Senin, 18 Desember 2017

RENUNGAN UMAT AKHIR ZAMAN

Renungan bagi para penuntut ilmu dan para pengajar ilmu (da’i, ustadz, ustadzah):

Bersabda Rasulullah saw. “Hampir tiba masanya kalian DIPEREBUTKAN seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian BANYAK, namun kalian seperti BUIH MENGAPUNG. Dan Allah telah MENCABUT RASA GENTAR DARI DADA MUSUH KALIAN terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit AL-WAHN.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahn itu?” Nabi Muhammad saw. bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (H.R. Ahmad & Abu Dawud, shahih)

Buih lautan, jumlahnya BANYAK NAMUN BAGAIMANA DARI SEGI KUALITAS? Jika kita ingin melihat jumlah orang Islam, lihatlah shalat Jumat. Jika kita ingin melihat jumlah orang beriman, lihatlah shalat shubuh berjamaah.

Buih lautan, ia BANYAK NAMUN MUDAH TEECERAI BERAI entah karena dipisahkan atau karena sengaja memisahkan diri karena ego/kesombongan/kedengkian/fanatik atau memang tak peduli.

Buih lautan, ia memiliki IKATAN YANG LEMAH. Mudah dipecah belah padahal sebenarnya masuk dalam ranah khilafiyah. Tak tahu mana ushuliyah mana furu'iyah. Hingga bersikap keras dalam perbedaan yang sebenarnya furu'iyah namun justru tidak tegas dalam penyimpangan ushuliyah. Serta mudah diprovokasi dengan sekat-sekat hizbiyah.

Buih lautan, ia MENGIKUTI KEMANA ARAH OMBAK. Ia mudah terpengaruh mengikuti media-media mainstream, sementara media-media utama saat ini bukanlah media pro Islam. Ia yang terperangkap dalam ghawzul fikri yang digencarkan melalui media-media. Ia yang tak sadar telah dipengaruhi pemikiran liberalisme, sekulerisme, pluralisme. Ia lebih mendominasi akal, realita, dan permainan logika daripada syariat dan ijma' ulama.

Buih lautan, ia yang DIPEREBUTKAN yaitu mudah dipengaruhi kaum kuffar dan munafik terselubung untuk kepentingan mereka. Bahkan berkasih sayang dan loyal terhadap orang-orang kafir. Ia yang tak mampu membedakan batasan 1. toleransi, 2. muamalah, dan 3. makna berbuat adil kepada "sesama muslim" dan kepada non muslim.

Buih lautan, ia yang kehadirannya justru membuat musuh-musuh Allah menyombongkan diri, HILANGNYA RASA GENTAR & RASA SEGAN, sehingga Islam makin hina dan mudah dihinakan oleh mereka.

Buih lautan, ia yang tak fokus kemana tujuan berlabuh. Ia yang dihinggapi PENYAKIT WAHN, cinta dunia dan takut mati, hingga alergi dengan berbagai bentuk gerakan jihad dan ghirah perjuangan. Ia yang mudah diiming-imingi oleh harta, dana, maupun tahta.

Lantas renungan kita adalah, adakah salah satu saja sifat buih lautan dalam diri kita??

Q.S. Ali ‘Imran (3:103): “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.”

Q.S. Ash-Shaff (61:4): “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

Mari rapatkan barisan, satukan ukhuwah, bersinergi berjamaah menggapai izzah!:)
Top of Form


Senin, 28 Agustus 2017

BAGAIMANA NILAI SATU KEBAIKAN SETARA DENGAN DUNIA SEISINYA ATAU BAHKAN LEBIH, DAN LEBIH, DAN LEBIH LAGI…

Berkenaan dengan masalah ini, kami akan memberikan satu contoh untuk menjelaskannya.

Bayangkan! Anda sekarang berada pada hari kiamat, sedangkan timbangan kebaikan-kebaikan sama dengan timbangan kejelekan-kejelekan. Sehingga, Anda pun mendapati bahwa Anda harus mencari satu kebaikan agar Anda bisa terhindar dari siksa neraka. Di sini tampak jelas nilai perbuatan terhadap kebaikan.

Sekarang, Anda bersiap-siap untuk mencurahkan apa yang Anda miliki dan yang tidak Anda miliki untuk mendapatkannya. Lalu, Anda berusaha pada hari yang panjangnya sama dengan 50.000 tahun dunia. Matahari akan didekatkan dengan kepala para hamba sejarak satu mil, cahayanya dipadamkan, dan panasnya dilipatgandakan. Sementara neraka Jahannam didatangkan dalam keadaan hitam dan gelap serta ada rintihan dan malapetaka [lihat Q.S. Maryam: 71]. Ia mempunyai 70.000 tali kendali. Masing-masing tali kendali ditarik oleh 70.000 malaikat. Ia berusaha melepaskan diri dari mereka untuk menerkam orang-orang yang lalai. Pada saat itu, Anda dalam kegelapan yang kelam dan ketakutan yang mencekam bersama bermilyar-milyar manusia yang telanjang.

“Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (Q.S. Maryam: 71)

Jangan berkata sebagaimana perkataan orang-orang bodoh, “Mati bersama adalah rahmat.” Allah membantah hal itu dalam firman-Nya:

“(Harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu karena kamu telah menganiaya (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu bersekutu dalam azab itu.” (Q.S. Az-Zukhruf: 39)

Di tengah-tengah gelombang lautan manusia yang luas dan jasad-jasad mereka menghimpit Anda, Anda pun tidak mampu lagi membedakan mana yang dekat dan mana yang jauh. Hal ini jika Anda bisa melihat dalam kegelapan yang mencekam dan kondisi yang sulit tersebut. Bayangkan! Bahwa Anda tengah mencari ayah yang penuh kasih sayang untuk meminta kepadanya kebaikan yang dengannya Anda bisa memperberat timbangan kebaikan Anda agar selamat dari neraka. Anda akan mencari dan terus mencarinya dan meminta. Sementara itu, setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing.

Masing-masing ingin selamat, masing-masing sedang mencari seperti yang Anda cari. Bayangkan! Berapa lama waktu yang Anda habiskan agar Anda bisa menemukannya di antara para manusia dalam kegelapan itu? Sementara apabila Anda sudah menemukannya, alangkah besarnya kebahagiaan yang Anda rasakan. Anda seolah menemukan harta karun besar. Anda menyangka, kesulitan Anda telah terpecahkan. Anda menemukan ayah Anda yang penuh kasih sayang, yang pernah memberikan banyak harta kepada Anda. Ia sekarang tidak akan pelit terhadap Anda dengan satu kebaikan tersebut. Tapi, tak lama kemudian keputusasaan menjangkiti hati Anda lagi, setelah mendengar perkataan ayah Anda, “Diriku… diriku…”

Selanjutnya, terlintas di benak Anda ibu Anda yang penuh belas kasih yang telah banyak menumpahkan belas kasihnya kepada Anda dan seringkali mencegah dirinya demi memberikan apa saja kepada Anda di dunia. Anda mencarinya selama ratusan bahkan ribuan tahun dalam keadaan panas dan keringat yang mengalir deras dari diri Anda.

Anda pun berenang di dalam keringat Anda, hingga Anda menemukannya dan meminta belas kasihnya. Semoga ia bermurah hati kepada dengan satu kebaikan. Satu kebaikan yang dulu tidak Anda butuhkan di dunia, ketika ia memberikannya namun Anda membiarkannya hilang diterpa angin. Tetapi, lagi-lagi Anda mendapatkan jawaban yang sama dengan yang Anda dengar dari ayah Anda, “Diriku… diriku… hari ini aku tidak akan mendahulukanmu atas diriku.”

Lalu, Anda teringat pada istri Anda tercinta atau anak-anak Anda yang telah Anda manjakan yang Anda beri pakaian, makanan, perhiasan, dan segala kebutuhannya. Berapa lama pula waktu yang Anda habiskan untuk mencarinya? Berapa tahun yang lamanya sebanding dengan umur Anda yang berlipat ganda di dunia, habis Anda gunakan untuk mencari istri Anda tersebut. Namun, ketika Anda sudah menemukannya, Anda hanya bisa mendengarkan jawaban yang sama.

Kemudian, Anda pergi kepada setiap orang yang terlintas di dalam pikiran Anda yang bisa Anda mintai pertolongan, kepada putra Anda, buah hati Anda, kepad putri Anda, kepada saudara Anda, kepada saudari Anda, kepada paman Anda, kepada bibi Anda, atau kepada keluarga Anda. Akan tetapi, tiap kali itu juga Anda mendengar jawaban keputusasaan, “Diriku… diriku.”

Saudara, masa yang melebihi usia Anda di dunia telah berlalu, bahkan kelipatannya, yakni 50.000 tahun untuk mencari kebaikan yang mampu Anda peroleh dalam JUMLAH BANYAK di dunia selama KURANG DARI SATU MENIT. Sesungguhnya, kalkulasi pencarian Anda terhadap ayah, ibu, atau salah seorang kerabat Anda ketika di tengah-tengah milyaran manusia yang sangat kecil kemungkinannya untuk membuahkan hasil, menghabiskan beberapa ribu tahun dibandingkan dengan masa 50.000 tahun. Hal itu dalam ilmu statistik probabilitas bagaikan orang yang mencari satu kelereng dengan titik hitam di antara bermilyar-milyar kelereng yang serupa TANPA melihat kepadanya. Tentu hal itu akan mengabiskan waktu yang tidak bisa dihitung lamanya.

Tidakkah Anda melihat ‘betapa mahalnya’ pasar kebaikan ketika itu (mengenai ini dapat direnungkan kembali dari tulisan sebelumnya dengan judul: KENGERIAN TERAMAT SANGAT HARI KIAMAT!). Kebaikan yang nilainya tak Anda perhatikan di dunia, nilainya tak sebanding dengan satu puntung rokok yang dihisap pemiliknya selama beberapa menit, lalu diinjak-injak dengan kaki! Berapa lama waktu yang dihabiskan untuk menghisapnya? Waktu untuk menghisap dan menghembuskan asapnya, bisa Anda gunakan untuk memperoleh berjuta-juta kebaikan. Ya, DEMI ALLAH, BERJUTA-JUTA KEBAIKAN.

Bukankah Anda akan memberikan semua barang berharga yang Anda punya untuk mendapatkan 1 kebaikan itu? Ya, bagaimana tidak? Setelah mendapat rahmat Allah, dengannya Anda bisa masuk surga dan bebas dari neraka. Allah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih. (Q.S. Al Maidah: 36)

Firman ini akan diterapkan pada siapa saja jika Rabb Tuhan Semesta Alam tidak merahmatinya. Dia tidak akan menerima Anda meskipun Anda memiliki apa yang ada di atas bumi dan yang semisal dengan itu. Sebab saat itu pasar harta dan materi tak berarti dan tak berharga lagi serta barang dagangan Anda hari itu tak laku.

Sedang mereka saling memandang. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya. dan istrinya, dan saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia), dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya.” (Q.S. Al-Ma’arij: 11-14)

Jika demikian, kebaikan tersebut setara dengan nilai semua manusia dan benda yang ada di dunia. Andaikata itu semua milik Anda, PASTI Anda akan memberikan semua itu sebagai tebusan untuk mendapatkan nilai satu kebaikan tersebut.

Barangkali Anda hampir tak percaya, bahwa nilai satu kebaikan yang tidak berarti di depan kedua mata Anda, suatu hari nanti akan datang dengan harganya yang MENJULANG TINGGI di bursa harga pada Hari Kiamat hingga setara dengan dunia seisinya, bahkan lebih, dan lebih, dan lebih lagi…

Astaghfirullahal ‘azhiim…



(ditulis dari poin poin penting dalam Buku Rumus Masuk Surga – Cara Cerdas Memilih Amal Untuk Hasil Optimal hlm. 113-118, dengan penambahan, sebagai renungan mendalam bagi kita semua, Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin)


Tulisan terkait:

Kamis, 30 Maret 2017

PENJELASAN KOMPREHENSIF DAN TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG AULIYAA’ (LARANGAN MENJADIKAN ORANG KAFIR SEBAGAI AULIYAA')

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Jauh sebelum adanya kasus penistaan agama, jauh sebelum populernya ayat Al-Maidah 51, beberapa tahun silam kami telah menyampaikan dan menulis tentang masalah ini meskipun saat itu masih jarang dibahas di masjid-masjid. Alhamdulillah kami bersyukur sekarang Al-Maidah 51 telah familiar dan banyak dikenal bahkan MUI pun telah mengeluarkan fatwa tentang ini :). Namun, ternyata masih ada Saudara-saudara kita yang gagal paham bahkan melawan fatwa MUI. Bahkan belum lama, ada yang disebut sebagai Kyai Haji namun bersaksi di pengadilan ‘menentang’ dan berseberangan dengan kesaksian MUI. Maka kami mengharap ridha Allah untuk mengaplikasikan ayat populer Q.S. Ash-Shaff 14. Aamiin.

Mengingat umat muslim masih terpecah, semoga tulisan ini bisa menyatukan umat muslim. Aamiin.

“Dan BERPEGANGLAH kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan JANGANLAH KAMU BERCERAI BERAI….” (Q.S. Ali ‘Imraan: 103)

Tahukah bahwa ternyata ada 42 KATA “AULIYAA” dalam Al-Quran? Sementara ada sebagian muslim bahkan tidak sedikit yang mengaku ustadz sekalipun, termasuk tokoh-tokoh yang dikenal memiliki pemikiran menyimpang, namun memahaminya secara parsial, hanya membaca 1 atau beberapa ayat tentang auliyaa’, mengambil 1 atau beberapa tafsir secara parsial, mengabaikan prinsip-prinsip lain dalam Islam, kemudian dengan nafsu dan akal/logika rasionalnya menyempitkan makna kata auliyaa’, menyimpulkan secara keliru, dan bahkan bertentangan dengan fatwa MUI dan mayoritas ulama. Padahal para ulama-ulama MUI dan jumhur ulama jauh lebih kompeten dan telah mengkaji secara mendalam tentang hal ini dalam waktu yang panjang.

Oleh karena itu, kita harus melihatnya secara keseluruhan untuk bisa memahaminya. Jangan sampai kita hanya terjebak dalam pembahasan ayat Al-Maidah 51, sementara mengabaikan banyak ayat yang lain, mengabaikan hadits yang relevan, mengabaikan prinsip aqidah Al-Wala’ wal Bara’, mengabaikan krakteristik (tabiat) agama Islam, mengaburkan batasan toleransi dan muamalah, dan sebagainya.

Untuk memahami makna auliyaa’, kita harus melihat secara keseluruhan karena ada sebanyak 42 KATA AULIYAA’ dalam Al-Quran yang tersebar dalam 40 ayat berikut:

1             Al-Baqarah[2]:257
2             'Ali `Imran[3]:28
3             'Ali `Imran[3]:175
4             An-Nisa'[4]:76
5             An-Nisa'[4]:89
6             An-Nisa'[4]:139
7             An-Nisa'[4]:144
8             Al-Ma'idah[5]:51 (terdapat 2 kata auliyaa’)
9             Al-Ma'idah[5]:57
10           Al-Ma'idah[5]:81
11           Al-'An`am[6]:121
12           Al-'An`am[6]:128
13           Al-'A`raf[7]:3
14           Al-'A`raf[7]:27
15           Al-'A`raf[7]:30
16           Al-'Anfal[8]:34 (terdapat 2 kata auliyaa’)
17           Al-'Anfal[8]:72
18           Al-'Anfal[8]:73
19           At-Taubah[9]:23
20           At-Taubah[9]:71
21           Yunus[10]:62
22           Hud[11]:20
23           Hud[11]:113
24           Ar-Ra`d[13]:16
25           Al-'Isra'[17]:97
26           Al-Kahf[18]:50
27           Al-Kahf[18]:102
28           Al-Furqan[25]:18
29           Al-`Ankabut[29]:41
30           Al-'Ahzab[33]:6
31           Az-Zumar[39]:3
32           Fussilat[41]:31
33           Ash-Shuraa[42]:6
34           Ash-Shuraa[42]:9
35           Ash-Shuraa[42]:46
36           Al-Jathiyah[45]:10
37           Al-Jathiyah[45]:19
38           Al-'Ahqaf[46]:32
39           Al-Mumtahanah[60]:1
40           Al-Jumu`ah[62]:6

Berikut adalah makna auliyaa’ dalam Al-Quran setelah melihat ayat dan penjelasan tafsirnya:

1       Al-Baqarah[2]:257 = pelindung, pembela, pemberi petunjuk.
Allah pelindung (waliy) orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya (auliyaa’) adalah setan, …”
2       'Ali `Imran[3]:28 = pemimpin, orang yang memiliki kekuasaan atau pengaruh sehingga dapat menimbulkan ancaman dan ketakutan, wali, pelindung, penolong.
“Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin (auliyaa’), melainkan orang-orang beriman ….””
3       'Ali `Imran[3]:175 = teman-teman setia, teman-teman yang saling terikat dan cenderung kepadanya.
Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya (auliyaa’), …”
4       An-Nisa'[4]:76 = kawan-kawan yang menyokong/mendukungnya.
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan į¹¬haghut, maka perangilah kawan-kawan (auliyaa’) setan itu, …”
5       An-Nisa'[4]:89 = pelindung, penolong , teman-teman setia, pembela (menunjukkan rasa cinta).
Mereka (orang munafik) ingin agar kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, sehingga kamu menjadi sama (dengan mereka). Janganlah kamu jadikan dari antara mereka sebagai teman-teman(mu) (auliyaa’), sebelum mereka berpindah pada jalan Allah.”
6       An-Nisa'[4]:139 = pemimpin, teman-teman setia yang memiliki kekuatan/kekuasaan, orang yang kita berikan loyalitas.
(yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin (auliyaa’) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah.”
7       An-Nisa'[4]:144 = pemimpin, pelindung, penolong, wali.
Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin (auliyaa’) selain dari orang-orang mukmin.”
8       Al-Ma'idah[5]:51 = 2 kata auliyaa’ bermakna orang yang diikuti, dicintai, pemimpin, pelindung, teman yang kita memberikan kesetiaan.
Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin/pelindung/teman setia(mu) (auliyaa’); mereka satu sama lain saling melindungi.”
9       Al-Ma'idah[5]:57 = pemimpin, wali, tempat berlindung, yang kita setia kepada mereka.
Janganlah kamu menjadikan pemimpinmu (auliyaa’) orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu dan orang-orang kafir (orang musyrik).”
10     Al-Ma'idah[5]:81 = penolong-penolong, teman setia.
Dan sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Muhammad) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, niscaya mereka tidak akan menjadikan orang musyrik itu sebagai teman setia (auliyaa’).”
11     Al-'An`am[6]:121 = kawan-kawan.
Sesungguhnya setan-setan akan membisikkan kepada kawan-kawannya (auliyaa’) (dari golongan manusia) agar mereka membantah kamu.”
Dalam Q.S. An-Naas 4-6: “dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, yaitu (setan) dari (golongan) jin dan manusia.”
12     Al-'An`am[6]:128 = kawan-kawan/pihak yang ditaati.
Wahai golongan jin! Kamu telah banyak (menyesatkan) manusia." Dan kawan-kawan (auliyaa’) mereka dari golongan manusia (yaitu mereka yang mau menaatinya) berkata, …”
13     Al-'A`raf[7]:3 = pemimpin-pemimpin yang kamu taati.
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin (auliyaa’).”
14     Al-'A`raf[7]:27 = pemimpin/yang diikuti/yang didukung.
Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin (auliyaa’) bagi orang-orang yang tidak beriman.”
15     Al-'A`raf[7]:30 = pelindung.
Mereka menjadikan setan-setan sebagai pelindung (auliyaa’) selain Allah.”
16     Al-'Anfal[8]:34 = 2 kata auliyaa’ bermakna orang-orang yang berhak menguasainya
“… dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya (auliyaa’)? Orang yang berhak menguasai(nya) (auliyaa’), hanyalah orang-orang yang bertakwa, …”
17     Al-'Anfal[8]:72 = pelindung (saling melindungi dan tolong menolong).
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah … mereka itu saling melindungi (auliyaa’) satu sama lain.”
18     Al-'Anfal[8]:73 = pelindung (saling melindungi dan tolong menolong).
Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi (auliyaa’) sebagian yang lain.”
19     At-Taubah[9]:23 = wali, penguasa, pelindung, orang yang dicintai dan dibela.
Janganlah kamu jadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu sebagai pelindung (auliyaa’), jika mereka lebih menyukai kekafiran daripada keimanan.”
20     At-Taubah[9]:71 = penolong.
Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong (auliyaa’) bagi sebagian yang lain.”
21     Yunus[10]:62 = wali, orang yang dekat.
Ingatlah wali-wali (auliyaa’) Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
22     Hud[11]:20 = penolong.
Mereka tidak mampu menghalangi (siksaan Allah) di bumi, dan tidak akan ada bagi mereka penolong (auliyaa’) selain Allah.”
23     Hud[11]:113 = penolong yang dapat menghindarkan dari ancaman
Dan janganlah kamu cenderung kepada orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong (auliyaa’) pun selain Allah,”
24     Ar-Ra`d[13]:16 = pelindung-pelindung berupa berhala-berhala atau sesembahan lain.
Pantaskah kamu mengambil pelindung-pelindung (auliyaa’) selain Allah, …”
25     Al-'Isra'[17]:97 = penolong-penolong yang dapat memberikan petunjuk/pertolongan.
dan barang siapa Dia sesatkan, maka engkau tidak akan mendapatkan penolong-penolong (auliyaa’) bagi mereka selain Dia.”
26     Al-Kahf[18]:50 = pemimpin yang kemudian kalian taati mereka.
Pantaskah kamu menjadikan dia (Iblis) dan keturunannya sebagai pemimpin (auliyaa’) selain Aku, …”
27     Al-Kahf[18]:102 = penolong-penolong.
Maka apakah orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong (auliyaa’) selain Aku?”
28     Al-Furqan[25]:18 = pelindung.
Mereka (yang disembah itu) menjawab, “Mahasuci Engkau, tidaklah pantas bagi kami mengambil pelindung (auliyaa’) selain Engkau, …”
29     Al-`Ankabut[29]:41 = pelindung-pelindung/sembahan selain Allah yang mereka harapkan dapat memberi manfaat kepada diri mereka.
Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung (auliyaa’) selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah.”
30     Al-'Ahzab[33]:6 = saudara-saudaramu (seagama) yang tidak mempunyai hubungan darah.
“ … kecuali kalau kamu hendak berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama) (auliyaa’).”
*ayat tentang waris dan wasiat.
31     Az-Zumar[39]:3 = pelindung /sembahan/berhala.
Dan orang-orang yang mengambil pelindung (auliyaa’) selain Dia (berkata), …”
32     Fussilat[41]:31 = pelindung-pelindung yang akan mengayomi dan dapat memberikan apa yang kalian inginkan/minta.
Kamilah pelindung-pelindungmu (auliyaa’) dalam kehidupan dunia dan akhirat.”
33     Ash-Shuraa[42]:6 = pelindung /sembahan/berhala.
Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung (auliyaa’) selain Allah, …”
34     Ash-Shuraa[42]:9 = pelindung/penolong/sembahan/berhala.
Atau mereka mengambil pelindung-pelindung (auliyaa’) selain Dia? Padahal Allah, Dialah pelindung (waliy) (yang sebenarnya).”
35     Ash-Shuraa[42]:46 = pelindung yang dapat memberikan pertolongan.
“Dan mereka tidak akan mempunyai pelindung (auliyaa’) yang dapat menolong mereka selain Allah.”
36     Al-Jathiyah[45]:10 = pelindung /sembahan/berhala.
dan tidak pula (bermanfaat) apa yang mereka jadikan sebagai pelindung-pelindung (mereka) (auliyaa’) selain Allah.”
37     Al-Jathiyah[45]:19 = penolong/pelindung.
“Dan sungguh, orang-orang yang zalim itu sebagian menjadi pelindung (auliyaa’) atas sebagian yang lain, sedangkan Allah pelindung (waliy) bagi orang-orang yang bertakwa.”
38     Al-'Ahqaf[46]:32 = pelindung yang dapat memberikan pertolongan.
“padahal tidak ada pelindung (auliyaa’) baginya selain Allah.”
39     Al-Mumtahanah[60]:1 = teman-teman setia, saudara/famili, orang yang disayangi yang kemudian diiringi dengan sikap menolong dan membela.
Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu (yakni orang kafir) sebagai teman-teman setia (auliyaa’) sehingga kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang, …”
40     Al-Jumu`ah[62]:6 = kekasih/yang dekat.
“… mengira bahwa kamulah kekasih (auliyaa’) Allah, …”

Secara ringkas tingkatan hubungan “auliyaa’” dalam Al-Quran adalah sebagai berikut:
Allah adalah waliy bagi orang beriman.
Auliyaa’-nya Allah adalah wali/kekasih Allah.
Auliyaa’-nya orang kafir adalah thaghut.
Auliyaa’-nya syetan maupun jin ingkar adalah pengikutnya dari golongan jin dan manusia.
Auliyaa’-nya orang-orang yang ingkar (tidak percaya) adalah syetan.
Auliyaa’-nya orang kafir adalah sembahan selain Allah.
Auliyaa’-nya orang beriman adalah orang beriman.
Auliyaa’-nya orang kafir adalah orang kafir.
Auliyaa’-nya orang zalim adalah orang zalim.
Larangan orang beriman menjadikan auliyaa’-nya orang kafir.
Larangan manusia menjadikan auliyaa’-nya selain Allah.

Dari 42 kata auliyaa’ yang tersebar dalam 40 ayat di atas beserta tafsirnya, dapat kita simpulkan sebagai berikut:

Cakupan makna auliyaa’ meliputi: wali, pelindung, tempat berlindung, penolong, pembela, pemberi petunjuk, pihak yang ditaati, yang didukung, pemimpin, orang yang memiliki kekuatan/kekuasaan atau pengaruh sehingga dapat menimbulkan ancaman dan ketakutan, yang dapat memberi pertolongan, yang dapat memberi ancaman, orang yang menguasai, orang yang kita berikan loyalitas, orang yang diikuti, orang yang dicintai, orang yang dibela, orang yang dekat, kekasih, teman-teman setia, teman-teman yang kita setia pada mereka, teman-teman yang saling terikat dan cenderung kepadanya, kawan-kawan yang menyokong/mendukungnya, menunjukkan rasa kasih sayang/cinta, saling melindungi/menolong, pelindung  yang mereka harapkan dapat memberi manfaat kepada diri mereka, pelindung yang akan mengayomi dan dapat memberikan apa yang kalian inginkan/minta, pelindung-pelindung berupa berhala-berhala atau sesembahan lain, saudara/famili, orang yang disayangi yang kemudian diiringi dengan sikap menolong dan membela.

Secara ringkas, auliyaa’ adalah:
1.      hubungan berupa ikatan atau kecenderungan
2.      kepada seseorang yang kita ikuti/taati/berikan loyalitas/kesetiaan
3.      yang dengannya dapat memberi pengaruh, baik berupa manfaat/pertolongan maupun ancaman
4.      sehingga menimbulkan rasa kasih sayang (cinta) dan/atau
5.      menimbulkan sikap untuk melindungi/menolong/mendukung/membela

Maka larangan menjadikan orang kafir sebagai auliyaa’ adalah mencakup seluruh pengertian di atas, yaitu larangan menjadikannya sebagai wali, penolong, pelindung, pemimpin, teman setia, orang yang diikuti/didukung, ataupun orang yang disayang/dicintai dengan meninggalkan orang mu’min.

Catatan Penting:

9:7. ... MAKA SELAMA MEREKA BERLAKU LURUS TERHADAPMU, HENDAKLAH KAMU BERLAKU LURUS (PULA) TERHADAP MEREKA.  Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.

60:8. Allah tiada melarang kamu untuk BERBUAT BAIK DAN BERLAKU ADIL TERHADAP ORANG-ORANG YANG TIADA  MEMERANGIMU KARENA AGAMA DAN TIDAK (PULA) MENGUSIR KAMU DARI NEGERIMU. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

42:15. Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan AKU DIPERINTAHKAN SUPAYA BERLAKU ADIL DI ANTARA KAMU. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. BAGI KAMI AMAL-AMAL KAMI DAN BAGI KAMU AMAL-AMAL KAMU. TIDAK ADA PERTENGKARAN ANTARA KAMI DAN KAMU, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya lah kembali (kita)"

“Barang siapa mengganggu seorang dzimmi [kafir yang tidakmemerangi dan hidup berdamai dengan Islam], SUNGGUH IA TELAH MENGGANGGUKU dan barang siapa menggangguku SUNGGUH IA TELAH MENGGANGGU ALLAH. [HR Thabrani dengan Isnad Hasan]

Orang-orang yang dimaksud dalam ayat di atas adalah orang-orang kafir (baik kafir dzimmi maupun kafir ‘ahdi) yang tidak menyakiti kaum muslimin, tidak memerangi, tidak mengusir, terikat perjanjian, yang berlaku lurus dan baik kepada kaum muslimin, yang hidup berdamai dengan kaum muslimin. Kita diperintahkan untuk berbuat baik dan adil dalam bermuamalah. Tetapi, kita tidak boleh mencintai mereka. Allah Ta’ala berfirman, “Berbuat baik dan berlaku adil,” bukan dengan kalimat loyal dan cintailah mereka.

Semoga bermanfaat :)
---------------

Catatan:

Dalam tulisan ini, pembahasan masih terbatas pada tafsir ayat, dan terbatas pada ayat-ayat tentang auliyaa’. Adapun untuk lebih memahami secara mendalam, masih ada topik-topik lain yang sangat terkait dan tidak dapat dipisahkan, seperti:

1.        Pembahasan prinsip aqidah Al-Wala’ wal Bara’ yang merupakan kaidah yang sangat urgent (penting) dalam keseluruhan muatan syariat Islam, dan menjadi bagian dari makna syahadat serta merupakan bagian dari ikatan iman yang paling kuat. Apabila seorang muslim memahami kaidah prinsip ini, maka seandainya tidak ada ayat Al-Maidah 51 pun ia sudah pasti tidak akan salah dalam berpihak maupun mengambil tindakan.
2.        Pembahasan 12 krakteristik (tabiat) agama Islam, salah satunya adalah “agama daulah dan ibadah”, yang menghendaki ahli ibadah dalam ahli politik dan keduanya tidak dapat dipisahkan. Ahli ibadah tetapi tidak ahli politik akan mudah dikotak-kotakkan. Ahli politik tetapi tidak ahli ibadah akan mudah terseret arus dan fitnah. Dan ahli ibadah tentulah beriman.
3.        Pembahasan mengenai batasan serta makna toleransi dan muamalah dengan non muslim, termasuk dengan “sesama muslim”.
4.        Pembahasan mengenai berlaku adil dan berbuat baik kepada non muslim.
5.        Pembahasan mengenai Ulil Amri atau disebut juga Waliyul Amri.
6.        Pembahasan mengenai fitnah akhir zaman.

-------------------------------------------- 

Referensi: Al-Quran AlHadi, Tafsir Jalalain, Polisemi Kata 'Wali' dalam Al-Quran (2011), Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur'an “Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an (Rangkuman dari Berbagai Kitab-Kitab Tafsir), http://alquranalhadi.com

Selengkapnya: Tafsir dan Asbabun Nuzul Ayat-Ayat tentang Auliyaa' :

1. RANGKUMAN TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG AULIYAA' (LARANGAN MENJADIKAN ORANG KAFIR SEBAGAI AULIYAA')
2. TAFSIR IBNU KATSIR & ASBABUN NUZUL AYAT-AYAT TENTANG AULIYAA' (LARANGAN MENJADIKAN ORANG KAFIR SEBAGAI AULIYAA')

Tambahan:

Dalam konsep semantik, ada lebih dari satu kata untuk mewakili satu gagasan atau makna. Ada pula sebuah kata yang mempunyai makna lebih dari satu dan ini sering disebut dengan polisemi.

Berdasarkan kamus Al-Munawwir (Kamus Arab-Indonesia), kata auliy bermakna (1) yang mencintai (2) teman, sahabat (3) yang menolong (4) orang yang mengurus perkara seseorang atau wali.

Sedangkan dalam kamus Al-‘Arsy (Kamus Arab-Indonesia), kata auliy bermakna (1) wakil, pejabat pelaksana, karetaker (2) penolong (3) sahabat, teman (4) wali, orang yang bertaqwa (5) tuan, kepala (6) yang mencintai (7) orang yang mengurus perkara seseorang (8) tetangga (9) sekutu (10) pengikut (11) pemilik (12) penanggung jawab, kepala, pimpinan (13) putra mahkota (14) wali yang diwasiatkan (15) pengasuh anak yatim (16) dermawan.