan adalah dengan membuka pandangan kaum muslim selebar-lebarnya melalui pilihan ilmu-ilmu terbaik dan mendasar. Semua tetap akan sia-sia tanpa adanya mengerti, paham, dan menghayati yang diikuti istiqomah.
Percayalah, kita tidak akan bahagia tanpa melakukan qodrat utama kita. Tentu tidak sekadar asal melakukan qodrat, tetapi haruslah disertai dengan kesungguhan. Tentu pembaca mengerti maksudnya.
Jika pun kita masih belum bahagia, jawaban pasti adalah “ada masalah dengan ibadah kita”.
~ibarat berbunga tiada harum tiada warna...
~ibarat membara tanpa bahan dan tanpa apinya....
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, HANYA DENGAN mengingat Allah-lah hati menjadi TENTERAM.” (Q.S. Ar-Ra’du: 28)
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi TENANG kulit dan hati mereka DI WAKTU mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.” (Q.S. Az-Zumar: 23)
Tulisan terkait:
“MAKNA HIDUP ‘SEIMBANG’ YANG SESUNGGUHNYA!”
(untuk menguatkan pandangan dalam rangka membawa perubahan, lebih menyempurnakan program revolusi pandangan untuk segera menuju revolusi amal) :)
Burung; hakikatnya adalah terbang bebas di alam, qodratnya adalah mengepakkan sayapnya. Sehingga jika ada burung yang dikurung (dipelihara) dimasukkan kandang kecil/dirantai kakinya, MESKIPUN sebanyak apapun persediaan makanan yang diberikan, seenak apapun makanan itu, termasuk diberi pasangan lawan jenis di dekatnya, dan disayangi oleh pemiliknya, burung itu tidak akan bahagia! PASTI! Kebahagiaan burung itu hanyalah semu, maya, terbalik, dan terpaksa. Yang pasti, ia tidak akan bahagia sepenuhnya.
Manusia: hakikatnya adalah makhluk ciptaan, qodratnya ialah beribadah kepada Sang Pencipta. Sudah dijelaskan Allah di Q.S. Adz-Dzaariyaat: 56. Banyak dari kita hafal luar kepala ayat ini, tetapi ‘sekadar hafal’ saja tanpa mengerti, tanpa paham, dan tanpa menghayati.
Fakta: sehingga banyak manusia tidak merasa bahagia. Dan dari yang merasa bahagia pun sebagian besar dari mereka hanyalah “kebahagiaan semu”; kesenangan semu yang amat payah! Ia selalu tertawa, selalu ceria, hidup sangat berkecukupan, keinginan terpenuhi, namun “HATI” mereka BERANTAKAN. Ya, karena mereka tidak memahami qodrat manusia. Di saat bersama teman-teman ia terlihat bahagia, namun di saat sendirian pikirannya sering hancur, hatinya remuk, jiwanya diliputi sebuah kegelisahan dan ketakutan yang amat besar (payahnya mereka sering ‘menyangkal’ hal ini, sehingga melupakan hal ini, malah melupakan adanya siksa akhirat, ia tahu akhirat ada, namun tidak mencari tahu gambaran akhirat, tidak tahu seperti apa siksa akhirat itu, seberapa keras siksa-NYA, sehingga akhirat pun akan hilang dari pandangannya, lalu hari-harinya pun berlalu menjadi seolah mumi berjalan
Laksana makan buah melon. Mereka hanya makan bagian 1 cm dari kulit luarnya saja. Ya, rasanya memang sudah cukup manis, meski keras. Tapi yang jauh lebih manis, empuk, dan lezat tentu bagian tengah mendekati biji. Inilah ibarat orang yang mengerti & memahami qodrat manusia. Ia merasakan manis yang sejati (kebahagiaan sejati).
Fakta: masih banyak kaum muslim yang hatinya was-was, khawatir, seperti ada rasa takut dan gelisah. Hatinya tidak tenang dan tenteram (apalagi orang kafir?). Pandangannya sempit, sehingga hatinya pun sempit. Kita tidak bisa menyangkal lagi kenyataan miris ini, dimana manusia telah banyak berorientasi kepada dunia, dimana zaman telah mendekati kehancuran. Sungguh beruntung orang yang tetap dalam visi besar kepada akhirat. Maka satu-satunya jalan adalah dengan membuka pandangan kaum muslim selebar-lebarnya melalui pilihan ilmu-ilmu terbaik dan mendasar. Semua tetap akan sia-sia tanpa adanya mengerti, paham, dan menghayati yang diikuti istiqomah.
Percayalah, kita tidak akan bahagia tanpa melakukan qodrat utama kita. Tentu tidak sekadar asal melakukan qodrat, tetapi haruslah disertai dengan kesungguhan. Tentu pembaca mengerti maksudnya.
Jika pun kita masih belum bahagia, jawaban pasti adalah “ada masalah dengan ibadah kita”.
~ibarat berbunga tiada harum tiada warna...
~ibarat membara tanpa bahan dan tanpa apinya....
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, HANYA DENGAN mengingat Allah-lah hati menjadi TENTERAM.” (Q.S. Ar-Ra’du: 28)
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi TENANG kulit dan hati mereka DI WAKTU mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.” (Q.S. Az-Zumar: 23)
Tulisan terkait:
“MAKNA HIDUP ‘SEIMBANG’ YANG SESUNGGUHNYA!”
(untuk menguatkan pandangan dalam rangka membawa perubahan, lebih menyempurnakan program revolusi pandangan untuk segera menuju revolusi amal) :)
Langganan:
Postingan (Atom)

+HURUF-HURUF+ARAB.gif)
