# Teori Prof. George Ganauw
Kata profesor tersebut: “Suatu saat matahari kehabisan bahan bakarnya. Tiba-tiba sejenak sangat terang sekali yang tidak lama, lalu berangsur-angsur turun sampai 0° Celcius.” Sehingga nanti seluruh tata surya akan gelap gulita; sebagaimana ada tanda-tanda kiamat yang matahari tidak muncul berhari-hari. Bahwa panas matahari adalah karena terjadi reaksi kimia dan ada pemecahan unsur-unsur tertentu. Sekitar tahun 1973, para ahli astronom menyelidiki adanya bintik-bintik hitam pada matahari. Kiranya bintik-bintik itu berasal dari unsur yang sudah padam. Yang di SMA sudah belajar Kimia atau Astronomi pasti sangat memahami hal ini, bahwa matahari merupakan bintang yang masih hidup, sedangkan bintang mati yang tidak bersinar lagi itu sudah banyak. Sesuai dengan firman Allah:
“Manakala matahari sudah TIDAK BERSINAR.” (Q.S. At-Takwiir: 01)
# Teori Edwin P. Hubble
Dalam bukunya yang terkenal (1925) “The Expanding Universe” (alam semesta gerakannya mengembang). Dengan pengembangan tersebut, galaksi akan meledak pada saatnya tiba. Seperti dicontohkan: manakala anak kecil meniup balon yang terus ditiup, lama kelamaan pengembangan itu akan meledak. Demikian pula galaksi, dan langit yang memuat galaksi akan meledak hancur. Sesuai dengan firman Allah, Adz-Dzariyaat: 47.
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar MELUASKANNYA.” (Q.S. Adz-Dzariyaat: 47)
“Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan kebenaran dan WAKTU YANG SUDAH DITENTUKAN.” (Q.S. Ar-Ruum: 8)
# Teori JH. Van Wingen
Sesuai pendapat Ganauw dan Edwin P. Hubble; manakala pengembangan itu sampai pada batas maksimum, maka meletuslah alam beserta bagian-bagiannya; langit yang besar akan pecah, bintang-bintang pecah, demikian pula seluruh alam semesta akan musnah hancur. Sesuai dengan firman Allah:
“... dan apabila LANGIT DILENYAPKAN.” (Q.S. At-Takwiir: 01)
“(Yaitu) pada hari KAMI GULUNG LANGIT seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami lah yang akan melaksanakannya.” (Q.S. Al-Anbiya: 104)
“... padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan LANGIT DIGULUNG dengan tangan kanan-Nya.” (Q.S. Az-Zumar: 67)
*Jika langit saja digulung, galaksi dan bintang-bintang akan hancur, maka sudah semesthinya bumi hancur layaknya debu.
“Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (Q.S. Al-Qari’ah: 3-5)
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah: "Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya.” (Q.S. Thahaaa: 105)
“... dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya. maka jadilah dia debu yang beterbangan.” (Q.S. Al-Waqi’ah: 5-6)
“... dan apabila gunung-gunung telah dihancurkan menjadi debu.” (Q.S. Al-Mursalat: 10)
-semoga
kita semakin meyakini akan
datangnya Hari Kebangkitan-
Selanjutnya: KIAMAT DALAM SAINS & ISLAM (Bagian 2)
Blog yang berisi pilihan ilmu-ilmu terbaik yang sangat penting dan mendasar NAMUN jarang diketahui umum, sehingga diharapkan dapat merevolusi kita sebagai umat muslim. Dirangkaikan dalam program: [1] Revolusi pandangan (iman), [2] Revolusi amal, (serta revolusi kebahagiaan nantinya). Harap baca 'Pengantar' dan selamat mengikuti...^^
Senin, 20 Juni 2011
Jumat, 17 Juni 2011
JANGAN TERLALU YAKIN KITA TERBEBAS DARI NERAKA (Bagian 2; Inti)
Lanjutan dari tulisan sebelumnya: JANGAN TERLALU YAKIN KITA TERBEBAS DARI NERAKA (Bagian 1)
-Muhasabah-
-untuk memotivasi amal, muhasabah, dan kehati-hatian demi perbaikan kualitas amal-
-Muhasabah-
Nabi Musa AS suatu
hari sedang berjalan-jalan melihat keadaan umatnya. Nabi Musa AS melihat
seseorang sedang beribadah. Umur orang itu lebih dari 500 tahun. Orang itu
adalah seorang yang ahli ibadah. Nabi
Musa AS kemudian menyapa dan mendekatinya. Setelah berbicara sejenak ahli
ibadah itu bertanya kepada Nabi Musa AS, “Wahai
Musa AS aku telah beribadah kepada Allah SWT selama 350 tahun ‘tanpa’ melakukan perbuatan dosa. Di manakah Allah SWT
akan meletakkanku di Surga-Nya? Tolong sampaikan pertanyaanku ini kepada Allah”.
Nabi Musa AS mengabulkan permintaan orang itu. Nabi Musa AS kemudian bermunajat
memohon kepada Allah SWT agar Allah SWT memberitahukan kepadanya di mana umatnya
ini akan ditempatkan di akhirat kelak. Allah SWT berfirman, "Wahai Musa (AS) sampaikanlah kepadanya
bahwa Aku akan meletakkannya di dasar neraka-Ku yang paling dalam".
Nabi Musa AS kemudian mengabarkan kepada orang tersebut apa yang telah
difirmankan Allah SWT kepadanya. Ahli ibadah itu terkejut. Dengan perasaan
sedih ia beranjak dari hadapan Nabi Musa AS....
(diambil bagian dari 1001 Kisah Teladan)
Hikmah:
Ahli ibadah 350 tahun
namun akan diletakkan Allah di neraka? Sungguh sulit dibayangkan.
Meskipun pada akhir kisah ‘karena’ suatu sikap dan perbuatannya, Allah kagum
dan kemudian berfirman akan menempatkannya di surga yang tinggi. Oleh
karenanya, kita sebagai umat muslim harus berhati-hati dan waspada dan menjauhkan diri dari sifat ujub (bangga diri) meskipun sebanyak apapun amalan yang telah dilakukan dan
seshalih apapun ia. Hal ini
menunjukkan juga bahwa meskipun banyaknya amalan yang dilakukan seseorang belum
tentu ia mendapatkan rahmat Allah.
Sesungguhnya Abu Hurairah berkata, ia
mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Amal
seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” “Engkau juga tidak
wahai Rasulullah?”, tanya sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua
hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Para ulama menjelaskan hadits di atas yaitu
bahwa seorang tidak bisa membayar (menebus) surga Allah hanya dengan amal
perbuatannya. Karena amalannya terdapat kekurangan, sementara surga Allah
terlalu sempurna dan terlalu agung untuk menjadi balasannya. Hanya dengan
rahmat Allah saja seorang bisa tinggal abadi di surga-Nya yang luas.
Penjelasan yang perlu digarisbawahi adalah
dalam beberapa ayat Al-Quran dijelaskan bahwa rahmat Allah hanya dapat diperoleh
dengan beribadah dan beramal shalih. Meskipun ada juga pendapat yang menyatakan
bahwa seseorang dapat melakukan amal shalih adalah juga karena hidayah dan
rahmat Allah. Allah menetapkan segala sesuatu dengan sebab dan akibat. Disamping
itu, yang perlu digarisbawahi selanjutnya adalah dalam beberapa dalil yang
shahih juga dijelaskan bahwa amalan lah yang akan menentukan tinggi
rendahnya tingkatan surga. Dengan demikian, rahmat Allah dan amal shalih merupakan
dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan keduanya harus kita upayakan semaksimal
mungkin.
Persoalannya adalah kita tidak tahu amalan
yang mana yang menjadikan Allah ridha kepada kita sehingga mencurahkan
rahmat-Nya??
Oleh karena itu, rumusan berikut akan terus menyemangati kita
semua untuk menyiapkan ‘bekal’ akhirat dan
amalan-amalan ikhlas terbaik yang akan mengundang datangnya rahmat Allah. Jangan terlalu
yakin kita terbebas dari azab neraka, yang menjadi renungan
adalah:
1. Muhasabah
seberapa banyak dosa kita?
(Manusia
akhir zaman seperti kita ini tentulah banyak dosanya, baik yang “tidak” kita sadari maupun yang disadari.
Bahkan tidak jarang ‘diam’ kita pun
berdosa/menggoreskan luka pada hati seseorang karena dianggap tidak peduli. Diamnya
kita pun kadang masih berprasangka buruk. Makna diam di sini dapat berarti diamnya
mulut, tangan, sifat, sikap, tubuh [tindakan], atau kombinasinya. Maka akan sebanyak apalagi dosa dengan ‘tidak diam’-nya kita?!)
2. Jika
kita merasa pahala > dosa, seberapa ikhlas dan murnikah amal kita?
(Cukup jelas,
namun perlu kita renungkan bahwa “kita
bilang/merasa kita ikhlas belum tentu ikhlas di sisi Allah”.)
3. Jika
kita pun
yakin merasa sudah ikhlas, adakah perbuatan kita yang menghalangi
sampainya amal kepada-Nya?
(contoh: Hadits menyatakan bahwa selama 40 hari
amal-amalan kebaikan akan
tertolak
hanya karena ada ‘sesuap’ makanan haram masuk ke perut seseorang.)
(Perhatikan hal
ini: “Para shahabat yang mulia dan para
tabi’in yang agung. Mereka melakukan apa yang telah dilakukan para pendahulu
mereka, tetapi hati mereka merasa KHAWATIR jika ibadah mereka tidak diterima.”
Maka selanjutnya berhati-hatilah bahwa ada banyak hal-hal yang menyebabkan amal
kita tidak sampai kepada Allah.)
4. Jika
kita merasa sudah ikhlas dan yakin tidak ada perbuatan kita yang menghalangi
sampainya amal kepada Allah, maka seberapa banyak orang yang pernah sakit hati/tersinggung
karena kita dan tidak seratus persen memaafkan kita?
(contoh: hadits yang shahih telah
menjelaskan bahwa jika seseorang berbuat zalim demikian;
pada hari Kiamat kebaikan/pahalanya akan diberikan kepada orang ini dan itu.
Jika kebaikannya sudah habis, kesalahan/dosa orang yang disakiti akan
ditimpakan balik kepadanya. “Sungguh
sial dan merugi”. Hingga disebut dalam hadits lain
bahwa makhluk yang pailit dan paling sial sejagad raya adalah orang
yang masuk surga, namun karena kedzalimannya
terlampau banyak (over) ia dilempar
ke neraka! Itu namanya ‘sial di atas sial di antara orang-orang sial’)
5. Kita
semua pasti sudah berhenti di poin nomor empat atau sebelum itu.
Nabi saw. bersabda, "Sesungguhnya ada diantara kalian
seseorang yang melakukan perbuatan orang penguhi Surga, sehingga jarak antara
dia dengan Surga tinggal sehasta, tetapi ketentuan (Allah) telah mendahuluinya;
maka dia pun melakukan (di penghujung hayatnya) perbuatan orang penghuni neraka
lalu dia memasukinya. Dan sesungguhnya ada di antara kalian seseorang yang melakukan
perbuatan orang penghuni neraka, sehingga jarak antara dia dengan neraka
tinggal sehasta, tetapi ketentuan (Allah) telah mendahuluinya; maka dia
melakukan (di penghujung hayatnya) perbuatan orang penguhi Surga lalu dia
memasukinya." (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)
Maka, untuk poin
terakhir ini, jadikanlah ia untuk selalu memohon husnul khatimah dengan penuh pengharapan, perbanyak istighfar usai
mengerjakan shalat maupun di luar shalat, jaga dan perbarui iman kita dengan
dzikir, serta tidak pernah merasa puas apalagi
bangga diri terhadap semua amal
yang telah kita
lakukan.
Simpulan:
Tentunya selain kita
memiliki dosa kepada Allah, kita pasti punya kesalahan terhadap
orang lain. Apakah ada jaminan mereka memaafkan kita meskipun kita sudah minta
maaf? Tidak ada pula jaminan pasti untuk kita
terbebas dari siksa neraka.
Oleh karena itu, teruslah “cari amal dan bekal
sebanyak-banyaknya” dengan memperhatikan poin
1-5, paling tidak untuk menebus
dosa-dosa kita.
“Sesungguhnya
perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (Q.S. Huud: 114)
Rabu, 15 Juni 2011
SEANDAINYA MANUSIA TAHU...
-Masih dalam rangkaian muhasabah, karena penanaman keinsyafan memang memerlukan proses :)-
-untuk menguatkan pandangan akan dahsyatnya kehidupan sesungguhnya
yang sama sekali tidak terbayangkan di kehidupan dunia ini,
dan sebagai
pelajaran bagi siapa saja yang tidak menginginkan penyesalan di hari yang telah
dijanjikan-
Hadits dalam Kitab Hadits
Riyadhus Shalihin yang
mengandung makna sangat dalam bagi siapa saja yang merenungi:
... FirmanNya: "Apakah
yang mereka minta itu?" Dijawab: "Mereka meminta surga."
FirmanNya: "Adakah mereka pernah melihat surga?" Dijawab:
"Tidak, demi Allah, ya Tuhan, mereka tidak pernah melihat surga itu."
FirmanNya: "Bagaimanakah andaikata mereka dapat melihatnya?" Dijawab:
"ANDAIKATA MEREKA PERNAH MELIHATNYA, tentulah mereka akan lebih lobanya
pada surga itu, lebih sangat mencarinya dan lebih besar keinginan mereka pada surga
tadi." FirmanNya: "Dari apakah mereka memohonkan perlindungan?"
Dijawab: "Mereka mohon perlindungan daripada neraka." FirmanNya:
"Adakah mereka pernah melihat neraka itu?" Dijawab: "Tidak, demi
Allah mereka tidak pernah melihatnya." FirmanNya: "Bagaimanakah
andaikata mereka pernah melihatnya?" Dijawab: "ANDAIKATA MEREKA
PERNAH MELIHATNYA, tentulah mereka akan lebih sangat larinya dan lebih sangat
takutnya pada neraka itu." .... (penggalan
Hadits Muttafaq ‘alaih, shahih)
Abu Hurairah ra. meriwayatkan
bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Jika saja seorang mukmin mengetahui
SIKSAAN ALLAH, TIDAK ADA seorang pun (dari mereka) yang berambisi ke surga-Nya.
Dan
jika saja orang kafir tahu rahmat Allah, tidak seorang pun dari mereka yang
putus asa terhadap surga-Nya."
(H.R. Muslim, shahih)
Hal ini memberi isyarat bahwa penting bagi seorang muslim
untuk mengetahui gambaran kehidupan akhirat; siksa Allah (Neraka) untuk
mengingatkannya dan rahmat Allah (Surga) sebagai motivator dalam beramal.
Karena semua manusia hanya akan berakhir di salah satu atau keduanya. Allah
sendiri yang memberikan peringatan berupa ancaman neraka dan kabar gembira
berupa surga dari banyak ayat-ayat Al-Quran, maka selayaknya kita sebagai manusia yang beriman merasa terpanggil.
Kisah seseorang yang mengalami mimpi berada dalam neraka
yang hanya dengan mimpinya dapat membakar kulit tubuhnya dan dengannya kemudian
dapat membuat perubahan besar-besaran dalam hidupnya, kisah ini dapat kita
jadikan pelajaran yang amat berharga. Gambaran kerasnya
siksa tidak akan bisa digambarkan seutuhnya
karena hal itu di luar batas akal manusia. Namun, beberapa dalil naqli yang ada
hanyalah dapat 'sedikit' menggambarkan itu. Namun, kiranya itu sudah cukup
memberi 'peringatan' bagi manusia. Bukankah Al-Quran diturunkan dan
Nabi Muhammad saw. diutus untuk memberi peringatan?
“Al Qur'an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.” (38:87,
ayat dengan makna seperti ini sangat banyak kita temui,
misalnya: 6:19, 6:90, 14:52, 20:99, 21:24, 25:1, 68:52, 74:54,
81:27)
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan
sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” (17:105, ayat dengan makna seperti ini pun lebih
banyak lagi)
=>
SANGAT KERAS SIKSANYA, maka seseorang dapat hanya akan beramal untuk lebih berlindung dari neraka
dan TIDAK TERLALU BERAMBISI KE
SURGA! (Tanpa surga pun, baginya terbebas dari siksa sekeras itu adalah
keberuntungan besar).
Tulisan
ini sengaja disampaikan untuk penguatan & penyempurnaan 5 judul tulisan sebelumnya:
“Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat
pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang
beriman, yang mengerjakan amal shaleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan
yang baik.”
(Al-Kahfi: 2)
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)
