Sabtu, 28 Juni 2014

PANDUAN WAJIB MEMILIH PEMIMPIN BAGI MUSLIM


-Panduan yang sudah mulai dilupakan umat akhir zaman, baik dalam memilih pemimpin dari tingkat kecil/masyarakat sampai tingkat negara-


Setelah pada tulisan sebelumnya sedikit kita bahas aspek bagi para pemimpin melalui tulisan "PERINGATAN KERAS UNTUK PARA (CALON) PEMIMPIN DALAM PEMILU", agaknya sangat diperlukan juga aspek bagi pihak yang akan menentukan pemimpin, apalagi menjelang pilpres tak lama lagi (beda dengan berita-berita yang membanjiri media, di sini tidak akan ‘berkampanye’).

PENDAHULUAN

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing.” (H.R. Muslim - shahih)

Dan semestinya kita sadar bahwa saat ini sudah berada dalam masa pengasingan itu! Sangat bisa jadi, hal ini muncul karena dipicu dari orang yang memiliki kekuasaan (pemimpin). Ya, pemimpin! Dan termasuk salah satu tanda akhir zaman yang shahih adalah diangkatnya ilmu, tersebarnya kebodohan, pemimpin yang menyesatkan, maupun pemimpin yang bodoh, bahkan Nabi Muhammad saw dalam haditsnya amat meresahkan masalah ini.

“Sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku adalah (berkuasanya) para pemimpin yang menyesatkan.” (H.R. Abu Dawud, Trimidzi, Ahmad, Ad-Darimi - shahih)

 “Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, di masa itu para pendusta dipercaya sedangkan orang jujur didustakan, di masa itu para pengkhianat diberi amanah sedangkan orang yang amanah justru dituduh khianat, dan pada masa itu muncul Ruwaibidhah, ditanyakan kepada beliau saw. ‘apa itu Ruwaibidlah?’  Rasul menjawab: ‘seorang yang bodoh (yang dipercaya berbicara) tentang masalah orang banyak/publik’.” (H.R. Ibnu Majah, Ahmad - shahih)

PEMIMPIN MEMEGANG PERANAN YANG SANGAT MENENTUKAN apakah diterapkan tidaknya hukum-hukum-Nya, diadopsi tidaknya hukum maupun budaya kebebasan barat, dilarang tidaknya ajaran Islam untuk dilaksanakan, bahkan dibiarkan hidup tidaknya nyawa orang beriman.
*Bukan berarti mengakui pemimpin sebagai pembuat hukum non administratif/syariat sehingga dianggap merusak aqidah karena hanya Allah satu-satunya pembuat/penetap hukum, akan tetapi tentang bagaimana perlakuan pemimpin tersebut terhadap hukum-Nya.

Semestinya umat Islam bercermin dari pengalaman pemimpin Turki yang mulai mengadopsi konsep barat serta mulai meninggalkan konsep Islam, dan akhirnya kejayaan keilmuan Islam berakhir pada masa pemimpin tersebut melalui runtuhnya Turki Usmani.
Lihatlah penyiksaan sadis berdarah dan penguburan hidup-hidup muslim di Suriah yang masih belum usai.
Lihatlah penghabisan tak bersisa seluruh muslim di Afrika Tengah belum lama ini dengan cara keji, mutilasi, dan kanibal! Ingat juga pembantaian dan genosida massal muslim Rohingya, Myanmar.
Lihatlah pembantaian dan pembakaran hidup-hidup muslim di Mesir juga belum lama ini.
Lihatlah apa yang terjadi di negara-negara Timur Tengah sejak sekian lama, penjajahan terhadap kaum muslim.
Lihatlah apa yang terjadi di Suriah kini, pembantaian sekeji-kejinya nyawa orang muslim, karena telah dipimpin oleh penguasa syiah kafir yang memang menghalalkan darah kita umat muslim. Di sana semuanya mahal, “kecuali nyawa”.

Sungguh, kita berharap Indonesia tidak menjadi negeri berdarah seperti di negara-negara Timur Tengah. Ya, semua itu tidak akan terjadi jika pemimpin BERSAMA DENGAN ORANG-ORANG DI SEBALIKNYA tidak “membawa misi” politik yang berbasis agama. Hal ini telah dijelaskan pula dalam ayat:

Al-Baqarah
2:217. “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.”

Oleh karenanya, tidak semestinya seorang muslim tidak peduli dengan siapa yang akan memimpin masyarakat/negerinya.

Terkait sistem pemilu/demokrasi dalam perspektif Islam, silakan baca terlebih dahulu fatwa dari para ulama besar tentang hal ini:

Apa yang dapat kami simpulkan akhirnya bukanlah menyalahkan salah satu pendapat (karena ijtihad jika benar dua pahala, jika salah satu pahala), bukan tentang ada atau tidaknya pemilu di zaman Nabi, bukan tentang terlarang dalam memilih atau tidak memilihnya, tetapi bagaimana dengan tepat menghadapi berbagai kondisi yang kompleks dan terus berubah-ubah di era akhir zaman, hingga kini pemilu Indonesia telah memasuki pemilu yang sangat berbeda dari pemilu-pemilu sebelumnya.

Secara sederhana, dapat diilutrasikan sebagai berikut:

Dari 100 orang, jumlah muslim dan kafir berimbang, ada 2 calon pemimpin dari muslim dan dari kafir*.
Apabila banyak kaum muslim yang tidak peduli, maka pasti pemimpin kafir yang terpilih, hal ini sama saja MELANGGAR LARANGAN ALLAH karena SECARA TIDAK LANGSUNG menjadikan pemimpin kafir (apalagi orang kafir tersebut membawa “misi” anti Isam). Dalam kondisi tersebut, yang terlarang adalah tidak memilih. Namun, memilih pun bisa menjadi terlarang apabila ia justru memilih pemimpin kafir tersebut.
Bagaimana jika dari 100 orang tersebut hampir semuanya kafir dan ada 2 calon pemimpin kafir yang sama-sama memusuhi Islam? Atau dari 100 orang tersebut hampir semuanya muslim dan ada 2 calon pemimpin muslim yang sama-sama meninggalkan hukum-Nya karena tertarik dengan hukum barat? Maka lebih baik ia tidak terlibat.
*kafir maupun Islam yang sekuler/liberal/pluralisme.

Oleh karena itu, KATA KUNCINYA adalah tentang bagaimana keberlangsungan agama dan hukum Allah di tangan pemimpin setelah ia menjadi pemimpin, bukan menyoroti tentang bagaimana alternatif jalan menuju posisi pemimpin, bukan menyoroti tentang memilih tidaknya, dan bukan menyoroti tentang ada tidaknya demokrasi di zaman Nabi.
*Sistem monarki (kerajaan) yang dipilih berdasarkan keturunan (bukan kekhalifahan) yang mana sistem ini juga tidak ada/tidak diajarkan Nabi dan para sahabat, namun dapat mengantarkan Islam menuju ke puncak kejayaan.
**Sistem demokrasi yang kini telah dicampuri dengan ambisi, kedustaan, dan kesombongan memang bukanlah jalan Nabi, dan Islam memang tidak akan berjaya dari sistem ini sampai turunnya Imam Mahdi dan Nabi Isa. Namun, ketidakpedulian lah yang akan mengakibatkan merajalelanya kemunkaran dengan cepat, ketidakpedulian lah yang dapat mempercepat kehancuran dan pengasingan Islam itu, karena sistem politik internasional zaman ini sudah dirasuki gerakan politik berbasis agama untuk menyerang dan ‘melenyapkan’ Islam.

Setelah kita memahami betapa pentingnya peran pemimpin, mari kita simak inti dari pembahasan ini.

KAIDAH-KAIDAH YANG WAJIB DIPERHATIKAN

Al-Maaidah
5:51. “Hai orang-orang yang beriman, JANGANLAH KAMU MENGAMBIL ORANG-ORANG YAHUDI DAN NASRANI MENJADI PEMIMPIN-PEMIMPIN (MU); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. BARANG SIAPA DI ANTARA KAMU MENGAMBIL MEREKA MENJADI PEMIMPIN, maka sesungguhnya orang itu TERMASUK GOLONGAN MEREKA.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.”
*Berhati-hatilah dengan bisikan syetan dan jangan pernah kita mengatakan “pemimpin Islam aja nggak amanah, korupsi lagi, ya mendingan orang kafir asalkan baik dan bisa mimpin.” Tidak ada yang berhak menantang larangan Allah pada ayat tersebut.

5:57. “Hai orang-orang yang beriman, JANGANLAH KAMU MENGAMBIL JADI PEMIMPINMU, orang-orang yang MEMBUAT AGAMAMU JADI BUAH EJEKAN DAN PERMAINAN*, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.”
*termasuk orang-orang yang mengaku beriman namun mempermainkan agama.

Al-A’raaf
7:27. “Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.”

At-Taubah
9:23. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, JIKA MEREKA LEBIH MENGUTAMAKAN KEKAFIRAN ATAS KEIMANAN dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.”
*termasuk mereka yang mengaku beriman namun mengutamakan/membela kekafiran/kesesatan.

Al-Ahzab
33:67. Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).”
33:68. “Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar".

Al-Mujadilah
58:22. “Kamu TIDAK AKAN MENDAPATI sesuatu KAUM YANG BERIMAN KEPADA ALLAH DAN HARI AKHIRAT, SALING BERKASIH SAYANG DENGAN ORANG-ORANG YANG MENENTANG ALLAH DAN RASUL-NYA, SEKALIPUN orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka.”
*Yang dimaksud ialah kafir harbi, bukan kafir dzimmi. Adapun kafir dzimmi inilah yang akan hidup rukun dengan umat Islam, bahkan Rasulullah saw dalam Hadits Riwayat Thabrani menyatakan bahwa siapa yang mengganggu kafir dzimmi, maka sungguh ia telah menggangguku.

Al-Qalam
68:8. “Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah.”
*Jangan pula kita mengikuti orang-orang/kelompok/partai yang mengingkari ayat-ayat dan hukum Allah, bahkan menentangnya.


Walau bagaimanapun, pemimpin merupakan cerminan rakyatnya. Apa yang masing-masing terus bisa kita lakukan adalah dimulai dengan memperbaiki diri untuk memperbaiki komunitas. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’du [13]:11)
------------------------------

SIMPULAN

Jadi, pertanyaannya bukan “siapa yang memimpin?” tetapi “dengan apa dia memimpin?”. Jika ia memimpin dengan Kitabullah dan Sunnah, maka siapapun sosoknya kita wajib taat. Namun, jika sebaliknya, maka Allah dan Rasul-Nya lah yang harus ditaati.

Bukan hanya tentang siapa dia, tetapi juga siapa orang-orang/kelompok/partai di belakangnya.

Bukan tentang hasil/prestasi apa saja yang pernah diperoleh, tetapi tentang siapa yang lebih amanah, siapa yang lebih jujur, dan siapa yang lebih memegang janji.

Bukan tentang siapa yang merakyat atau siapa yang tegas, bukan tentang siapa yang lebih ilmiah, tetapi tentang siapa yang membela ajaran/hukum Islam, atau setidaknya siapa yang tidak akan menghalangi syariat Islam.

Bukan tentang bagaimana pertumbuhan ekonomi jika ia memimpin, tetapi bagaimana keberlangsungan agama dan hukum Allah jika ia memimpin.

Bukan tentang siapa yang akan meningkatkan gaji/upah Anda, bukan tentang siapa yang dapat memajukan Indonesia, tetapi tentang siapa yang sanggup menciptakan kedamaian dan kerukunan antar umat beragama, tentang siapa yang berani memberantas kejahatan dan kemaksiatan, siapa yang berani menumpas/menutup tempat pelacuran, siapa yang berani menegakkan hukum langit hukuman mati/rajam/potong tangan atau potong tubuh secara silang.

Bukan tentang siapa yang lebih bagus program-programnya,  tetapi tentang iman dan pembelaan kita terhadap agama Allah.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jumat, 04 April 2014

PERINGATAN KERAS UNTUK PARA (CALON) PEMIMPIN DALAM PEMILU

Sebuah wacana yang sepertinya banyak dilupakan,

PERTAMA,

Pembagian tauhid merupakan hasil ijtihad para ulama, dan pembagian yang sudah sangat lazim adalah tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma wa shifat. Sehubungan dengan semakin kompleksnya zaman dan fiqh yang terus berkembang, ulama-ulama kontemporer mulai menyoroti adanya tauhid keempat yang disebut degan tauhid hakimiyah, yang sebenarnya ini merupakan “bagian” dari tauhid uluhiyah. Namun, kaum muslimin muslimat seakan telah melalaikan betapa urgennya tauhid hakimiyah ini bahkan semakin maraknya sekularisme sehingga pembagian tauhid kini menjadi empat jenis:

1.      Tauhid rububiyah; menjelaskan bahwa dunia dari tingkat quark-atom-molekul sampai dengan tingkat galaksi-cluster-supercluster-supercluster complex-universe (alam semesta) terjadi tidak mungkin secara kebetulan, namun ada yang menciptakan, mengatur, dan memelihara alam semesta.
2.      Tauhid uluhiyah; memastikan bahwa Allah adalah Tuhan yang menciptakan alam semesta dan penghuninya tersebut baik dari jin dan manusia, dan hanya kepada Allah manusia semestinya menyembah, beribadah, dan mengabdi sebagai seorang hamba.
3.      Tauhid asma wa shifat; mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat Allah yang agung dan sempurna.
4.      Tauhid hakimiyah; mempercayai bahwa Allah adalah satu-satunya pemberi hukum, untuk mengatur dengan syariah (hukum Allah).
*Tawheed Al-Hakimiyyah: to believe that Allah is the only Law-Giver, to rule by the shariah (Allah’s Law).
*”Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan/hukum."(Al-Kahfi: 26), “Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah?” (Al-An’aam: 114)
*Istilah tauhid hakimiyyah datang dari ulama kontemporer, bukan dari Nabi, namun kami tegaskan bahwa ketiga tauhid lainnya juga bukan dari Nabi, semuanya merupakan ijtihad ulama. Sungguh sangat disayangkan pemahaman bagi kelompok yang berpemahaman sempit yang menolak jenis tauhid ini, padahal ada banyak ayat Al-Quran yang secara nyata menjelaskan ini. Istilah maupun pembagian tidaklah begitu penting, yang penting adalah maksud dari apa yang disampaikan bersandarkan pada dalil yang jelas.

“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah.” (Yusuf: 40)
“Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.” (Al-Maaidah: 1)
“Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya),” (Ar-Ra’du: 41)
“Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (Asy-Syuura: 10)
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Maaidah: 49)
“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Al-Maaidah: 50)
“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Al-Baqarah: 85)
“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu.” (Asy-Syuura: 15)
“Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al-Maaidah: 44)

Renungan:
Di negara Amerika Serikat, anggota parlemen/legislatif disebut sebagai “Law Maker” (pembuat hukum), sementara di Indonesia anggota legislatif diplesetkan menjadi perwakilan rakyat, padahal sama saja mereka juga berwenang menetapkan/merumuskan hukum, namun sayangnya untuk hukum-hukum yang bersifat non administratif, mereka mengabaikan hukum yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta Alam Semesta, entah pemimpin itu muslim, terlebih lagi kafir.

Sungguh ancaman Allah sangat keras bagi “yahkum”, yaitu setiap mereka yang memiliki kewenangan memutuskan hukum namun bertentangan dengan hukum Allah, bahkan mengagung-agungkan hukum yang diadopsi dari Barat. Ya, MESKIPUN mereka mengaku beriman dan mendirikan shalat, apakah mereka beriman kepada sebagian ayat lalu mengingkari sebagain ayat yang lain?

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang MENGAKU DIRINYA TELAH BERIMAN kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (An-Nisaa: 60)

Dan lihatlah sampai dengan detik ini, bagi setiap partai yang mengatasnamakan nasionalisme maupun partai yang mengatasnamakan partai syariah, bahkan tak satupun sampai saat ini lahir konsep proposal tentang penegakan hukum Allah, sementara bagi mereka musuh-musuh Islam bahkan terus berupaya keras merasuki hukum-hukum Indonesia dengan hukum-hukum thaghut, dari sekularisme, materialisme, legalisasi riba, pluralisme, liberalisme, kesetaraan gender, dsb. Kami tak pernah mendengar hukum-hukum Allah, bahkan hukum-hukum yang langsung diturunkan dari langit seperti hukum qishash, rajam, potong tangan, potong anggota tubuh silang, yang mereka perjuangkan??? Mana bukti partai yang mengatasnamakan syariah? Bukankah sudah sangat keras ancaman Allah tentang itu.

“Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al-Maaidah: 44)

KEDUA,

“Janganlah kamu meminta jabatan/kekuasaan, sebab jika engkau diberi jabatan/kekuasaan karena meminta, kamu akan ditelantarkan (Allah), dan jika kamu diberi jabatan dengan tidak meminta, maka kamu akan ditolong (Allah).” (H.R. Bukhari – shahih, dan hadits dengan makna seperti ini cukup banyak diriwayatkan oleh para perawi hadits)
“Kami tidak mengangkat orang yang berambisi terhadap kedudukan.” (H.R. Abu Dawud – shahih)
Dan ketika ada orang yang meminta kekuasaan kepada Nabi, Nabi menjawab“Kami tidak menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang berambisi untuk mendapatkannya.” (H.R. Bukhari - shahih}
“Kalian akan berambisi untuk mendapatkan jabatan/kekuasaan, padahal ia akan menjadi penyesalan dan kerugian pada hari kiamat.” (H.R. Bukhari, Nasa’I - shahih)
“… Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan KECUALI orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpianan tersebut." (H.R. Muslim - shahih)
“Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah gerombolan kambing lebih merusak daripada merusaknya seseorang terhadap agamanya disebabkan ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan yang tinggi.” (H.R. Tirmidzi – shahih)

Renungan:
Memang terdapat pula pendapat bahwa meminta jabatan/kekuasaan dibolehkan, dengan berbagai syarat yang sekarang ini agaknya amat sulit ditemui: kompeten/ahli, adil, kuat, berjiwa pemimpin dan tidak akan terpengaruh oleh tekanan dari luar, wara’, zuhud, berusaha menegakkan yang haqq, dan mengutamakan kepentingan umat, dengan berusaha meneladani kepemimpinan Umar Bin Khaththab atau para sahabat yang mulia.

Ya, namun sistem demokrasi yang diciptakan oleh negara-negara Barat bukanlah jalan Nabi, sistem yang saat ini telah memiliki tiga: Pertama, sistem yang dirancang untuk berambisius kepada kedudukan, jabatan, dan kekuasaan. Kedua, menyamakan suara seorang pendusta dengan seorang yang memegang kebenaran, menyamakan suara seorang pemabuk dengan seorang alim ulama, seorang pencari kemewahan dengan seorang pencari keadilan. Ketiga, sistem yang dirancang untuk memunculkan kesombongan dan merasa besar, serta banyak ditempel di jalan-jalan dengan spanduk/foto yang besar. Bahkan dapat lebih dari itu dengan menggunakan cara-cara kotor. Seandainya, demokrasi dapat meniadakan tiga hal tersebut dan sistem seleksi calon pemimpin yang ketat berdasarkan keilmuan dan keadilan, demokrasi bisa saja menjadi cara yang baik dalam memilih pemimpin.

Namun sayangnya, sekali lagi itu bukanlah jalan Nabi, dan itulah mengapa pada saat yang ditetapkan sesuai ketentuan Allah, Muhammad bin ‘Abdulllah (Imam Mahdi) diangkat menjadi pemimpin umat Islam dengan paksa, dibaiat secara paksa di Makkah, dan ketika itu juga Imam Mahdi menangis menolak bahwa bukan dia Imam Mahdi itu, namun pada hari berikutnya, dengan kuasa dan pertolongan Allah ia telah siap menjadi pemimpin umat Islam yang adil dan akan mengakhiri masa kelam sejarah kehidupan umat Islam untuk dimenangkan-Nya atas semua agama dan bersama Nabi Isa as memerangi Al Masih Ad-Dajjal.

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (Al-Fath: 28)

Kiranya cukuplah dua hal tadi menjadi renungan keselamatan dunia akhirat bagi para (calon) pemimpin/legislatif. Semoga tulisan ini bermanfaat baginya. Aamiin.

Aspek lebih jauh yang masih sangat berkaitan, sedikit diuraikan dalam tulisan berikut:

KETIGA,

“Sistem fitnah Dajjal”

Ya, Ad-Dajjal memang masih terbelenggu dan tersembunyi di suatu daerah di bumi ini sejak ribuan tahun yang lalu dan memang satu-satunya yang memiliki umur terpanjang dan merupakan manusia yang diberikan Allah kekuatan hingga manusia nanti akan menuhankannya. Seperti halnya Ya’juj dan Ma’juj, bahwa ia akan keluar pada masa waktu yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta.

Setiap Nabi memperingatkan dengan keras tentang dahsyatnya fitnah (kekacauan/kemunkaran) yang ditimbulkan oleh Ad-Dajjal. Dan Nabi Muhammad saw adalah Nabi terakhir, maka pasti Ad-Dajjal akan keluar pada masa umat Nabi Muhammad saw, umat dimana kita hidup sekarang ini! Ya, sekali lagi Ad-Dajjal adalah PUNCAK FITNAH, adapun sekarang ini dunia telah dirancang dengan sistem Dajjal yang terbentuk atas berbagai fitnah untuk memunculkan berbagai tingkat kemaksiatan-kemunkaran seperti sebuah piramida dimana piramida tersebut nantinya akan dipimpin oleh Ad-Dajjal. Ad-Dajjal hanya akan keluar jika sistem dunia ini telah siap menyambutnya sebagai puncak fitnah.

Dan, sebuah rahasia mengenai kelompok-kelompok yang berkuasa “di balik”banyak kepemimpinan negara-negara dunia termasuk negara Amerika Serikat lah yang merancang “sistem Dajjal” ini sejak lama, sebuah sistem penuh fitnah/kemunkaran dari berbagai sendi kehidupan yang mempersiapkan datangnya puncak fitnah Al Masih Ad-Dajjal, tentu saja mereka adalah kelompok konglomerat hitam Yahudi penyembah dan bekerja sama dengan syetan dan penanti datangnya Ad-Dajjal sang mata satu yang justru diyakininya sebagai penyelamat*. Dan kini, sistem ini sudah semakin menunjukkan eksistensinya di berbagai lapis kehidupan masyarakat maupun “pemerintahan”.

*Untuk info lebih jauh, silakan Saudara cari informasi mengenai kelompok rahasia freemason-illuminati, bagaimana dan apa tujuannya. Mengapa jumlah atheis di dunia sudah dalam hitungan milyar dan para pelaku ritual syetan semakin menyebar? Juga mengapa dahulu ada uang emas sekarang berganti dengan uang kertas, lantas siapa yang menguasai emas saat itu dan ditimbun sampai saat ini? Mengapa uang dollar yang dipakai internasional menggambarkan “novus ordo seclorum” di bawah kendali mata satu? Mengapa ada konsep bunga dalam bank? Mengapa dibentuk bank sentral dunia? Mengapa liberalisasi wanita dan free-sex semakin gencar? Mengapa media informasi semakin bias dan busuk dan/atau mengandung pesan-pesan terselubung? Mengapa negara-negara di Timur Tengah terjadi konflik dan pembantaian?

Maka akan sangat sulit menegakkan hukum Allah dalam masa kelam sistem fitnah Dajjal ini (pada babak ke-4 hingga akhirnya menegakkan yang haqq akan seperti memegang bara api) kecuali ia berani mati syahid di jalan Allah, sampai tiba saatnya Allah mempergilirkan kemenangan kembali berada di tangan umat-Nya setelah kepemimpinan Yahudi atas dunia (kekhalifahan pada babak ke-5)*. Karena sistem dan misi rahasia mereka pun sudah merancang bagaimana membinasakan setiap yang tidak mengikuti gerakan tersembunyi mereka. Tak sedikit orang alim yang pada awalnya sangat ingin berjuang di jalan Allah, namun karena cengkraman sistem Dajjal yang sangat kuat ini pada akhirnya mereka menjadi ibarat menjatuhkan diri dalam lubang kebinasaan dan kenistaan. Ini juga merupakan bukti bahwa ia TIDAK ditolong oleh Allah. Bukankah sudah kerap kali terjadi?

*Menurut hadits shahih, riwayat Ahmad, bahwa sejarah umat Nabi Muhammad hingga menjelang hari kiamat terdiri dari 5 babak, babak 1 kenabian… babak 2 kekhalifahan… babak 3 raja-raja yang menggigit… babak 4 para penguasa diktator (mulkan jabriyyan) selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya ketika Allah berkehendak untuk mengangkatnya, setelah itu datang kembali babak 5 kekhalifahan.

Tentu memilih kemudharatan yang sedikit lebih kecil lebih baik daripada memilih kemudharatan yang besar. Namun, sistem pemilu yang semakin liar di era pembentukan sistem Dajjal ini, bagi satu pihak ia menjatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan, bagi pihak yang lain ia menjorokkan Saudaranya ke dalam lubang kebinasaan.

Ketika saat ini kita sudah terjebak dalam sistem ini, maka berhati-hatilah terhadap siapa yang Anda pilih, jauhilah dan sebarkanlah jika terdapat pilihan pemimpin yang memang akan mengancam (misalnya Jalaludin Rahmat, pemimpin syiah Indonesia, dan ini justru termasuk salah satu ghibah yang dibenarkan dan sangat diperlukan, atau pilihan non muslim lainnya sebagaimana ancaman Allah telah tegas melarangnya langsung dari Al-Quran, termasuk pilihan muslim yang menggandeng non muslim (red), serta kini telah banyak pula pilihan muslim yang cenderung sekuler/memisahkan antara hukum pemerintahan dengan agama), dan bagi yang dipilih berhati-hatilah dan renungkan peringatan-peringatan keras dalam ayat-ayat dan hadits Nabi yang telah kami sampaikan.

Satu hal yang perlu kita sikapi terhadap dua kubu perbedaan pendapat, ada yang mengatakan ikut memilih adalah haram, dan ada pula pendapat tidak ikut memilih lah yang haram. Maka semestinya kita berlepas diri dari pertentangan mereka, merangkul keduanya, dan mengatakan kepada keduanya, yang haram bukan memilih atau tidak memilihnya, tetapi yang haram adalah memilih pemimpin kafir maupun pemimpin non kafir yang sekuler dan yang haram adalah membiarkan kepemimpinan tersebut berada di tangan mereka yang memusuhi hukum Allah. Memilih bisa menjadi haram dan tidak memilih pun bisa menjadi haram.

Apa yang dapat kita lakukan, adalah menjaga diri, keluarga dan orang-orang terdekat, berwala’ dan baro’ hingga semakin meluas kaum muslimin muslimat yang memiliki visi yang sama dalam penegakan hukum Allah yang mendasar, dan menghentikan segala jenis pertentangan khilafiyah yang sungguh memprihatinkan untuk persatuan umat, serta bersama-sama mewaspadai bahaya fitnah sistem Dajjal yang telah diperingatkan oleh para Rasul-Nya yang mana merupakan ujian keimanan akan adanya hari akhir bagi hamba-hamba-Nya.

“Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti malam yang gelap gulita.” (H.R. Muslim – shahih)

Wallahua’lam, Maha Suci Allah atas segala ketetapan yang akan berlaku.


Wassalamu’alaikum wr. Wb.

Minggu, 07 Juli 2013

CARA MENYIKAPI PERBEDAAN PENENTUAN AWAL RAMADHAN


Kapan 1 Ramadhan?
Menurut metode hishab telah lama dipastikan jatuh pada hari Selasa, 9 Juli 2013 (untuk tahun 2014: Sabtu, 28 Juni 2014).
Menurut metode rukyat harus melihat bulan pada malam sebelumnya, tetapi dengan hasil perhitungan hishab menunjukkan bahwa bulan belum bisa dilihat pada malam tersebut (walaupun hakikatnya sudah ijtimak), sehingga 1 Ramadhan jatuh pada hari Rabu, 10 Juli 2013 (untuk tahun 2014: Ahad, 29 Juni 2014).
Perkara ini termasuk perkara fiqh yang memang memberikan ruang ijtihad yang berbeda. Namun, kuncinya dalam ijtihad adalah 1 pahala atau 2 pahala (bukan pahala atau dosa, red) selama memiliki landasan dan kaidah yang dapat diterima.

Amat prihatin kala kita membaca tulisan-tulisan da’wah maupun lisan-lisan sebagian pihak yang mempermasalahkan hal ini sampai timbul cacian, hinaan, pertentangan, maupun kata-kata dan tulisan yang menyakitkan kesatuan umat muslim. Bahkan menimbulkan permusuhan dan merasa surga serasa miliknya atau milik kelompoknya. Sungguh hal ini merupakan kepayahan umat akhir zaman.

Mereka yang dengan kuat menyalahkan yang lain lazim justru menunjukkan kekurangfahamannya meskipun ia seorang yang berilmu. Mereka yang meyakini apa yang diyakininya namun tidak menyalahkan yang lain karena masih dalam satu kaidah, bahkan menghormatinya menunjukkan kefahamannya serta tingkat keilmuannya, sebagaimana para ulama besar terdahulu yang sering kali berbeda tapi enggan menonjolkan keangkuhan.
                                                                       
Sebelum itu, ada baiknya mari kita coba simak perbedaan dasar/dalil sebagai “alat pengambilan hukum” masing-masing pendapat yang kami ketahui:

METODE RUKYATUL HILAL:
1.      Rukyat adalah melihat hilal (bulan sabit) ketika matahari terbenam tanggal 29 bulan Qamariyah, Seandainya hilal berhasil dilihat, maka sejak matahari terbenam tersebut sudah terhitung bulan baru, jika tidak terlihat, maka malam itu dan keesokan harinya masih merupakan bulan yang sedang berlanjut dalam arti bulan adalah 30 hari. Keberhasilan rukyatul hilal tergantung pada situasi cuaca, ketelitian mata si perukyat, akurasi teropong/teleskop. Namun demikian, tidak selamanya hilal dapat terlihat. Jika selang waktu antara ijtimak dengan terbenamnya matahari terlalu pendek.
2.      Metode panafsiran tekstual/letterlek (mengambil hukum apa adanya sesuai bunyi lafal dari nash/dalil):
Al Baqarah; 2:185. … “faman syahida minkumussyahra falyashumhu” (Karena itu, barang siapa di antara kamu melihat bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu)

Dan hadits shahih yang intinya berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal).

Rasulullah saw. bersabda: “Apabila engkau melihat hilal (awal bulan Ramadan), maka hendaklah engkau memulai puasa. Apabila engkau melihat hilal (awal bulan Syawal), maka hendaklah engkau berhenti puasa. Dan apabila tertutup awan, maka hendaklah engkau berpuasa selama 30 hari.” (H.R. Muslim - shahih)



METODE HISHAB:
1.      Istilah hishab bersumber dari bahasa Arab yang berarti perhitungan. Sedangkan dalam Ilmu Falak, hishab itu ialah perhitungan pergeseran benda-benda langit untuk mengetahui kedudukan pada suatu saat yang diinginkan.
2.      Dengan metode ini mereka juga berpendapat memungkinkan untuk menyatukan umat Islam.
3.      Metode panafsiran kontekstual (mengambil hukum berdasarkan maksud yang terkandung dari nash/dalil yang dihubungkan dengan dalil/nash yang lain)
4.      Nabi Muhammad Saw bersabda, “Sesungguhnya kami ini segolongan umat yang ummi, kami tidak pandai menulis dan tidak bisa menghitung, sebulan itu ada yang begini dan begini (nabi berisyarat dengan menggunakan tangannya)”, yaitu kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari.” (HR. Bukhari, Muslim dan lain-lain). Hadits tersebut memberi isyarat bahwa rukyatul hilal adalah cara yang mungkin pada masa Nabi, sedangkan ilmu hishab belum dikenal seiring dengan kemajuan zaman.
5.      Bersumber pada banyak ayat yang dihubungkan:
Al Baqarah; 2:185. … “faman syahida minkumussyahra falyashumhu” (sebagaimana seperti terjemah pada banyak Al-Quran terjemah yang artinya “Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir/membuktikan di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”)
*Karena ayat tersebut jelas menyatakan syahr, bukan qomar maupun hilal. Karena syahr adalah bermakna bulan bagian dari tahun, bukan bulan benda yang ada di langit (qomar).

Dengan demikian , dasar utama Al-Quran belum menyatakan hilal. Adapun melihat hilal baru muncul di hadits, sementara hadits merupakan salah satu penjelas Al-Quran. Adapun penjelas Al-Quran dengan Al-Quran memiliki kedudukan yang lebih kuat. Misalnya pada ayat-ayat berikut:

Al-An’aam
6:96. Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk PERHITUNGAN. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”

Yunus
10:5. Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, SUPAYA KAMU MENGETAHUI BILANGAN TAHUN DAN PERHITUNGAN (WAKTU). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

Al-Isra’
17:12. Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu, dan SUPAYA KAMU MENGETAHUI BILANGAN TAHUN-TAHUN DAN PERHITUNGAN. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.

Yasin
36:38. dan matahari berjalan di tempat PEREDARANNYA. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
36:39. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan MANZILAH-MANZILAH, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.
36:40. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

Ar-Rahmaan
55:5. Matahari dan bulan (beredar) menurut PERHITUNGAN.
55:17. Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya.

Ar-Ra’du
13:2. Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. MASING-MASING BEREDAR HINGGA WAKTU YANG DITENTUKAN. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.

Ibrahim
14:33. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang TERUS MENERUS BEREDAR (DALAM ORBITNYA); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.

Ayat lainnya: Al-A’raf 54, An-Nahl 12, Al-Anbiya 33, Luqman 29, Fathir 13, Az-Zumar 5, Al-Ma’arij 40 

Banyak ayat di atas mengandung makna bahwa ruh/makna dasar pada Al-Quran adalah posisi bulan dan matahari sebagai dasar penentuan waktu.

------------------------------------------
Pada kenyataannya, jika kita mempelajari lebih jauh, metode rukyat memiliki beberapa metode yang hasilnya akan berbeda, begitu juga metode hishab memiliki beberapa metode perhitungan yang hasilnya pun akan berbeda. Juga, metode gabungan rukyat dan hishab pun memiliki kriteria yang berbeda. Adapun positifnya adalah, baik metode rukyat maupun hishab, keduanya terus membaik dalam tingkat akurasinya.            
                                                                                                                               
Akhirnya, kita ketahui bahwa metode rukyat merupakan pendekatan tekstual/bunyi dalil apa adanya, sedangkan metode hishab merupakan pendekatan kontekstual/makna isi yang terkandung. Kedua pendapat ini kuat. Tidak bisa kita katakan salah satu pendapat lemah. Masing-masing memiliki argumen yang kuat. Masing-masing dipegang oleh para ulama besar. Artinya, kita bisa memilih pendapat mana yang lebih kita yakini, tanpa melemahkan apalagi membuat perpecahan. Karena puasa adalah ibadah maghdhah sehingga kita harus berusaha mengembalikannya kepada Allah dan Rasulnya melalui pemahaman yang lebih kita yakini kebenarannya.

An-NIsaa’
4:59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. KEMUDIAN JIKA KAMU BERLAINAN PENDAPAT TENTANG SESUATU, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
*Pengertian ulil amri; amr=permasalahan/perkara, sehingga ulil amri adalah orang yang memegang kekuasaan dalam suatu masalah. Jadi, ulil amri tidak sebatas para ulama dan pemimpin negara, red. Ulil amri yang harus kita ikuti ada banyak, maksudnya dari pemimpin-pemimpin tingkat masyarakat sampai dengan tingkat Negara, dari pemimpin formal maupun non formal.
**Adapun apabila terjadi perbedaan pendapat, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya).

Yang perlu kita pahami adalah, perkara fiqh adalah perkara fleksibel, bukan mutlak. Ijtihad jika benar mendapat dua pahala, jika salah tetap mendapat pahala. Tidak ada dosa.

Telah jelas perbedaan metodologi hishab maupun rukyah --secara aplikatif-- merupakan persoalan furu’iyyat (hukum cabang) yang memang tidak dapat dihindari. Adapun keduanya tetap berpegangan sama bahwa hukum puasa adalah fardhu dan keduanya pun menjalankannya. Dan keduanya pun masih berpedoman bahwa menentukan waktu berdasarkan bulan, yang satu dengan melihat, yang satu dengan menghitung/menentukan posisi bulan. Keduanya memiliki semangat/ruh yang sama, sama-sama memperhitungkan bulan (syahr) berdasarkan pergerakan bulan (qomar), dan ini dibenarkan, hanya cara mengetahui posisi qomar nya saja yang berbeda (maka jelas pula metode lain di luar hishab dan rukyat yang tidak mempertimbangkan bulan tidak dapat diterima). Oleh karena itu, keduanya masih dalam satu koridor yang dapat diterima. Maka, satu kesimpulan akhir adalah “Jaga kesatuan dan persaudaraan sesama umat Islam, jangan mudah terpecah belah oleh permasalahan cabang, dan apakah kita harus menunggu Imam Mahdi baru umat Islam bisa bersatu?”

Satu hal renungan terakhir yang perlu kita ketahui,
Bagi yang menganut metode hishab janganlah kalian menyalahkan metode rukyat, karena memang bunyi dalilnya seperti itu. Dan Nabi Muhammad saw. jelas-jelas dalam hadits shahihnya untuk melihat hilal.

Adapun bagi yang menganut metode rukyat janganlah kalian menyalahkan metode hishab, karena bagaimana mungkin Anda yang selalu menjalankan shalat lima waktu, membuat kalender, mengakhiri sahur, bahkan mulai berbuka adalah dengan hasil perhitungan metode hishab, bukan dengan melihat matahari untuk sholat/berbuka.

Adapun yakinilah apa yang menurut Saudara yakini, pilih  sesuai keyakinan masing-masing, ikuti ulil amri yang diikuti, tak perlu ada salah-menyalahkan, dan tetaplah memprioritaskan perintah Allah untuk tetap menjaga persatuan Islam.

Ali-‘Imraan
3:103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.

Wallahua’lam.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.