Kamis, 30 Maret 2017

RANGKUMAN TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG AULIYAA' (LARANGAN MENJADIKAN ORANG KAFIR SEBAGAI AULIYAA')

LARANGAN MENJADIKAN ORANG KAFIR SEBAGAI AULIYAA' (BAIK ITU SEBAGAI WALI, PELINDUNG, PENOLONG, PEMIMPIN, YANG DIIKUTI, TEMAN SETIA, YANG DICINTAI)

Sumber: Tafsir Al Qur'an “Hidayatul Insan bi tafsiril Qur’an” yang artinya “Petunjuk bagi manusia dengan tafsir Al Qur’an,” Admin melihat kelebihan tafsir ini  karena merangkum dari berbagai kitab tafsir ulama seperti  kitab tafsir Taisirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiir Kalaamil Mannaan karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'diy, Kitab Tafsir Jalalain karya Jalaluddin As Suyuthi dan Jalaluddin Al Mahalliy,  Anwaarul Hilaalain fit Ta’aqqubaat ‘alal Jalaalain karya Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al Khumais, dan tentu Tafsir Ibnu Kastir. Selain itu, pemilihan kata dan alur bahasanya sangat sesuai dengan para pemula yang sedang menuntut ilmu. (http://www.tafsir.web.id)

1. Tafsir Ali Imran 28-29
2. Tafsir An Nisa 88-89
3. Tafsir An Nisa 137-139
4. Tafsir An Nisa 144-145
5. Tafsir Al Maidah 51-53
6. Tafsir Al Maidah 54-56
7. Tafsir Al Maidah 57-58
8. Tafsir Al Maidah 78-81
9. Tafsir At Taubah 23-24
10. Tafsir Al Mumtahanah 1-3

1. Tafsir Ali Imran 28-29
Ayat 28-29: Menerangkan tentang larangan berwala’ (memberikan loyalitas) dan berpihak kepada orang-orang kafir baik lahir maupun batin

28. Janganlah orang-orang mukmin menjadikan orang-orang kafir sebagai wali[1] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka[2]. Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya[3], dan hanya kepada Allah tempat kembali[4].

[1] Wali jamaknya auliyaa, yang berarti teman yang akrab, pemimpin, pelindung atau penolong. Termasuk juga mencintai dan membela orang-orang kafir meninggalkan kaum mukmin. Semua ini dilarang.
Dalam ayat ini terdapat larangan mengadakan pendekatan dengan orang-orang kafir, berteman akrab dengan mereka, cenderung kepada mereka, memberikan mereka jabatan serta meminta bantuan mereka untuk perkara yang terdapat maslahat bagi kaum muslimin.
[2] Misalnya dengan mengadakan hudnah (genjatan senjata), atau menampakkan seakan-akan berwala' dengan mereka di lisan, namun hati tidak setuju. Hal ini dilakukan sebelum Islam berjaya, dan diperuntukkan bagi orang yang tinggal di sebuah negeri sedangkan dia tidak memiliki kekuatan di sana.
[3] Oleh karena itu, janganlah mengerjakan perbuatan yang mendatangkan kemurkaan-Nya seperti dengan bermaksiat dan berwala' kepada orang-orang kafir tanpa alasan menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti.
[4] Semua makhluk akan kembali kepada Allah untuk dihisab dan diberi pembalasan.

29. Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu[5] atau kamu nyatakan, Allah pasti mengetahuinya". Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu[6].

[5] Seperti berwala' kepada mereka.
[6] Termasuk di antaranya berkuasa menyiksa orang-orang yang berwala' kepada orang-orang kafir.

------------------------------------------------------------------

2. Tafsir An Nisa 88-89
Ayat 88-89: Larangan bersikap lunak dalam bermu’amalah dengan orang-orang munafik

88.[3] Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan[4] dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri?[5] Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang yang telah disesatkan Allah[6]? Barang siapa disesatkan oleh Allah, kamu tidak akan mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.

89. Mereka (orang munafik) ingin agar kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, sehingga kamu menjadi sama (dengan mereka). Janganlah kamu jadikan di antara mereka teman-teman(mu)[7], sebelum mereka berhijrah pada jalan Allah[8]. Apabila mereka berpaling[9], maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka di mana pun[10] kamu temukan, dan janganlah kamu jadikan seorangpun di antara mereka sebagai teman setia dan penolong[11],

[7] Meskipun mereka menampakkan keimanan di luar. Ayat ini menunjukkan agar kita tidak mencintai mereka, karena berteman menunjukkan rasa cinta kepada mereka. Demikian juga menyuruh kita membenci mereka dan memusuhinya. Namun demikian, sikap ini (membenci dan memusuhi) ada batas waktunya, yaitu sampai mereka mau berhijrah. Jika mereka berhijrah, maka mereka diberlakukan seperti halnya kaum muslimin yang lain. Hal ini sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberlakukan orang yang berada di sekelilingnya secara sama, baik kepada orang mukmin yang sesungguhnya atau hanya menampakkan keimanan di luar saja.
[8] Yang membuktikan keimanan mereka.
[9] Yakni jika mereka tidak mau berhijrah.
[10] Yakni di mana saja dan kapan saja. Ayat ini termasuk dalil yang menunjukkan sudah mansukhnya larangan berperang di bulan haram, dan inilah pendapat jumhur ulama. Namun ulama yang tidak setuju dengan pendapat jumhur berpendapat bahwa nash-nash tersebut masih mutlak dan dibatasi oleh larangan berperang di bulan haram.
[11] Untuk menghadapi musuh.

------------------------------------------------------------------

3. Tafsir An Nisa 137-139
Ayat 137-139: Bahaya kaum munafik terhadap umat Islam


138. Kabarkanlah kepada orang-orang munafik[13] bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,

[13] Yakni orang-orang yang menampakkan keislaman di luar dan menyembunyikan kekafiran di dalam.

139. (Yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah[14].

[14] Inilah keadaan mereka kaum munafik, mereka bersangka buruk kepada Allah dan kurang yakin bahwa Allah akan memenangkan hamba-hamba-Nya yang mukmin, padahal kekuatan itu milik Allah semuanya, semua makhluk dalam kekuasaan-Nya, dan kehendak-Nya berlaku pada mereka. Dia menjamin akan memenangkan agama-Nya dan memenangkan hamba-hamba-Nya yang mukmin, kalau pun terkadang musuh yang menang, namun tidak selamanya, karena kemenangan terakhir akan diperoleh kaum mukmin. Dalam ayat ini terdapat ancaman memberikan wala' (loyalitas) kepada kaum kafir dan meninggalkan berwala' kepada kaum mukmin, dan bahwa yang demikian termasuk sifat orang-orang munafik, padahal keimanan yang sesungguhnya menghendaki mencintai kaum mukmin dan berwala' kepada mereka serta membenci orang-orang kafir dan memusuhi mereka.

------------------------------------------------------------------

4. Tafsir An Nisa 144-145
Ayat 144-145: Orang-orang munafik adalah orang yang paling berbahaya bagi kaum mukmin daripada orang kafir, oleh karenanya siksaan untuk mereka lebih keras pada hari Kiamat daripada orang-orang kafir 

144. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai wali[16] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah kamu ingin memberi alasan yang nyata bagi Allah (untuk menghukummu)?[17]

[16] Wali jamaknya auliyaa, yang berarti teman yang akrab, juga berarti pelindung, penolong dan pemimpin.
[17] Setelah disebutkan sebelumnya, bahwa di antara sifat orang-orang munafik adalah menjadikan orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan kaum mukmin, maka dalam ayat di atas, Allah Subhaanahu wa Ta'aala melarang hamba-hamba-Nya yang mukmin melakukan tindakan yang sama dengan orang-orang munafik itu, dan bahwa perbuatan itu memberikan alasan yang nyata bagi Allah untuk menghukum kamu, karena Dia telah memperingatkan agar tidak melakukannya serta memberitahukan kepada kita mafsadatnya. Jika masih ditempuh juga setelah diperingatkan, maka ia layak mendapatkan hukuman. Dalam ayat ini terdapat dalil sempurnanya keadilan Allah, dan bahwa Allah tidak mengazab seseorang sebelum tegaknya hujjah. Dalam ayat ini juga terdapat peringatan dari mengerjakan maksiat, karena pelakunya sama saja memberikan alasan bagi Allah untuk menghukumnya.

145. Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka[18]. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.

[18] Hal itu, karena mereka berbuat syirik kepada Allah, memerangi rasul-Nya, membuat makar dan tipu daya terhadap kaum mukmin serta melancarkan serangan kepada kaum mukmin secara diam-diam. Mereka sudah merugikan umat Islam, namun mereka disikapi oleh kaum muslim secara baik karena zhahirnya yang menampakkan keislaman. Mereka memperoleh sesuatu yang sebenarnya tidak mereka peroleh. Karena inilah mereka mendapatkan siksa yang paling keras dan tidak ada yang menolong mereka dari azab itu. Ayat ini adalah umum, mengena kepada setiap orang munafik, kecuali orang yang dikaruniakan Allah bertobat dari segala maksiat.

146. Kecuali orang-orang yang bertobat[19] dan memperbaiki diri[20] dan berpegang teguh pada (agama) Allah serta dengan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah[21]. Maka mereka itu bersama-sama orang yang beriman[22] dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar[23] kepada orang-orang yang beriman.

[19] Dari kemunafikan.
[20] Memperbaiki diri berarti mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik untuk menghilangkan akibat-akibat yang jelek dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan.
[21] Yakni membersihkan amalan mereka dari riya' dan kemunafikan. Disebutkan kata "berpegang teguh kepada Allah dan berbuat ikhlas" setelah kata memperbaiki diri meskipun sudah cukup dengan kata-kata "memperbaiki diri" adalah karena pentingnya masalah tersebut, khususnya dalam usaha membersihkan diri dari nifak. Oleh karenanya, kemunafikan sangat sulit disingkirkan kecuali dengan benar-benar berpegang teguh kepada Allah, kembali dan meminta kepada-Nya agar disingkirkan serta berbuat ikhlas.
[22] Baik ketika di dunia, di alam barzakh maupun di hari kiamat.
[23] Yaitu surga.

------------------------------------------------------------------

5. Tafsir Al Maidah 51-53
Ayat 51-53: Larangan berwala’ dan berteman akrab kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani serta selain mereka yang menjadi musuh-musuh Islam dan sifat atau bentuk wala’ kepada mereka, dan akibat melakukan hal itu 

51. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu); mereka satu sama lain saling melindungi[12]. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka[13]. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim[14].

[12] Dan saling menolong serta bersatu dalam memusuhi dan memerangi kamu.
[13] Hal itu, karena berwala' (memberikan kesetiaan) jika sempurna menjadikan pelakunya pindah ke agama mereka, namun jika berwala' hanya sedikit, maka bisa membawanya kepada sikap sering berwala', dan jika tidak dicegah lama-kelamaan akan menjadikan seorang hamba termasuk mereka (pindah ke agama mereka).
[14] Yang memberikan walaa' (kesetiaan) kepada orang-orang kafir.

52.[15] Maka kamu akan melihat orang-orang yang hatinya berpenyakit[16] segera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, "Kami takut akan mendapat bencana[17]." Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya[18], sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka[19].

[15] Setelah Allah melarang kaum mukmin berwala' kepada orang-orang kafir, Allah memberitakan bahwa di antara orang-orang yang mengaku beriman ada yang berwala' kepada mereka.
[16] Seperti orang-orang munafik atau orang-orang yang lemah iman.
[17] Mereka memberikan wala' kepada orang-orang kafir karena khawatir orang-orang kafir yang menang, sehingga mereka tidak jadi diserang karena telah memberikan wala' kepada orang-orang kafir. Mereka tidak yakin bahwa Allah akan memenangkan dan menyempurnakan agama Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
[18] Dengan membuka rahasia orang-orang munafik.
[19] Berupa syak (keragu-raguan) dan sikap wala' kepada orang-orang kafir.

53. Dan orang-orang yang beriman akan berkata[20], "Inikah orang yang bersumpah secara sungguh-sungguh dengan (nama) Allah, bahwa mereka benar-benar beserta kamu?" Segala amal mereka menjadi sia-sia, sehingga mereka menjadi orang-orang yang rugi[21].

[20] Dengan heran ketika rahasia orang-orang munafik terbongkar.
[21] Di dunia dibuka aibnya dan di akhirat mendapatkan siksa.

------------------------------------------------------------------

6. Tafsir Al Maidah 54-56
Ayat 54-56: Sifat orang-orang yang menolong agama Allah yang berhak diberikan wala’ dan pembelaan 

54. Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya[22], maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka[23] dan mereka pun mencintai-Nya[24], dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir[25], yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela[26]. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki[27]. Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui[28].

[22] Di dalamnya terdapat pemberitahuan Allah terhadap sesuatu yang mungkin terjadi, sebagaimana murtadnya orang-orang yang sudah masuk Islam setelah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam wafat sehingga mereka diperangi oleh Abu Bakar Ash Shiddiq. Sebelum terjadi perbuatan itu (murtad), Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingatkan dalam ayat ini agar mereka jangan sampai kembali kafir. Di samping itu, yang demikian tidaklah merugikan Allah sedikit pun, bahkan Allah akan mendatangkan pengganti mereka, yaitu orang-orang yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah.
[23] Sesungguhnya cinta Allah kepada hamba merupakan nikmat yang paling besar dan keutamaan yang paling utama yang Allah berikan kepada hamba. Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memudahkan semua sebab baginya, memudahkan yang susah, memberinya taufik untuk mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran dan menjadikan manusia cinta kepadanya.
Faedah: Seseorang apabila ingin dicintai Allah harus mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam baik zahir maupun batin, baik dalam ucapan maupun perbuatan dan dalam semua keadaannya (lihat Ali Imran: 31). Di antara contoh sebab agar dicintai Allah adalah membaca Al Qur’an dengan mentadabburi dan memahami maknanya, mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan amalan sunnah setelah amalan wajib, selalu berdzikr kepada Allah, mendahulukan apa yang dicintai Allah apabila dihadapkan dua hal yang dicintainya, mempelajari nama Allah dan sifat-Nya, memperhatikan nikmat Allah baik yang nampak maupun tersembunyi serta memperhatikan pemberian-Nya kepada kita agar membantu kita bersyukur, pasrah kepada Allah dan menampakkan sikap butuh kepada-Nya, qiyamullail di sepertiga malam terakhir dengan disudahi istighfar dan taubat, duduk bersama orang-orang shalih yang cinta karena Allah serta mengambil nasehat dari mereka dan menjauhi sebab yang menghalangi hati dari mengingat Allah.
[24] Ada yang mengatakan, bahwa mereka ini adalah Abu Bakar Ash Shiddiq dan kawan-kawannya ketika memerangi orang-orang yang murtad. Ada pula yang mengatakan, bahwa mereka ini adalah kaum Abu Musa Al Asy'ariy. Demikian pula orang yang mencintai Allah dan memiliki sifat-sifat di atas.
[25] Berdasarkan ayat ini, bersikap lemah lembut kepada kaum mukmin dan bersikap keras kepada orang-orang kafir termasuk amalan yang mendekatkan diri kepada Allah. Namun demikian, sikap keras terhadap orang-orang kafir tidaklah menghalangi kita untuk mendakwahi mereka dengan cara yang baik.
[26] Mereka lebih mendahulukan ridha Tuhan mereka, takut celaan-Nya daripada celaan orang yang mencela. Hal ini menunjukkan kuatnya pendirian dan tekad mereka. Adapun orang yang lemah hatinya, maka lemah pula pendiriannya, semangatnya mengendor ketika dicela, pendiriannya lemah ketika dicela dan tekadnya menciut. Hal ini mewnunjukkan bahwa dalam hati mereka terdapat peribadatan kepada selain Allah sesuai keadaan hatinya yang memperhatikan perasaan makhluk, menunjukkan sikap mereka mendahulukan keridhaan manusia dan takut celaan mereka. Oleh karena itu, seorang hamba belum lepas dari peribadatan kepada selain Allah, sampai ia tidak takut celaan orang yang mencela dalam menjalankan agama Allah.
[27] Yakni semua sifat mulia tersebut merupakan karunia Allah kepada mereka agar mereka tidak ujub terhadap diri mereka dan agar mereka mensyukuri nikmat tersebut.
[28] Siapa yang layak memperoleh karunia tersebut.

55.[29] Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah)[30].

[29] Setelah menyebutkan larangan memberikan walaa' (kesetiaan) kepada orang-orang kafir, maka dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan siapa sebenarnya yang berhak diberikan wala'.
Tentang turun ayat ini ada yang berpendapat, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Salam ketika ia dijauhi oleh orang-orang Yahudi Bani Quraizhah dan Bani Nadhir. Ada pula yang berpendapat, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ubadah bin Ash Shaamit ketika ia berlepas diri dari orang-orang Yahudi, wallahu a'lam.
[30] Yakni khusyu' atau menambah dengan shalat sunat.

56. Dan barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh, pengikut (agama) Allah[31] itulah yang menang[32].

[31] Yaitu orang-orang yang menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya atau ia hanya memberikan wala' (kesetiaan) dan pembelaan kepada mereka, tidak kepada orang-orang kafir.
[32] Ayat ini merupakan kabar gembira bagi orang yang menjalankan perintah Allah dan masuk ke dalam pengikut agama-Nya dan sebagai tentara-Nya, bahwa ia akan memperoleh kemenangan meskipun terkadang mengalami kekalahan karena hikmah Allah, namun di akhirnya ia akan memperoleh kemenangan, dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?.

------------------------------------------------------------------

7. Tafsir Al Maidah 57-58
Ayat 57-58: Ajakan kepada kaum muslimin untuk tidak berwala’ kepada Ahli Kitab dan orang-orang kafir 

57.[1] Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman.

[1] Dalam ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala melarang kaum mukmin menjadikan orang-orang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) serta orang-orang musyrik sebagai wali, dengan mencintai dan menolong mereka, bersikap setia kepada mereka, menampakkan rahasia kaum muslimin kepada mereka dan menolong mereka dalam hal yang merugikan Islam dan kaum muslimin. Demikian pula, Allah memerintahkan mereka untuk tetap bertakwa kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, di antaranya adalah dengan berlepas diri dari mereka dan memusuhi mereka. Hal itu, karena sikap mereka mencela agama kaum muslimin, menjadikannya bahan ejekan dan permainan, menghina dan meremehkan, yang salah satunya adalah ibadah shalat yang menjadi syi'ar besar kaum muslimin, di mana mereka mengejeknya saat azan shalat dikumandangkan. Hal ini tidak lain karena kurang akal dan bodohnya mereka. Oleh karena itu, jika mereka masih diberikan wala' padahal keadaan mereka (Ahli Kitab) seperti ini; yakni memusuhi dan menghina ajaran Islam, maka yang demikian menunjukkan keimanan orang yang memberikan wala' begitu lemah dan tidak memiliki muruu'ah (kehormatan).

58. Dan apabila kamu menyeru untuk (melaksanakan) shalat[2], mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka orang-orang yang tidak mengerti.

[2] Dengan melakukan azan.

------------------------------------------------------------------

8. Tafsir Al Maidah 78-81
Ayat 78-81: Laknat untuk orang-orang Yahudi melalui lisan para nabi mereka dan sebab mereka dilaknat 

78. Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan (ucapan) Dawud[12] dan Isa putra Maryam[13]. Yang demikian itu karena mereka durhaka[14] dan selalu melampaui batas[15].

[12] Yaitu dengan doa Nabi Dawud 'alaihis salam, mereka dirubah rupanya menjadi kera. Mereka ini adalah penduduk Ailah.
[13] Dengan doa Nabi Isa 'alaihis salam, mereka dirubah rupanya menjadi babi. Mereka ini adalah orang-orang yang meminta diturunkan hidangan langsung dari langit.
[14] Kepada Allah.
[15] Dengan menzalimi hamba-hamba Allah.

79. Mereka satu sama lain tidak saling mencegah perbuatan munkar yang selalu mereka kerjakan[16]. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat.

[16] Sehingga mereka sama seperti pelaku kemungkaran itu karena mendiamkan kemungkaran padahal mampu mencegahnya. Hal ini menunjukkan sikap remeh mereka terhadap perintah Allah dan anggapan ringan bermaksiat kepada Allah oleh mereka. Sekiranya mereka memiliki rasa ta'zhim (pengagungan) kepada Allah, tentu mereka akan cemburu karena larangan-Nya dikerjakan, dan mereka akan marah karena-Nya.
Mendiamkan kemungkaran dapat berakibat banyak mafsadat, di antaranya:
- Mendiamkan kemungkaran itu sendiri merupakan kemaksiatan, meskipun dia tidak mengerjakannya.
- Menunjukkan bahwa dirinya meremehkan maksiat.
- Membuat pelaku maksiat dan kefasikan berani melakukan banyak maksiat, sehingga kejahatan bertambah, dan lama kelamaan banyak yang mengikutinya sehingga pelakunya menjadi mayoritas, sedangkan orang-orang yang baik menjadi minoritas serta tidak mampu mencegah kemungkaran itu.
- Meninggalkan kemungkaran dapat membuat ilmu agama menjadi hilang dan kebodohan melanda. Hal itu, karena maksiat jika berulang kali dilakukan dan tidak diingkari akan mengakibatkan persangkaan bahwa yang demikian bukan maksiat, bahkan orang yang tidak tahu bisa mengiranya sebagai perkara baik, padahal kerusakan apa yang lebih besar daripada anggapan halal terhadap apa yang diharamkan Allah?
- Mendiamkan kemungkaran, bisa menjadikan orang lain memandang baik perbuatan itu sehingga diikuti.

80. Kamu melihat banyak di antara mereka[17] tolong menolong dengan orang-orang kafir[18]. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka siapkan untuk diri mereka sendiri, yaitu kemurkaan Allah, dan mereka akan kekal dalam azab.

[17] Yakni orang-orang Yahudi.
[18] Yakni kaum musyrik Mekah karena benci kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

81. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Muhammad) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, niscaya mereka tidak akan menjadikan orang musyrik itu sebagai teman setia. Tetapi banyak di antara mereka, orang-orang yang fasik[19].

[19] Yakni keluar dari ketaatan kepada Allah, keluar dari keimanan kepada-Nya dan kepada nabi-Nya. Termasuk perbuatan fasik mereka adalah berwalaa' (bersikap setia) kepada musuh-musuh Allah.

------------------------------------------------------------------

9. Tafsir At Taubah 23-24
Ayat 23-24: Memutuskan hubungan antara kaum mukmin dengan orang-orang kafir – 

23.[24] Wahai orang-orang beriman![25] Janganlah kamu jadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu sebagai wali[26], jika mereka lebih menyukai kekafiran daripada keimanan. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim[27].

[24] Ada yang berpendapat, bahwa ayat ini turun berkenaan orang-orang tidak berhijrah karena mengutamakan keluarga dan harta perdagangan.
[25] Yakni kerjakanlah konsekwensi dari keimanan, yaitu dengan memberikan wala’ kepada orang yang mengerjakan keimanan itu dan memberikan baraa’ (sikap lepas diri) terhadap mereka yang tidak mengerjakannya.
[26] Meskipun mereka orang yang dekat denganmu.
[27] Karena mereka berani bermaksiat kepada Allah dan menjadikan musuh-musuh-Nya sebagai wali atau orang yang dicintai dan dibela, padahal yang demikian akan membuatnya menaati mereka meninggalkan ketaatan kepada Allah dan membuatnya lebih mencintai mereka daripada cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Pada ayat selanjutnya dipertegas lagi, bahwa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya harus didahulukan di atas cinta kepada segala sesuatu serta menjadikan semuanya mengikuti cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

24. Katakanlah, "Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya[28], maka tunggulah[29] sampai Allah memberikan keputusan-Nya[30].” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik[31].

[28] Sehingga kamu tidak berhijrah dan berjihad karena sebab itu.
[29] Yakni tunggulah hukuman yang akan menimpamu.
[30] Yang tidak dapat ditolak lagi.
[31] Yaitu mereka yang keluar dari ketaatan kepada Allah lagi mengutamakan semua yang disebutkan daripada kecintaan kepada Allah, Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya. Contoh mengutamakan selain Allah dan Rasul-Nya adalah ketika dihadapkan kepadanya dua perkara; perkara yang pertama dicintai Alah dan Rasul-Nya sedangkan hawa nafsunya tidak ingin kepadanya, adapun yang kedua diiinginkan oleh hawa nafsunya, maka jika ia mengutamakan yang kedua, maka berarti ia mengutamakan selain Allah dan Rasul-Nya.

------------------------------------------------------------------

10. Tafsir Al Mumtahanah 1-3
Ayat 1-3: Peringatan agar tidak berwala’ (memberikan kecintaan dan kesetiaan) kepada musuh-musuh Allah yang menyakiti kaum mukmin sehingga mereka terpaksa harus berhijrah dan meningalkan tanah airnya. 

1. [1] [2]Wahai orang-orang yang beriman![3] Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu[4] sebagai teman-teman setia sehingga kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang[5][6]padahal mereka telah ingkar kepada kebenaran yang disampaikan kepadamu[7]. Mereka mengusir Rasul dan kamu sendiri[8] karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (maka janganlah kamu berbuat demikian)[9]. Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang, dan Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan[10]. Dan barang siapa di antara kamu yang melakukannya[11], maka sungguh, dia telah tersesat dari jalan yang lurus[12].

[1] Hakim di juz 2 hal. 485 berkata: telah mengabarkan kepadaku Abdurrahman bin Al Hasan Qaadhi (hakim) di Hamdzaan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Al Husain, telah menceritakan kepada kami Adam bin Abi Iyas, telah menceritakan kepada kami Warqa’ dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma tentang firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku…sampai firman-Nya, “Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (ayat ke-3 surah ini).” Bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan pengiriman surat dari Hathib bin Abi Balta’ah dan orang yang bersamanya kepada orang-orang kafir Quraisy untuk memperingatkan mereka. Firman-Nya, “Kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya…(ayat ke-4).” Bahwa mereka (kaum muslimin) dilarang mengikuti permohonan ampun Nabi Ibrahim untuk ayahnya sehingga mereka (kaum muslimin ikut-ikutan) memohonkan ampunan untuk kaum musyrikin. Firman-Nya, “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir.” Maksudnya, janganlah Engkau mengazab kami melalui tangan mereka dan jangan pula langsung mendapat azab dari sisi-Mu, sehingga mereka (musuh) berkata, “Kalau sekiranya mereka berada di atas kebenaran, tentu azab tidak akan menimpa mereka.” (Hakim berkata, “Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkan.” Hadits ini didiamkan oleh Adz Dzahabi. Syaikh Muqbil menjelaskan, bahwa Adam bin Abi Iyas bukan termasuk para perawi Muslim, sehingga hadits tersebut menurut syarat Bukhari. Beliau (Syaikh Muqbil) berkata, “Saya berpaling dari hadits Ali yang ada di Bukhari dan Muslim, karena Al Haafizh dalam Al Fat-h juz 10 hal. 260 berkata, “Susunan (hadits tersebut) menjelaskan bahwa tambahan ini (dalam hadits Ali) adalah mudraj (diselipkan oleh seorang rawi), Muslim juga meriwayatkan dari Ishaq bin Rahawaih dari Sufyan, dan ia menerangkan bahwa pembacaan ayat adalah dari ucapan Sufyan.” Dari sini diketahui, bahwa kisah tersebut ada dalam Shahih Bukhari dan Muslim, akan tetapi turunnya ayat dan disebutkannya ayat itu adalah terputus karena Sufyan termasuk atbaa’uttaabi’in. Demikian pula ayat, “Laa yanhaakumullah…dst (ayat ke-8).” Disebutkan turunnya ayat dari jalan Sufyan, maka itu juga termasuk ucapannya sebagaimana dalam Bukhari juz 13 hal. 17, demikian pula dalam Al Adabul Mufrad hal. 23, dan ada riwayat lagi dari jalan lain di sisi Thayalisi, Abu Ya’la, Ibnu Jarir dan yang lain, namun di sana terdapat Mush’ab bin Tsabit, ia juga dha’if sebagaimana dalam Al Miizan, oleh karenanya tidak saya (Syaikh Muqbil) tulis.” Kemudian di catatan kaki kitab Ash Shahiihul Musnad Syaikh Muqbil berkata, “Kemudian tampak bagiku kedha’ifan hadits tersebut (hadits Hakim di atas) karena Abdurrahman bin Al Hasan (hanya) mengaku mendengar dari Ibrahim bin Al Husain, yaitu Ibnu Daiziil, demikian pula Ibnu Najih tidak mendengar tafsir dari Mujahid.”)
[2] Banyak para mufassir rahimahumullah menerangkan, bahwa beberapa ayat yang mulia ini turun berkenaan dengan kisah Hathib bin Abi Balta’ah, yaitu ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hendak menaklukkan Mekah dan merahasiakan perkara itu, maka Hathib menulis surat tentang maksud Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut kepada orang-orang kafir Mekah bukan karena ia sebagai munafik, tetapi karena ia memiliki anak dan keluarga yang masih musyrik di sana, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengambil surat itu dari wanita yang menerima surat dari Hathib karena pemberitahuan Allah kepada Beliau, kemudian Beliau mencela Hathib, maka Hathib menyebutkan alasannya, lalu diterima alasannya itu.
Di dalam ayat ini terdapat larangan berwala’ (memberikan cinta-kasih) kepada orang-orang kafir, dan bahwa yang demikian bertentangan dengan keimanan, menyelisihi ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan bertentangan dengan akal sehat yang mengharuskan untuk bersikap hati-hati terhadap musuh.
[3] Yakni kerjakanlah konsekwensi imanmu berupa memberikan wala’ kepada orang-orang yang beriman dan memusuhi orang-orang yang menolak beriman, karena sesungguhnya ia musuh Allah dan musuh kaum mukmin.
[4] Yaitu orang-orang kafir Mekah.
[5] Hal itu, karena kasih sayang apabila terjadi, maka akan diiringi dengan sikap menolong dan membela.
[6] Bagaimana seseorang mengambil orang-orang kafir yang menjadi musuhnya sebagai teman setianya, padahal mereka tidak menginginkan untuknya selain keburukan dan ia tinggalkan Tuhannya yang menginginkan kebaikan untuk dirinya. Di samping itu, orang-orang kafir telah ingkar kepada kebenaran yang dibawa kaum mukmin, bahkan mereka juga telah mengusir rasul dan kaum mukmin dari kampung halaman mereka tanpa kesalahan apa pun selain karena mereka beriman kepada Allah Tuhan mereka yang semua makhluk wajib beribadah kepada-Nya karena Dia telah mengurus mereka dan melimpahkan kepada mereka nikmat-nikmat yang tampak maupun yang tersembunyi.
[7] Yaitu agama Islam dan Al Qur’an.
[8] Dari Mekah.
[9] Yakni jika keluarmu dengan maksud berjihad di jalan Allah untuk meninggikan kalimat Allah dan mencari keridhaan-Nya, maka kerjakanlah konsekwensinya yaitu berwala’ kepada wali-wali Allah dan memusuhi musuh-musuh-Nya; yang demikian merupakan jihad fii sabilillah dan ia termasuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh keridhaan-Nya.
[10] Yakni bagaimana kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) kepada orang-orang kafir, karena rasa kasih sayang kepada mereka padahal kamu mengetahui bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu tampakkan. Perkara itu, meskipun tersembunyi bagi kaum mukmin, namun tidaklah tersembunyi bagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan Dia akan memberikan balasan kepada hamba-hamba-Nya sesuai yang Dia ketahui dari mereka, baik atau buruk.
[11] Yani memberikan wala’ kepada orang-orang kafir setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala memperingatkannya.
[12] Hal itu, karena dia telah menempuh jalan yang menyelisihi syara’, akal dan jalan manusia sejati.

2. [13]Jika mereka menangkapmu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu lalu melepaskan tangan[14] dan lidahnya kepadamu[15] untuk menyakiti dan mereka ingin agar kamu (kembali) kafir[16].

[13] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan betapa besarnya permusuhan mereka untuk mendorong kaum mukmin memusuhi mereka.
[14] Dengan memukulmu atau membunuhmu atau melakukan perbuatan lainnya untuk menyakitimu.
[15] Dengan mencaci-makimu.
[16] Inilah maksud utama mereka.

3. Kaum kerabatmu dan anak-anakmu[17] tidak akan bermanfaat bagimu pada hari Kiamat[18]. Dia akan memisahkan antara kamu[19]. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan[20].

[17] Yang masih musyrik.
[18] Untuk menolak azab-Nya pada hari Kiamat.
[19] Dengan mereka.
[20] Oleh karena itu, Dia memperingatkan kamu untuk tidak berwala’ kepada orang-orang kafir, dimana berwala’ kepada mereka dapat memberikan madharrat (kerugian) kepadamu.

------------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar